Saatnya Mengambil Program Beasiswa

 

Senada yang disampaikan oleh konsultan HR Wiwiek Wijanarti, bahwa program beasiswa pendidikan atau pelatihan itu merupakan benefit yang diberikan oleh perusahaan untuk karyawannya. “Pada umumnya perusahaan memberikan program ini untuk karyawan yang dianggap berprestasi, maupun sebagai prasyarat untuk menduduki level yang lebih tinggi,” ujarnya kepada HC akhir bulan lalu.

Wiwiek mengatakan, beberapa perusahaan kini telah menerapkan program benefit secara terstruktur, terutama pada perusahaan yang telah mapan. Misalnya saja pada pemberian program pelatihan. Menurutnya program ini biasa dilaksanakan perusahaan sejak dari awal karyawan itu gabung dengan program management trainee. “Pada program ini perusahaan menyelenggarakan inhouse training, biasanya selama satu tahun karyawan baru diberi pelatihan sekaligus on the job training, mereka diberi tugas membuat makalah dan menjalani sejumlah test,” paparnya.

Dilanjutkan Wiwiek, karyawan akan terus mendapatkan program pelatihan secara bertahap, “Jika karyawan berhasil melalui tahap sebelumnya, barulah yang bersangkutan diangkat jadi karyawan tetap, dan untuk selanjutnya sudah ada program-program pelatihan terstruktur lainnya yang harus diikuti pada tahapan tertentu sebelum karyawan menempati level yang lebih tinggi,” kata lulusan psikolog UI pada 1990 silam ini.

Sementara itu di Agung Podomoro Group (APG), perusahaan pengembang terdepan di Jakarta saat ini, yang telah berhasil berkarya selama 37 tahun di dunia usaha properti. Dikatakan oleh Dharma Mitra Sigamani selaku HR-Performance Senior Manager APG, bahwa perusahaan yang kini dinahkodai oleh Trihatma Kusuma Haliman ini sedang berkembang pesat.

Maka itu menurut Dharma, seluruh sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki APG harus ditingkatkan kompetensinya untuk mengikuti laju dinamis perusahaan, agar terdapat keseimbangan di tubuh organisasi. Dalam hal ini HR–Direktorat APG mengambil langkah untuk memberikan beasiswa pendidikan property bagi karyawannya, seperti Certified Property Analyst (CPA) dan beasiswa-beasiswa lain yang bersifat teknis dalam bentuk benchmarking. Tentunya yang berkaitan dengan dunia konstruksi, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Sedangkan dalam hal pelatihan, untuk meningkatkan kompetensi, kami memprioritaskan karyawan yang segera akan dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi atau karyawan yang membutuhkan skill tertentu dalam tuntutan pekerjaannya,” kata pria kelahiran 11 Mei 1975 silam ini. Dharma pun mengatakan bahwa program tersebut sudah pernah dilakukan sebelum krisis moneter pada 1997 lalu. Kemudian intensitasnya meningkat akhir-akhir ini, karena APG membutuhkan tenaga-tenaga handal untuk dapat dijadikan kader-kader pemimpin dari dalam grup sendiri.

Selanjutnya mengenai kerjasama dengan pihak lain, dalam hal menerapkan program benefit beasiswa pendidikan dan pelatihan tersebut. Lulusan sarjana ekonomi di STIE IBII ini menegaskan belum adanya kerjasama secara tertulis antara manajemen APG dengan pihak universitas misalnya, untuk pemberian beasiswa pendidikan bagi karyawan APG. Melainkan pihak perusahaan akan memberikan rekomendasi kepada karyawannya untuk memilih lembaga-lembaga yang sudah teruji mutu dan kurikulumnya.

Lantas mengenai hal ini, Dharma pun berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan subsidi pendidikan bagi karyawan di perusahaan. “Saya menyayangkan bahwa pemerintah Indonesia tidak berbuat banyak untuk memberikan subsidi pendidikan kepada karyawan-karyawan perusahaan dalam program ikut mencerdaskan bangsa. Jadi kadang-kadang perusahaan terhambat untuk mengikutkan banyak karyawan untuk mengikuti program-program di universitas yang relatif mahal sekali dibanding negara yang kita anggap miskin, seperti di India misalnya,” ucap Dharma dengan nada keprihatinannya. Lulusan S2 di Edinburgh Business School, Scotlandia, United Kingdom ini pun mengungkapkan betapa pentingnya program

beasiswa pendidikan dan pelatihan itu bagi karyawan. “Menurut saya sangat penting,sudah saatnya perusahaan concern dalam menyisihkan budget untuk beasiswa pendidikan atau pelatihan bagi karyawan, selain dapat meningkatkan kinerja, dapat juga meningkatkan image perusahaan dan juga sebagai salah satu social responsibility perusahaan untuk mencerdaskan bangsa kita,” ungkapnya kepada HC akhir bulan lalu.

Nah untuk mendapatkan program beasiswa pendidikan dan pelatihan itu. Adapun syarat atau kriteria yang harus dijalankan oleh karyawan APG. “Syarat untuk mendapatkan tunjangan program kompensasi tersebut biasanya dilakukan melalui analisa mendalam dari direktorat HR dan pimpinan direktorat terkait dan melihat performance dari karyawan bersangkutan dalam kurun waktu minimal dua tahun,” ujar Dharma.

Dijelaskan lagi bahwa APG menganut performance based-cash bonus, jadi bonus tahunan diberikan dalam bentuk cash dan tidak dapat ditukar ke beasiswa pendidikan. “Jadi pada dasarnya kita memotivasi karyawan dengan memberikan cash and non-cash benefit dalam bentuk beasiswa yang merupakan reward yang diberikan oleh perusahaan,” kata pria yang gemar olahraga tae kwon do ini.

Wiwiek Wijanarti pun memberikan komentar yang sama mengenai hal itu, bahwa beasiswa pendidikan dan pelatihan tersebut merupakan benefit tambahan yang diberikan perusahaan bagi karyawan. Bukan sebagai pengganti kompensasi tunai, “Karena dengan memberikan pelatihan ini ada keuntungan yang didapat perusahaan, yaitu dapat mempertahankan karyawan yang memiliki prestasi kerja baik, dan perusahaan memiliki karyawan yang lebih ahli dibidangnya, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi perusahaan,” ungkap praktisi HR ini.

Sementara itu dalam pelaksanaan program benefit beasiswa pendidikan dan pelatihan yang diterapkan oleh APG, Dharma mengatakan selama ini selalu mendapatkan respon positif dari para karyawannya. “Implementasi program cukup disambut baik oleh karyawan dengan ditandai dengan cukup banyak karyawan yang mengajukan permohonan beasiswa pelatihan dibidang property di unit-unit usaha APG ,” katanya.

Maka yang paling penting menurut Dharma dalam memberikan program beasiswa pendidikan dan pelatihan itu harus adanya sistem direct and inderect compensation. Sebab menurutnya dengan menerapkan sistem tersebut, diharapkan karyawan merasa terpenuhi benefitnya baik secara financial maupun non financial. “Dalam pengalaman saya benefit juga harus dibedakan berdasarkan performance, effort dan seniority dari karyawan itu sendiri,” pungkasnya.

alam upaya menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan potensi dan kompetensi karyawan secara optimal. Tiap perusahaan merancang berbagai program benefit yang dikembangkan, diantaranya adalah program beasiswa pelatihan dan pendidikan. Hal itu dilakukan manajemen demi meningkatkan kualitas karyawannya, agar dapat berkembang bersama perusahaan.