Saatnya Memberikan THR

Sesuai yang disampaikan oleh Marcella Siddidjaja selaku HR Group Manager Jatis kepada HC awal bulan lalu, “Gaji bulanan biasanya habis untuk kebutuhan rutin bulanan karyawan. Adanya kebijakan THR ini, sungguh membantu, sehingga secara tidak langsung karyawan bisa mempergunakan uang ini untuk merayakan hari raya bersama keluarganya dengan bahagia,” tuturnya.

Hal senada pun juga dikatakan oleh HRD Manager PT Topjaya Antariksa Electronics, Nurdin Setiawan, bahwa perusahan semestinya wajib memberikan THR tanpa memperhatikan kondisi perusahaan, apakah mampu atau tidak. “Artinya setiap karyawan sudah dapat dipastikan akan menerima THR setiap tahunnya yang besarnya disesuaikan dengan lamanya masa kerja dan besarnya komponen upah, jadi tidak lagi melihat apakah karyawan itu berprestasi atau tidak,” katanya tegas.

Bagi Marcella dan Nurdin, pemberian THR di perusahaannya sudah diatas ketentuan normatif yang berlaku, sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-4 tahun 1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja di Perusahaan. Dijelaskan Marcella, THR di Jatis Group diberikan sebagai berikut, 1. Satu bulan gross salary untuk karyawan yang sudah bekerja lebih dari satu tahun. 2. Prorata untuk karyawan yang baru (dengan masa kerja minimal tiga bulan sampai dengan di bawah satu tahun).

“Program pemberian THR seperti ini sudah lama diterapkan dan biasanya diberikan dua minggu sebelum hari raya lebaran. Lebih cepat seminggu lah dari kebijakan pemerintah,” jelas Marcella. Ditambahkan, jumlah karyawannya saat ini (kontrak dan permanent) lebih dari 500 karyawan. “Asalkan sudah lebih dari tiga bulan bekerja, THR itu diberikan,” lanjut lulusan psikolog Universitas Indonesia ini.

Sementara di PT Topjaya Antariksa Electronics, perusahaan manufacture yang memproduksi refrigerator dan freezer merk Toshiba. Nurdin memaparkan seluruh karyawan di perusahaannyan yang berjumlah 470 karyawan, dari level terendah (worker) sampai level tertinggi (Direktur) itu semua mendapatkan THR. Program tersebut terlaksana sudah sebelas tahun, sejak 1996 silam. “Biasanya THR diberikan empat belas hari sebelum Hari Raya,” ucapnya.

Menurut Nurdin, sampai sejauh ini implementasi program THR cukup dapat diterima oleh mayoritas karyawan di perusahaannya, “Walaupun ada saja yang merasa kurang puas terutama karyawan kontrak yang merasa belum sesuai dengan keinginan mereka dan itu adalah hal yang wajar,” katanya. Namun demikian, pria kelahiran Purwakarta, 4 Agustus 1970 ini juga mengutarakan apa yang sudah dilakukan oleh perusahaannya sudah cukup mengakomodir baik kepentingan karyawan maupun kepentingan perusahaan.

Sedangkan mengenai permasalahan yang kerap terjadi pada pemberian THR itu, Marcella mengungkapkannya, “Masalah yang timbulnya biasanya adalah pada waktu merekrut dan tanggal masuk karyawan baru. Dan Kami biasanya mengingatkan orang di bisnis atau calon karyawan untuk mempertimbangkan masalah THR untuk hiring di masa-masa itu untuk mengurangi issue yang mungkin timbul kemudian,” ungkap Ibu dua anak ini.

Bagi Karyawan
KontrakBaik Nurdin maupun Marcella, keduanya menegaskan bahwa para karyawan kontrak di tempat mereka bekerja, juga mendapatkan Tunjangan Hari Raya. “Ya, karyawan kontrak dengan masa kerja minimal tiga bulan akan mendapatkan THR, prorata sesuai masa kerjanya,” ujar Marcella. Sementara itu Nurdin menjelaskannya dengan dua kriteria.

Menurut Nurdin, kriteria pertama dapat dilaksanakan berdasarakan ketentuan normatif, sesuai Perjanjian Kerja Bersama (PKB), yang dijelaskan sebagai berikut : Bagi pekerja yang mengikatkan diri melalui Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau Kontrak, pemberian THR berdasarkan perhitungan masa kerja yang tertera dalam perjanjian kerja terakhir dan tidak digabungkan dengan perjanjian kerja sebelumnya.

Kriteria kedua, sesuai dengan Kebijakan Perusahaan, Nurdin menerangkan ada dua altenatif yang dapat dilakukan. Alternatif pertama, sebagai berikut :

(a) Pekerja dengan masa kerja 3 (tiga) bulan atau lebih tetapi kurang dari 1 (satu) tahun besarnya tunjangan hari raya keagamaan diperhitungkan secara proposional/prorata ;
Contoh : Pekerja dengan masa kerja 6 (enam) bulan THR = 6/12 x Upah satu bulan.
(b) Pekerja dengan masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih sejak kontrak pertama, besarnya tunjangan hari raya keagamaan adalah 1 (satu) kali upah sebulan;

Sementara alternatif kedua, sebagai berikut :
(a) Masa Kerja > 1 tahun
– Kontrak terakhir >6 bln <1 th : Proporsional
– Kontrak terakhir 1 tahun : 1 (satu) kali upah sebulan
– kontrak terakhir <6 bln : 50% kali upah sebulan
(b) Masa Kerja < 1 tahun
– Kontrak terakhir >3 bln <1 th : Proporsional
– Kontrak terakhir 1 tahun : 1 (satu) kali upah sebulan
– kontrak terakhir <3 bln : Tidak dapat THR

Kata Nurdin, ada pertimbangan pemberian THR kepada karyawan kontrak, yaitu untuk kriteria pertama, diberikan dalam kondisi performansi perusahaan tidak mencapai target yang ditentukan perusahaan dan pemberian THR sesuai ketentuan normatif Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Sementara untuk kriteria kedua, diberikan dalam kondisi performansi perusahaan melebihi target yang ditentukan perusahaan, dan diberikan dalam kondisi performansi perusahaan mencapai target yang ditentukan perusahaan. (ang)