Reimbursement Biaya Telepon

Pemberian benefit ditujukan untuk menjamin kesejahteraan karyawan. Termasuk salah satunya adalah pemberian program benefit biaya telepon atau komunikasi. Saat ini banyak perusahaan telah menjalankan program manfaat dasar telekomunikasi tersebut. Sebagian pelaksanaannya lebih didasarkan sebagai kebutuhan si karyawan dalam menunjang tugas pekerjaannya dan untuk posisi jabatan tertentu.

Sesuai yang diutarakan oleh Human Resource and General Affair Officer PT Astellas Pharma Indonesia, Iin Sri Marsutji kepada HC awal bulan lalu. “Sebenarya tujuan perusahaan memberikan benefit telekomunikasi itu untuk kesejahteraan karyawan. Apalagi bagi mereka (karyawan) yang bekerja di lapangan, kan mereka nggak terlepas dari alat komunikasi. Nggak semestinya mereka telepon dengan biaya mereka sendiri, padahal untuk keperluan kantor. Ya harus diganti dong,” katanya saat ditemui di kantornya, Wisma Kyoei Prince Lt 11, Jl Jenderal Sudirman Kav 3.

Wanita kelahiran Semarang, 27 Oktober 1981 ini mengatakan, program benefit telekomunikasi yang diterapkan PT Astellas Pharma Indonesia, itu diberikan khusus untuk karyawan yang berada di departemen sales and marketing. Menurut Iin dasar pertimbangannya adalah mereka lebih banyak melakukan aktifitas tugas kantornya di lapangan. Dalam hal ini misalnya karyawan yang bertugas sebagai medical representative. Karena mereka lebih banyak berkomunikasi dengan klien dan beraktivitas di luar kantor

“Mereka (medical representative) kan harus melakukan kunjungan ke dokter, apotek dan rumah sakit. Kalau misalkan kita tidak sediakan untuk benefit telepon itu, akan mempersulit kerja mereka juga. Karena nungguin dokter itu kan nggak sebentar ya, itu kan lama. Bayangkan kalau misalkan tiba-tiba mereka kehabisan pulsa, harus ke wartel dulu, malah akan jadi repot. Makanya perusahaan memberikan manfaat itu kepada mereka,” ujar lulusan sarjana psikologi Universitas Katolik Soegijapranata ini. Ia juga menerangkan PT Astellas Pharma Indonesia merupakan perusahan farmasi multinasional dari Jepang, yang memiliki 60 karyawan.

Dijelaskannya, program benefit telekomunikasi itu berupa penggantian biaya telepon yang telah dikeluarkan oleh karyawan, tentunya dengan batasan nilai rupiah tertentu. “Bentuknya reimbursement pemakaian biaya telepon, tentunya ada platformnya sendiri-sendiri ya, untuk posisi jabatan tertentu sekian rupiah,” ucap Iin. Ditambahkan lagi bahwa benefit komunikasi ini juga didasarkan pada kebutuhan tugas pekerjaan karyawan. Menurutnya tujuan benefit itu adalah untuk mempermudah karyawan dalam berkomunikasi dengan klien sehingga kepentingan perusahaan dapat tercapai.

Selama setahun berjalan pelaksanaan benefit komunikasi di PT Astellas Pharma Indonesia, sejak Juni 2006 lalu. Iin mengungkapkan kebijakan benefit tersebut terus dilakukan perbaikan sistem penerapannya. Dalam hal ini untuk menghemat biaya telepon. Misalnya saat ini diberlakukan paket jatah bagi karyawan yang bertugas sebagai medical representative. “Untuk yang medical representative ini sekarang mulai diberlakukan paket jatah, jadi kita nggak mau tahu rincin pemakaian biaya telepon dia, tapi kita kasih nih sekian rupiah yang dimasukan ke gaji dia,” kata wanita yang hobi membaca buku ini.

Sedangkan bagi karyawan yang juga berada di departemen sales and marketing, diantaranya sales supervisor, assistant product manager, product manager dan sales manager itu tetap penggantian biaya teleponnya melalui reimbursement. Selain itu Iin memaparkan bahwa program benefit komunikasi itu juga diberikan kepada karyawan yang di luar departemen sales and marketing, namun hanya pada level manager divisi saja.

Menurut Iin selama ini pelaksanaan program manfaat dasar telekomunikasi yang diterapkan di perusahaannya, diakui masih belum memuaskan sebagian karyawan. “Sejauh ini dengan adanya kebijakan benefit komunikasi itu dapat membantu tugas karyawan. Tapi memang belum terlalu memuaskan banyak karyawan, karena karyawan pastinya kan ingin tunjangannya lebih,” paparnya.

Harapannya, dengan adanya berbagai tunjangan atau manfaat yang diberikan dari perusahaan kepada karyawan, termasuk benefit komunikasi itu tentunya tidak digunakan secara sia-sia, namun dapat bermanfaat. “Diharapkan karyawan itu memaksimalkan apa yang sudah diberikan oleh perusahaan, dan dapat memaksimalkan juga kinerja mereka (karyawan),” pinta Iin.

Untuk manajer puncak

Sementara itu di Bank Danamon dalam menerapkan program benefit komunikasi, yaitu adanya pemberian fasilitas telepon selular berupa penggantian biaya pemakaian bulanan sampai jumlah tertentu. Sistem penerapannya berupa reimbursement kepada karyawan. Sementara untuk perangkat teleponnya sendiri tidak diganti ataupun disubsidi.

Saat ini di Bank Danamon hanya karyawan di tingkat manajemen puncak yang menerima manfaat telepon selular tersebut. Menurut Johannes K Laksmana selaku Compensation and Benefit Head Bank Danamaon mengatakan tujuan utama pemberian benefit komunikasi itu sebenarnya adalah pembedaan fasilitas dengan karyawan tingkat manajemen senior misalnya, yang tidak mendapatkan fasilitas telepon selular. “Jadi intinya fasilitas ini melekat pada peringkat jabatan atau grade,” katanya kepada HC saat ditemui di kantornya akhir bulan lalu.

Namun disampaikan lulusan sarjana ilmu matematika dari Universitas Michigan ini, Bank Danamon sedang mempertimbangkan untuk memperluas fasilitas telepon selular kepada karyawan di tingkat manajemen senior dan madya, khususnya karyawan di bagian sales. Dengan kata lain menurutnya pemberian fasilitas telepon selular itu adalah suatu keputusan bisnis guna mendukung keberhasilan bisnis itu sendiri.

“Di luar manajemen puncak, seorang karyawan dapat dipertimbangkan untuk menerima fasilitas telepon selular semata-mata atas keputusan bisnisnya. Jadi boleh dibilang kedepannya fasilitas ini akan melekat pada jabatan,” ungkap Johannes. Dilanjutkan, kata Johannes fasilitas telepon selular kini mutlak dibutuhkan dalam pekerjaan, apalagi dalam iklim persaingan yang kian kompetitif. Oleh karena itu sudah sewajarnya perusahaan memberikan fasilitas telepon selular, namun bentuk dan besarannya disesuaikan dengan filosofi dan kemampuan perusahaan.