Perlakuan Khusus Bagi Para Engineer di Wartsila

Di PT Wartsila Indonesia, engineer menjadi tulang punggung yang menghidupi perusahaan. Karena itu wajar jika para engineer memperoleh kompensasi yang lebih besar daripada karyawan di bagian lain.

Ladies, gentlement, and engineer! Begitulah sapaan ringan setengah resmi dalam setiap meeting di PT Wartsila Indonesia (WI). Yang spesial tentu saja sapaan terakhir yang memang diperuntukkan bagi para engineer. Ada apa dengan engineer?

Maklum, dari 172 karyawan WI, jumlah terbesar ditempati oleh para engineer, yakni sekitar 120-an orang. Nama WI sendiri mungkin belum banyak dikenal orang. Ini adalah perusahaan multinasional yang memberikan solusi tenaga untuk kelautan dan energi. Total karyawan Wartsila worldwide lebih kurang 17 ribu orang yang tersebar di 160 lokasi di 70 negara, berkantor pusat di Helsinki, Finlandia.

Cahyanul Uswah, GM HR, GA & IM Wartsila Indonesia menjelaskan, di negara asalnya perusahaan ini mempunyai 3 divisi, yaitu ship power, services, dan power plants. Khusus di Indonesia, WI hanya melayani services dan power plants, sedangkan ship power sedang dalam proses penjajakan.

Ia tidak menampik bahwa para engineer merupakan tulang punggung perusahaan. Bayangkan saja. Total mesin WI yang tersebar di seluruh Indonesia mencapai 1,050 engine dengan output sekitar 2.000 MW (mega-watt). Selain menjual suku cadang asli dan memberikan layanan langsung ke lapangan, WI juga memberikan kerja sama jangka panjang untuk operasi dan perbaikan mesin bagi para pelanggan. “Kami juga memberikan pelayanan rekondisi mesin untuk semua rentang mesin asli di workshop Wartsila. Di sinilah peran engineer terlihat baik di divisi field service maupun operation management,” tutur Cahyanul.

Field service, lanjutnya, adalah bentuk layanan yang dilakukan ketika ada panggilan dari klien. Sedangkan bagian operation management bersifat long term dan engineer tinggal di tempat customer. “Saat ini kami ada tiga plants project, yakni di Pomalaa-Sulawesi, Pontianak dan di Tangerang. Di Tangerang kami men-support perusahaan pembuatan benang untuk ban dan mereka sangat mengandalkan energi listrik yang stabil. Kalau listrik sering padam akan memengaruhi proses produksi, sehingga benangbenang tadi bisa langsung berantakan,” paparnya.

Di Tangerang WI menempatkan 9 karyawan, 6 tenaga kontrak, dan ditambah karyawan dari klien totalnya mencapai 25 orang. Proyek di Pomalaa lebih besar, sehingga menurunkan 26 karyawan tetap, 15 tenaga oursource ditambah karyawan dari klien sekitar 85 orang. Sementara di Pontianak ada 20 karyawan tetap, ditambah 30 karyawan outsource dan 30-an karyawan dari customer. “Kontribusi tiga plants ini sangat besar. Bagi perusahaan ini merupakan steady margin, yang berarti dari bagian ini saja perusahaan sudah bisa hidup,” katanya terbuka.

Bicara tentang sumber daya manusia (SDM) kunci di WI, Cahyanul tak segan menyebutkan engineer. Terlebih, ketersediaan engineer berpengalaman di pasar juga tidak banyak. Ia mengaku sering terkendala mendapatkan engineer yang punya jam terbang tinggi dalam bidang mesin diesel. Keberadaan mesin Wartsila yang tersebar di seluruh Indonesia hingga mencapai lebih dari 1.000 unit, lanjut Cahyanul, membuat para engineer di perusahaan ini sering bekerja overtime.

“Tidak jarang mereka baru mendarat di Jakarta dari Pontianak, belum sempat pulang ke rumah sudah disodori tiket terbang lagi ke Balikpapan. Seminggu di sana lanjut ke Lampung. Jadi, tinggi sekali mobilitas mereka,” ungkapnya seraya menambahkan, saat ini ada 11 orang ekspatriat di high-level mulai dari presdir, controller, plants manager dan technical support. Sedangkan engineer maupun superintendent-nya berasal dari SDM lokal.

Ia mensyukuri sejauh ini turnover di WI relatif kecil. Pernah terjadi, pada 2008 turnover WI mencapai 6%. “Waktu itu ada ajakan ke Afrika yang sedang booming diesel engine karena ada pembukaan lahan pertambangan baru. Kami kehilangan 8-10 orang engineer dan ini susah ditandingi karena mereka mencari salary. Bayangkan, mereka dapat 200 euro sehari,” imbuhnya sambil menambahkan, tahun lalu turnover WI mencapai 3,3%.

Menyiasati ketidakseimbangan antara populasi mesin dan ketersediaan engineer, diakui Cahyanul, memerlukan paket remunerasi yang menarik. “Kami punya dua kategori karyawan, billable dan non-billable. Untuk karyawan billable pengeluarannya kami charge ke customer, sedangkan nonbillable jatuhnya ke karyawan support seperti HR dan finance. Nah, para engineer masuk kategori billable dan sejauh ini kami memberlakukan overtime yang mengikuti aturan tenaga kerja,” tuturnya.

Langkah kedua, lanjut Cahyanul, tiap tahun pihaknya ikut salary survey yang dilakukan oleh Mercer untuk memastikan paket remunerasi WI kompetitif di pasar. “Posisi kami tidak ada yang di bawah market. Di luar paket, para engineer juga memperoleh biaya perjalanan dinas seperti allowance yang disesuaikan dengan standar perusahaan,” katanya.

Mengelola beban kerja bagi para engineer juga menjadi tantangan tersendiri. “Mulai 2008 di bagian field service telah tercapai tahap utilization rate di atas 120%. Artinya, engineer kami overtime 20% dikarenakan tuntutan pekerjaan yang dibatasi oleh deadline. Misalnya, harus selesai seminggu atau harus kelar dalam 3 hari. Memang pekerjaan itu ada saja yang masuk, sehingga biasa terjadi engineer baru datang harus pergi lagi.

Jika ingin istirahat mereka bisa minta cuti, sehingga kalau memang ada proyek yang tidak bisa ditangani dengan terpaksa ditolak,” imbuh Cahyanul.

Soal pemerataan beban kerja, sejauh ini Cahyanul mengaku tidak ada kendala. Memang tidak menutup kemungkinan pendapatan engineer satu dengan yang lain berbeda. Hal ini tergantung berapa banyak spend overtime karyawan yang bersangkutan. “Biasanya mereka tidak sendiri, tapi datang secara tim minimal 3 orang, dan tidak jarang para engineer itu diminta secara khusus oleh klien karena dianggap sudah familiar. Inilah yang ditekankan ke engineer lain untuk menyamakan skill dan kapabilitas mereka sehingga kalau ada yang berhalangan bisa di-handle oleh yang lain dengan pelayanan yang sama,” paparnya.

Cahyanul berpendapat, menangani para engineer perlu pendekatan khusus. “Satu hal yang diminta para engineer ini sebenarnya simpel, yakni sebuah perhatian. Misalnya minta dijenguk di lapangan karena mungkin bosan. Hal lain kalau ada request minta cepat direspons, atau kalau sedang ada masalah dengan keluarga mereka ada yang cepat menangani,” ujarnya lagi.

Untuk urusan ini, memang perlu effort lebih, sehingga tak jarang Cahyanul harus turun ke lapangan. Namun, belakangan ini ia sedikit terbantu. Sejak dilakukan restrukturisasi di field service dua tahun lalu, di mana yang tadinya plants manager dipegang oleh ekspat kini ditangani oleh SDM lokal sehingga komunikasi di lapangan menjadi lebih cair. “Sekarang mereka merasa punya ‘bapak’. Kalau sama bule mereka terkendala bahasa untuk berdialog,” katanya.