Menyesuaikan Kenaikan Gaji di Tengah Krisis

Percayakah Anda bahwa saat ini posisi human resources (HR) makin dibutuhkan? Bila dulu peran HR hanya sebatas mengurusi administrasi saja, kini HR harus bisa menjadi partner bisnis dalam menentukan strategi perusahaan. “HR sudah saatnya duduk bersama dengan manajemen dan serikat pekerja untuk membahas masalah produksi dan karyawan. Karena itu harus ada tindakan yang berani, apakah perusahaan mau ditutup, karyawan dirumahkan dulu, atau melakukan PHK,” ungkap pengamat sumber daya manusia (SDM) Djoko Soedibjo dengan lugas. Di sinilah peran HR menjadi semakin krusial. Sebab, dalam kondisi krisis HR diharapkan dapat menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan karyawan.

Misalnya, Djoko menceritakan, sebuah perusahaan otomotif di Korea Selatan ketika krisis moneter 1997-1998 mengalami penurunan penjualan. Kalau produksi diteruskan, perusahaan pasti akan tutup. Langkah awal yang dilakukan direksi adalah, memanggil serikat pekerja (SP) untuk memberi tahu kondisi perusahaan. Di luar dugaan, Ketua SP mengatakan bahwa perusahaan itu adalah tempatnya mencari makan. Ia tidak rela perusahaan tersebut ditutup. “Mereka mengatakan, mulai sekarang kami akan bekerja keras. Bila perlu, mereka rela lembur tanpa dibayar dan gajinya dibayarkan 70% saja,” papar Djoko mengisahkan.

Apa yang terjadi selanjutnya? “Perusahaan otomotif ini penjualannya naik. Bahkan, kekurangan gaji karyawan bisa dibayar kembali. Direksi kemudian memanggil lagi Ketua SP dan mengatakan: ‘Saudara-saudara, berkat kerja keras dan kerja sama kita, laporan keuangan sudah tidak merah lagi. Kami akan memberikan 15% saham kepada serikat pekerja untuk dibagikan kepada anggotanya’,” tutur Djoko mencontohkan. Belajar dari pengalaman itu, Djoko menilai, langkah ini bisa ditiru oleh pekerja dan manajemen di Indonesia agar perusahaannya bisa bertahan menghadapi krisis saat ini.

Mantan Direktur HR HSBC ini mengungkapkan, kebanyakan perusahaan di Indonesia dalam menghadapi krisis pertanyaan yang sering dilontarkan manajemen adalah, biaya apa yang bisa dihemat? Bicara soal penghematan, Djoko mengatakan, ada prinsip yang dapat digunakan, yakni prinsip Pareto atau analisa ABC. Prinsip Pareto adalah metode pembuatan grup atau penggolongan berdasarkan peringkat nilai, dari nilai tertinggi hingga terendah, dan dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu kelompok A, B dan C.

Pengelompokkan dengan menggunakan prinsip Pareto ini akan membantu seseorang bekerja lebih fokus pada elemen-elemen yang bernilai tinggi (grup A) dan memberikan kontrol yang secukupnya saja untuk elemen-elemen yang bernilai rendah (grup C). Prinsip ini bisa digunakan untuk menentukan dasar biaya yang terbesar di perusahaan. Misalnya, di industri manufaktur, setelah menggunakan prinsip Pareto diketahui biaya terbesarnya berasal dari pembelian bahan baku. “Contohnya di industri otomotif, Pareto A adalah pembelian baja atau besi,” kata Djoko.

Menurutnya industri jasa berbeda lagi. Biaya paling besar umumnya adalah biaya SDM. “Misalnya, di perusahaan distribusi pengiriman barang. Perusahaan jasa tidak membeli bahan baku dan jumlah karyawannya banyak, sehingga biaya yang harus ditekan adalah biaya tenaga kerja,” ungkap Djoko seraya menjelaskan bahwa ada perbedaan penekanan antara industri manufaktur dan jasa. “HR di dua industri ini juga memiliki peran yang berbeda,” katanya menambahkan.

Pria yang pernah menjadi Wakil Dekan Universitas Tarumanegara ini mengungkapkan, yang sering dilupakan HR dalam menghadapi krisis adalah, tidak banyak yang memahami ilmu efisiensi. “Ilmu efisiensi ada di segala bidang. Yakni, bagaimana mengurangi cost tetapi output-nya naik,” ujarnya. Menurutnya, ada tiga macam cara untuk melakukan efisiensi. Pertama, mengurangi input tetapi output-nya tetap. Kedua, input-nya tetap tetapi output-nya bertambah. Ketiga, mengurangi input tetapi output-nya bertambah. “Yang bagus itu input-nya dikurangi, tetapi output-nya bertambah,” katanya.

Biaya apa saja yang bisa dikurangi? Djoko menjelaskan, ada lima pos biaya yang bisa dikurangi atau biasa disebut 5 M, meliputi: man, money, material, machine, dan method. “Contohnya, efisiensi bahan baku di industri manufaktur. Yakni, mencari bahan baku yang lebih murah namun kualitasnya sama. Untuk industri jasa, yang bisa dilakukan adalah penghematan biaya fasilitas kantor atau listrik,” papar Djoko.

Di luar itu, yang tak kalah penting adalah, HR harus bisa mengubah paradigma pekerja. Misalnya, pekerja tidak lagi tergantung pada upah lembur sebagai penghasilan tambahan. Tetapi pekerja sudah harus bisa menggunakan gaji dengan sebaik-baiknya.

Lebih jauh, mantan Direktur HR & General Affairs PT Indomobil ini menjelaskan, berdasarkan peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 101 Tahun 2008 tentang Upah Minimum Provinsi (UMP) 2009, UMP Jakarta naik 10% mulai 1 Januari 2009. Melalui kenaikan ini, gaji minimum karyawan akan naik menjadi Rp 1.069.856,- dari jumlah tahun lalu sebesar Rp 972.046,-. Dengan demikian, HR pun dituntut untuk menyesuaikan kenaikan gaji karyawan.

Menurut Djoko, yang perlu diperhatikan HR dalam menyesuaikan gaji karyawan agar sesuai dengan anggaran perusahaan adalah, menentukan besaran penambahan gaji (increment) untuk karyawan yang sudah bekerja di atas satu tahun. Hal ini diupayakan untuk mencegah terjadinya kecemburuan antara karyawan baru dengan yang sudah lama bekerja.

Ia memberi gambaran, sesuai penetapan UMP 2009 di Jakarta, karyawan yang saat ini menerima gaji Rp 1.069.865,-, tahun depan harus ada penambahan gaji. Misalnya, diberikan increment sebesar Rp 30.000,- yang disesuaikan dengan kenaikan UMP masing-masing daerah. “Kalau tidak diberikan increment, nanti karyawan yang sudah lama bisa berantem dengan karyawan baru. Contohnya, karyawan yang saat ini gajinya Rp 1.069.865,- itu harus dinaikkan sebesar Rp 30.000,-. Jadi gaji barunya menjadi Rp 1.099.865,” ungkapnya menjelaskan.

Djoko yang sekarang menempati posisi sebagai Konsultan Senior JAC Indonesia menyebutkan, ada beberapa hal pokok untuk menyesuaikan gaji manajer berdasarkan kenaikan UMP. Antara lain, dengan menentukan gaji terendah dan tertinggi, menentukan persentase penyesuaian untuk gaji terendah dan tertinggi, dan memastikan persentase gaji terendah lebih besar dari persentase gaji tertinggi. “Contohnya, gaji terendah Rp 4 juta, dan gaji tertinggi Rp 50 juta. Maka, persentase kenaikannya bisa 10% untuk gaji terendah dan 8% untuk gaji tertinggi,” tuturnya.

Djoko menjamin, penyesuaian kenaikan gaji bisa dihitung dengan menggunakan Rumus Sundulan Diamond Slope (DS). Pemilik hak paten Rumus Sundulan DS ini menjelaskan, melalui Rumusan Sundulan DS bisa dipastikan gaji karyawan yang baru sesuai dengan UMP, dan karyawan dengan masa kerja lebih lama dipastikan gajinya lebih tinggi dari UMP. Dengan begitu, penyesuaian gaji seluruh karyawan bisa dilakukan secara adil. “Kalau semua gaji disamaratakan dengan UMP, itu tidak adil,” ujarnya tegas.

Menanggapi dampak krisis keuangan global saat ini, Manajer Kompensasi dan Benefit PT Danone Indonesia Joko Purwanto membenarkan, perusahaannya mulai terkena imbas krisis. Hal ini ditandai dengan adanya kenaikan biaya bahan baku, operasional, transportasi, dan marketing. Di sisi lain, daya beli masyarakat dan nilai tukar rupiah terhadap US dollar justru melemah.

Sebagai langkah antisipasi, Joko mengungkapkan, perusahaan melakukan berbagai strategi, antara lain: pertama, me-review biaya-biaya yang ada dan melakukan penghematan atau optimalisasi biaya. Kedua, smart dan selektif dalam proses procurement baik untuk bahan baku maupun supplier. Ketiga, meningkatkan internal business process untuk efisiensi dan efektivitas kerja serta meningkatkan kualitas produk.

Keempat, ekstensifikasi penjualan dengan tujuan untuk meningkatkan market share, memperbesar volume penjualan dan meningkatkan revenue. Dan kelima, melakukan hedging untuk nilai tukar Rupiah ke US dollar. “Yang penting adalah membawa perusahaan keluar dari krisis dengan selamat dan mengubah tantangan menjadi peluang untuk tumbuh lebih besar,” tuturnya menandaskan.

Di lain pihak, Corporate Office Head PT Kawasaki Motor Indonesia Nugroho Dj. Purnomo mengatakan, dampak krisis global secara langsung belum dirasakan perusahaannya. Dia berani memastikan bahwa hingga sekarang semua pekerjaan masih berjalan normal. Hal ini lantaran bisnis otomotif, terutama sepeda motor, di bulan November dan Desember 2008 umumnya memang lebih sepi daripada bulan sebelumnya. “Ini karena seluruh penjualan sudah difokuskan untuk hari Lebaran. Dan lagi, konsumen menunggu motor keluaran baru. Untuk pembelian motor bulan Desember 2008, tinggal menunggu satu bulan lagi motornya sudah memakai tahun 2009,” ungkapnya.

Namun demikian, Nugroho tak memungkiri bahwa tanda-tanda penurunan penjualan sudah terlihat, terutama dengan naiknya uang muka dan angsuran. Juga, makin ketatnya proses seleksi terhadap pembeli dengan sistem kredit. Perlu diketahui bahwa penjualan motor di Indonesia 80%-90% dilakukan dengan sistem cicilan atau kredit. “Beberapa antisipasi sudah dilakukan, antara lain dengan menaikkan kegiatan promosi, menerapkan sistem kerja yang efektif, serta mengefisienkan beberapa pemakaian energi dan alat-alat kantor,” ujarnya menyebutkan.

Mengenai kenaikan gaji karyawan terhadap penetapan UMP baru, baik Joko maupun Nugroho memastikan, gaji karyawan akan naik sesuai ketentuan UMP. “Bicara sistemnya, telah diatur di dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Tentunya, baik pengusaha maupun pekerja harus mengikuti apa yang telah disepakati di dalam PKB,” ujar Nugroho seraya menyebutkan jumlah karyawan Kawasaki Motor Indonesia saat ini sekitar 800 orang.

Sementara itu, Joko mengatakan bahwa kenaikan gaji karyawan di 2009 diputuskan berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain kenaikan UMP dan inflasi. Dari sisi finansial perusahaan juga mampu melakukan kenaikan dan memang sudah dianggarkan. “Yang perlu digarisbawahi adalah, kenaikan itu tidak memberatkan perusahaan, namun tetap memedulikan kesejahteraan karyawan,” ungkapnya tegas.

Menurutnya, jumlah karyawan Danone Indonesia yang saat ini berjumlah sekitar 400 orang tidak satu pun yang masuk kategori karyawan kontrak. Dengan begitu, bentuk perlakuannya harus sama untuk semua karyawan, yakni kenaikan upah berdasarkan performance. “Yang membedakan kenaikan gaji antara karyawan yang satu dengan lainnya adalah hasil penilaian kerja yang bersangkutan (performance result). Seseorang dengan performance excellence tentu berbeda kenaikannya dengan yang rata-rata,” katanya menjelaskan.

Nugroho menambahkan, sistem penggajian yang dipakainya saat ini merupakan gabungan dari beberapa sistem yang selama ini dianggap baik. Artinya, bisa diterapkan sesuai dengan “nature” bisnis perusahaan, termasuk bisa diaplikasikan dengan menggunakan Rumus Sundulan.