Membangun Sistem Kompensasi Berbasis Person Value

Anda pernah mendengar sebutan “Manajer 1 Miliar”? Gelar ini pernah disematkan pada sosok bernama Tanri Abeng, pada tahun 1990-an. Ketika itu, Tanri Abeng yang menjabat sebagai CEO PT Multi Bintang, berhasil mengubah paradigma umum yang menganggap pekerjaan di industri manufaktur kurang memberikan gaji yang menarik dibandingkan industri lain seperti perbankan dan telekomunikasi. Apa pelajarannya?

Keberhasilan Tanri Abeng sebagai profesional yang dibayar mahal kala itu, sekaligus membuka wacana baru tentang sistem penggajian. Bagaimana fenomena “Manajer 1 Miliar” ini terjadi? Mengapa suatu perusahaan berani membayar seorang profesional jauh lebih mahal dibandingkan profesional lain meski untuk jabatan yang sama? Apakah evaluasi jabatan yang menghasilkan job value masih relevan di era informasi dan pengetahuan sekarang ini?

Menariknya, Alex Denni, Executive Partner Dunamis Human Capital, menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas melalui Disertasi yang dibuatnya sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Doktor di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), 18 Agustus 2011, pekan lalu. Dalam Disertasi berjudul “Desain Sistem Kompensasi Human Capital Berbasis Person Value pada Perusahaan Agroindustri”, Alex bermaksud menggeser pandangan lama yang menyatakan bahwa manusia adalah sumber daya dengan pandangan baru yang lebih menekankan manusia sebagai aset paling berharga bagi organisasi. Sebagaimana dikatakan Jim Collins (2001), organisasi yang hebat adalah organisasi yang mempertimbangkan orang terlebih dahulu, baru apa yang dikerjakannya.

“Di masa lalu, mesin dan peralatan produksi dinilai lebih berharga dibandingkan manusia. Akan tetapi zaman telah bergeser. Sistem manajemen sumber daya manusia (SDM) yang berkembang di era industri mengalami transformasi menuju pendekatan human capital pada era pengetahuan dan informasi sekarang ini. Manusia yang dulunya disebut sebagai sumber daya, kini dinyatakan sebagai aset yang paling berharga bagi perusahaan. Aset penting yang dimiliki manusia pada era informasi dan pengetahuan ini adalah kompetensi yang dapat diukur dari kinerjanya di organisasi. Jika dijabarkan lebih detail, kompetensi dapat berupa keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan perilaku (behavior) yang relevan dengan pekerjaan atau jabatan tertentu,” papar Alex.

Alex menyebutkan, keberadaan seseorang di organisasi erat hubungannya dengan kompensasi. Menurutnya, ssistem kompensasi merupakan satu dari tiga alasan utama seorang karyawan pindah dari suatu perusahaan, di samping perilaku dari atasan langsung dan ketidak-jelasan karier. “Sayangnya, tidak banyak perusahaan yang secara transparan mau mengomunikasikan penghitungan kompensasi yang diberikan kepada karyawannya. Dengan informasi yang terbatas, karyawan biasanya mencoba membanding-bandingkan apa yang dia terima dengan apa yang diterima oleh karyawan lain. Sebagai akibatnya, karyawan akan berpersepsi negatif terhadap perusahaan tempatnya bekerja,” kata Alex mengingatkan.

Alex menambahkan persepsi yang buruk terhadap sistem kompensasi dapat menurunkan motivasi karyawan dan berdampak kepada rendahnya kinerja organisasi secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, persepsi yang buruk atas sistem kompensasi dapat menyebabkan organisasi kehilangan orang-orang terbaiknya yang pindah ke perusahaan pesaing. Karena itu salah satu tantangan yang dihadapi para pimpinan organisasi adalah menemukan cara-cara baru dalam mengelola sistem kompensasi. “Hal ini diharapkan dapat mendukung strategi organisasi dan mampu mempertahankan talenta terbaiknya untuk memenangkan persaingan yang semakin terbuka dan kompetitif. Di samping itu, persepsi yang baik atas sistem kompensasi dapat mendorong kinerja karyawan sekaligus meningkatkan daya saing organisasi,” imbuhnya.

Alex mengatakan penelitian yang dilakukannya berangkat dari cara pandang yang berbeda karena sesungguhnya yang menghasilkan kinerja dan yang menerima gaji adalah orang sebagai pemangku jabatan. Karena itu basis dari gaji pokok seharusnya lebih ditekankan pada atribut yang dibawa oleh individu, yang oleh Alex Denni disebut sebagai person value, daripada nilai jabatan yang selama ini berlaku.

Pada sistem kompensasi yang konvensional, nilai jabatan sangat memengaruhi gaji seseorang. Nilai jabatan adalah nilai relatif dari suatu jabatan dibandingkan jabatan lain di dalam organisasi. Nilai jabatan kemudian dilekatkan pada rentang gaji yang memberikan pedoman tentang gaji maksimum dan minimum pada suatu jabatan atau klasifikasi jabatan tertentu. Untuk menentukan gaji seorang karyawan yang duduk di suatu jabatan, biasanya manajemen melakukan judgment dengan mempertimbangkan latar belakang, pengalaman, gaji saat ini dan kompetensi dari karyawan tersebut untuk ditempatkan pada rentang gaji sesuai dengan jabatan yang ditugaskan kepadanya.

Dalam studi ini, Alex menjelaskan formula penetapan gaji pokok seorang karyawan menempatkan kompetensi sebagai determinan yang dianggap paling berpengaruh terhadap kinerja. Melalui sistem ini dapat dikatakan bahwa yang lebih dominan memengaruhi gaji seseorang bukanlah nilai jabatannya, melainkan person value yang dimilikinya. Sejauh ini belum ditemukan istilah person value dalam kajian-kajian yang menyangkut sistem kompensasi. Kajian terhadap sistem kompensasi lebih banyak membahas tentang job value yang dihasilkan melalui serangkaian proses yang disebut job evaluation (evaluasi jabatan).

Alex menambahkan, penelitiannya bertujuan untuk menghasilkan desain sistem kompensasi human capital berbasis person value pada perusahaan Agroindustri yang memberikan rasa keadilan kepada karyawan. “Perbedaan person value akan ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki seseorang, yang relevan dengan kebutuhan organisasi atau jabatan yang dipangku oleh karyawan di dalam organisasi tersebut,” katanya.

Kompetensi merupakan atribut yang dimiliki seseorang dan dapat memengaruhi kinerjanya. Atribut yang sesuai dengan kebutuhan jabatan, situasi atau tugas tertentu dapat menjadi faktor penentu dalam menghitung gaji pokok yang akan dibayarkan kepada seorang karyawan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, Alex menyimpulkan, sistem kompensasi berbasis person value memiliki kelebihan dibandingkan sistem konvensional karena berorientasi kepada orang sebagai pemangku jabatan. Dengan begitu rasa keadilan internal akan mudah dipenuhi dalam lingkungan kerja yang beragam di era informasi dan pengetahuan. Di samping itu, sistem ini dipercaya akan mendorong karyawan untuk meningkatkan kompetensinya guna mendukung kinerja perusahaan.

Tags: ,