Membaca Tren Gaji 2006

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa kali sepanjang 2005 – yang ditutup dengan kenaikan drastis bulan Oktober 2005 – sungguh membuat pusing perusahaan maupun karyawan. Betapa tidak. Kenaikan harga BBM yang drastis itu telah menyebabkan naiknya harga berbagai komponen biaya usaha. Kenaikan tersebut membuat laju inflasi tahun 2005 melonjak tajam di sekitar angka 18% tertinggi sejak tahun 2000. Laju inflasi sebesar itu juga jauh meleset dari perkiraan pemerintah yang berharap laju inflasi tahun 2005 single digit.

Dampak kenaikan drastis laju inflasi sejak Oktober 2005 itu ternyata juga mengacaukan perencanaan gaji dan benefit (renumerasi) perusahaan untuk tahun 2006. biasanya, perusahaan menengah-besar menyusun renumerasi berdasarkan survey gaji yang terakhir diadakan bulan Juli 2005. Hasil survey tersebut sudah bisa diketahui bulan September – Oktober 2005. Akan tetapi, dengan laju inflasi yang begitu tinggi sejak Oktober 2005, maka dengan sendirinya asumsi penghitungan gaji berubah sehingga besaran kenaikan gaji pun ikut berubah.

Sebagai contoh, survey yang dilakukan konsultan renumerasi terkemuka di dunia, Watson Wyatt, hanya mengasumsikan laju inflasi tahun 2005 maksimal 17%. Survei itu, menurut Presiden Direktur PT.Watson Wyatt Indonesia, diselenggarakan sebelum dinaikkannya harga BBM bulan Oktober 2005. “Akibat kenaikan laju inflasi yang drastis di akhir tahun 2005, maka data hasil survey gaji untuk penyusunan renumerasi tahun 2006 perlu dikoreksi kembali,” ungkapnya.

Hasil beberapa kali survey sepanjang 2005 oleh Watson Wyatt memperkirakan kenaikan gaji secara umum tahun 2006 adalah 11,25%. Proyeksi kenaikan gaji tersebut dilakukan dengan asumsi inflasi 2005 maksimal mencapai 17%. Dengan laju inflasi 2005 menjadi sekitar 18%, Watson Wyatt memperkirakan data median kenaikan gaji seluruh industri tahun 2006 mencapai 13,05%. “Inilah ancar-ancar persentase kenaikan harga BBM,” tambah Lilis.

Hay Group, yang juga melakukan survey gaji, memprediksi kenaikan gaji tahun 2006 sangat tergantung dari jenis industri. Industri-industri yang sangat terpengaruh oleh kenaikan BBM tentu tidak bisa menaikkan gaji dalam jumlah besar. Sebaliknya, bagi industri minyak dan gas bumi, telekomunikasi, dan jasa logistic akan bisa menaikkan gaji sesuai dengan kenaikan laju inflasi tersebut. “Kisarannya mulai dari 12% hingga 17%,” tutur Hadi Pramono, Konsultan Senior Hay Group.

Lilis mengakui, meskipun banyak perusahaan mulai mengadopsi pendekatam penggajian berdasarkan kinerja (pay for performance atau merit system) dan pertimbangan pasar, faktor inflasi tetap menjadi indikator penting untuk menetapkan besaran kenaikan gaji tahun berikutnya. Laju inflasi akan menggerogoti nilai gaji dan daya beli karyawan. Untuk mempertahankan daya beli karyawan, maka setidaknya gaji perlu dinaikkan setara dengan besaran laju inflasi tersebut.

Di sinilah letak permasalahannya. Jika gaji harus dinaikkan terus mengikuti laju inflasi di Indonesia, maka banyak perusahaan yang bakal ambruk. Hal ini ditegaskan oleh Anthon Riyanto, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang SDM (Sumber Daya Manusia) dan Ketenagakerjaan. “Beberapa perusahaan asing bicara kepada kami, kalau gaji dinaikkan katakanlah 10% dalan setahun, maka dalam 5 tahun kenaikannya sudah mencapai 50%. Ini sangat memberatkan dan tidak masuk akal,” ujarnya menirukan ucapan eksekutif perusahaan asing tersebut.

Pada praktiknya, seperti ditegaskan Lilis, perusahaan tahun 2006 mulai mengubah kebijakan menaikkan gaji untuk tidak lagi sepenuhnya mengikuti laju inflasi. Jika inflasi 2005 mencapai 18%, maka kenaikan gaji 2006 secara rata-rata akan berada di bawah angka itu. Dalam periode 2000-2004, laju kenaikan gaji (data median) masih lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi. Misalnya, kenaikan gaji 2001 besarnya 17,4%, sedangkan inflasi 2000 9,40% ; kenaikan gaji 2002 besarnya 15,4% sedangkan sedangkan inflasi 2001 12,55% ; kenaikan gaji 2003 besarnya 11,6% sedangkan inflasi 2002 10,33% ; kenaikan gaji 2004 besarnya 11,48% sedangkan inflasi hanya 5,06% ; kenaikan gaji 2005 besarnya 10,98%, sedangkan inflasi hanya 6,5%.

Besarnya dampak dari laju inflasi terhadap kenaikan gaji maupun daya beli karyawan perlu menjadi perhatian pemerintah di dalam pengelolaan ekonomi makro. Pemerintah perlu mengendalikan laju inflasi sedemikian rupa karena implikasi dari inflasi tinggi merembet ke banyak hal : daya beli masyarakat, nilai tukar rupiah, suku bunga, dan seterusnya – hal-hal yang semuanya berdampak langsung maupun tak langsung terhadap dunia usaha.

Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM secara drastis Oktober silam di satu sisi cespleng mengatasi masalah anggaran pemerintah, namun di lain pihak memukul dunia usaha dan masyarakat luas. Apa gunanya pemerintah – maupun lembaga legislative dan yudikatif- mengalami surplus anggaran bilamana perekonomian swasta malah terpuruk? Apa gunanya aparatur yang jumlahnya maksimal 10 juta bergaji besar, sedangkan masyarakat yang jumlahnya jauh lebih banyak terbirit-birit mengatasi persoalan hidup?

Lebih parah lagi bilamana surplus anggaran pemerintah itu tidak bisa digunakan untuk menggerakkan perekonomian rakyat secara riil. Dalam periode 2-3 kuartal pertama 2006 hampir bisa dipastikan sector swasta tidak akan bisa berbuat banyak menggerakkan perekonomian. Itu berarti, perekonomian lebih banyak mengandalkan pemerintah untuk bisa bergerak. Hingga saat ini kita belum melihat gerakan nyata yang signifikan dan terencana dari pemerintah tentang bagaimana “menggelontorkan” uang ke dalam perekonomian tanpa membuat inflasi menjadi tidak terkendali.

Respons beragam

Kenaikan harga BBM dan tingginya laju inflasi direspons oleh perusahaan secara beragam. Menyadari dampak negatif dari kedua hal itu, sejumlah perusahaan mulai Oktober sampai Desember 2005 menaikkan tunjangan transportasi, terutama untuk level bawah karena mereka yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga BBM. Ada perusahaan yang memberikan lupsum satu bulan gaji maksimum Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. Bagi karyawan yang bergaji Rp 3 juta ke bawah, mereka mendapat tambahan sebulan gaji. Sementara untuk mereka yang bergaji lebih dari Rp 3 juta (tambahan maksimum), maksimal hanya mendapatkan tambahan Rp 3 juta. Tambahan ini, diakui Lilis, sangat membantu karyawan level bawah, karena tujuannya memang meringankan beban mereka. “Gaji mereka selama ini banyak tersedot untuk biaya transportasi dan makan,” tukasnya.

Bagi eksekutif, yang mungkin gajinya sudah mencapai Rp 50 – 60 juta atau bahkan seratusan juta rupiah per bulan, kenaikan BBM itu tidaklah berdampak signifikan. Apalagi, banyak di antara eksekutif itu yang biaya tranportasinya sepenuhnya dibayari kantor. Dipakai untuk makan? “Berapa sih habisnya? That’s reality,” tukas Hendrikus S., eksekutif sebuah perusahaan yang sering kelewat merasa bersalah dengan penghasilannya yang kelewat besar dibandingkan dengan mayoritas karyawannya.

Kendati masih digodok saat wawancara dilakukan bulan lau, Direktur Human Capital PT. Exelcomindo Pratama (operator GSM XL) Joris de Fretes, memperkirakan kenaikan gaji perusahaannya 2006 berkisar antara 15-16% . Besaran kenaikan itu tidak sepenuhnya mengacu kepada laju inflasi, melainkan 7% berdasarkan prestasi kerja / kompetensi karyawan (merit increase) dan 8% berdasarkan laju inflasi karena kenaikan biaya hidup, khususnya biaya makan. “Sebab, tunjangan transportasinya sudah dinaikkan begitu terjadinya kenaikan harga BBM Oktober tahun lalu,” katanya.

Menaikkan tunjangan transportasi juga dilakukan oleh PT. Chevron IndoAsia, hasil penggabungan PT. Caltex Pasific Indonesia dengan PT. Unocal Indonesia. “Saya lupa angka persisnya, tetapi kenaikannya cukup signifikan. Tahun ini kan harga BBM sudah dinaikkan beberapa kali,” tutur Iwan Djalinus, Vice President HR perusahaan minyak dan gas bumi terkemuka tersebut.

PT. Epson Indonesia tidak melakukan penyesuaian tunjangan transportaso karena kenaikan harga BBM yang drastis tersebut. Alasannya, menurut Senior Manager HR M.Husni Nurdin, per 1 April 2005 perusahaan itu telah menaikkan tunjangan transportasi 100% menjadi Rp 500.000 untuk karyawan level bawah. Sebelumnya perusahaan telah menaikkan pula uang makan menjadi Rp 250.000. Rencananya uang makan ini akan dinaikkan lagi karena harus mengikuti laju inflasi, tidak bisa berdasarkan harga BBM. Tapi secara umum, menurut M.Husni Nurdin, perusahaannya mengutamakan kompetensi di dalam menetapkan gaji.

“Kami harus memelihara motivasi kerja karyawan. Jangan sampai karyawan merasa dirugikan akibat inflasi yang tinggi, tetapi perusahaan tidak berusaha melalukan penyesuaian yang mungkin,” tegasnya. Kenaikan gaji tahun 2005 dilakukan dengan bobot kompetensi (60%) dan inflasi (40%). Tahun ini, karena laju inflasi yang sangat tinggi, maka komposisi tersebut bisa berubah menjadi 80% inflasi dan 20% kompetensi.

Irvandi Ferizal, Direktur HR PT Skypak International (TNT Express), sependapat bahwa perusahaan akan kesulitan jika harus menaikkan gaji sebesar laju inflasi 18%. Perusahaan logistik dan kurir ini lebih melihat kepada gaji pokok. Bila gaji pokok sudah memadai, belum tentu jumlahnya dinaikkan. Bukan berarti tidak ada kemungkinan menaikkan gaji pokok tersebut. Besaran kenaikan masih harus menunggu hasil survey Mercer.

“Kami lebih menekankan kepada variable performance, melalui insentif kinerja. Itu lebih sesuai,” katanya. Perusahaan ini sangat berhati-hati menaikkan komponen gaji tetap supaya tidak terlalu besar sehingga memberatkan perusahaan saat menghadapi kondisi bisnis yang menurun. “Kalau sudah tetap, kita tidak bisa mundur,” dia menambahkan.

Profil Gaji

Gaji atau renumerasi agaknya akan tetap menjadi persoalan pelik yang melilit karyawan level bawah (klerikal) di perusahaan menengah ke bawah. Sedangkan penghasilan yang diterima oleh karyawan klerikal di perusahaan menengah-atas masih relative baik. Survey Watson Wyatt (reference date 1 April 2005) menunjukkan bahwa data median penghasilan tunai klerikal adalah Rp 52,187 juta per tahun atau sekitar Rp 4,3 juta per bulan. Penghasilan tunai klerikal terbesar diperoleh di perbankan asing, yakni Rp 78,530 juta per tahun atau Rp 6,5 juta per bulan. Penghasilan terkecil terjadi di industri pembiayaan, yaitu Rp 32,929 juta per tahun atau Rp 2,7 juta per bulan. Kita tahu, bank asing umumnya memberikan gaji pada karyawan level bawah jauh di atas standar lokal.

Bagaimana potret gaji staf (officer) dan manajemen (management)? Realitasnya, gaji para staf dan manajemen tetap jauh meninggalkan gaji karyawan level bawah. Survey Watson Wyatt mendapatkan temuan, total penghasilan tunai staf berkisar dari Rp 71,684 juta (di industri keuangan) hingga Rp 139,989 juta (di industri sekuritas / manajemen dana) dengan median keseluruhan industri Rp 97,788 juta per tahun atau Rp 8,1 juta per bulan.

Untuk level manajemen, penghasilan tunai manajemen terendah dalam setahun terjadi di industri pembiayaan (Rp 222,206 juta) dan tertinggi di industri sekuritas dan manajemen dana (Rp 544,015 juta). Secara keseluruhan, median penghasilan tunai manajemen adalah Rp 269,435 juta per tahun atau Rp 22,4 juta per bulan. Dari keseluruhan industri yang disurvei, industri sekuritas dan manajemen dana tampaknya sedang naik daun. Ini sejalan dengan bergairahnya Bursa Saham dalam dua tahun terakhir, kendati industri reksadana sempat mengalami penurunan baru-baru ini.

Penghasilan manajemen di atas sejatinya masih tergolong di kelompok menengah. Jangan bandingkan, misalnya, dengan gaji CEO perusahaan besar (bukan ekspatriat) yang setiap bulannya bisa mencapai Rp 100-200 juta atau setiap tahunnya bisa mencapai Rp 1,2- 2,4 miliar. Gaji CEO bank-bank swasta diperkirakan sebesar itu. Sedangkan gaji CEO ekspatriat setidaknya mencapai US$ 20.000 per bulan, belum termasuk nilai tunjangan mereka yang juga besar.

Untuk ukuran Indonesia, penghasilan ekspatriat sebesar itu dinilai sangat besar, tetapi penghasilan tersebut tidaklah besar untuk ukuran perusahaan di Amerika. Sebagai contoh, kompensasi tunai yang diperoleh CEO Amerika terbesar tahun 1995 menurut majalah Forbes diraih oleh Terry S. Semel, CEO Yahoo, yang mencatat total kompensasi sebesar US$ 230,554 juta per tahun atau US$ 19,2 juta per bulan. Penghasilan tersebut masih di luar nilai saham yang dimiliki pria 62 tahun itu yaitu US$63,9 juta.

Toh tidak semua CEO Amerika bergaji besar. Jeffrey P. Bezos, CEO Amazon.com, hanya memperoleh kompensasi US$ 82.000 per tahun atau US$6.833 per bulan. Mungkin karena pemilik utama, Benzos tidak ingin menggerogoti keuangan perusahaan, dan lebih mementingkan nilai sahamnya yang mencapai US$3,471 miliar.

Kembali ke soal gaji di Indonesia, besarnya kenaikan gaji tahun 2006 akan sangat bervariasi dari satu industri ke industri lainny. Gambaran kenaikan gaji per industri pasca kenaikan harga BBM Oktober 2005 belum ada, tetapi survey gaji oleh Watson Wyatt sebelum kenaikan BBM sebelum kenaikan BBM tersebut memperkirakan kenaikan gaji di industri perbankan asing hanya 9,37% dan kenaikan tertinggi diperkirakan terjadi pada perbankan lokal sebesar 12,45%.

Besaran kenaikan ini secara riil diyakini akan sangat berubah akibat kenaikan harga BBM, suku bunga, dan inflasi. Industri migas dipastikan memiliki kemampuan finansial terbesar untuk menaikkan renumerasi karyawan mereka mengingat harga migas yang sangat tinggi dalam setahun terakhir. Iwan Djalinus mengakui hal ini, kendati tidak serta merta akan menaikkan kompensasi bagi karyawan perusahaan. “Pertimbangannya tetap persaingan di pasar, khususnya di antara perusahaan-perusahaan migas,” jawabnya. Oleh sebab itu, perusahaannya menunggu dulu hasil survey Watson Wyatt untuk menentukan kebijakan kompensasi tahun 2006.

Industri telekomunikasi, menurut Lilis Halim, juga akan terus bertumbuh dengan cukup meyakinkan sehingga mampu memberikan kenaikan kompensasi yang lebih baik. Sedangkan industri keuangan seperti pembiayaan, perbankan, sekuritas, dan asuransi diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan kinerja akibat suku bunga tinggi. Industri lainnya macam produk konsumen (consumer goods) masih mungkin bertumbuh meski lebih lambat karena menurunnya daya beli konsumen, dan industri teknologi informasi juga diperkirakan tidak akan bertumbuh secara signifikan. Industri-industri terakhir di atas akan menyesuaikan gaji 2006 tetapi dengan besaran yang konservatif.

Faktor kemampuan perusahaan dan daya saing renumerasi perusahaan di pasar tetap menjadi pertimbangan utama di dalam menentukan kenaikan gaji tahun 2006. Perusahaan harus tetap menjaga daya saing renumerasi agar para talent mereka tidak hengkang ke perusahaan lain. Pada beberapa industri, pesaing tidak lagi hanya sebatas pemain-pemain di industri sejenis, tetapi juga perusahaan-perusahaan lain yang membutuhkan talent dengan kemampuan yang sama. Mobilitas eksekutif pemasaran, HR, IT, dan keuangan tetap tinggi sehingga mengharuskan perusahaan untuk memantau kondisi renumerasi di berbagai industri lain yang potensial sebagai pesaing.

Kecuali memberikan insentif tunai, pertempuran renumerasi beberapa tahun terakhir sempat beralih ke dalam aspek benefit. Selain fasilitas kesehatandan beberapa fasilitas yang umum, perusahaan mengembangkan pula bonus variabel, fasilitas kendaraan, dana pensiun, kartu kredit, hingga pinjaman perumahan. Tapi, ujar sejumlah eksekutif, pemberian benefit itu tetap ada batasnya. Tahun 2006, perusahaan diperkirakan akan lebih banyak fokus di dalam fasilitas kesehatan karena biaya kesehatan (biaya dokter, rumah sakit, dan obat-obatan) naik cukup tajam sebagai akibat kenaikan harga BBM.

“Kondisi perusahaan juga lagi susah. Mereka tidak bisa jor-joran dalam memberikan renumerasi. Penekanannya lebih ke faktor tunai saja, sedangkan benefit standar saja,” Lilis menambahkan.

Satu hal yang pasti, besaran kenaikan gaji di masa mendatang diperkirakan tidak lagi melebihi laju inflasi. Hal ini telah dimulai tahun 2006 ini. Bagaimanapun daya dukung perusahaan untuk menaikkan gaji ada batasnya. Inflasi yang sangat tinggi di Indonesia telah membebani perusahaan secara signifikan. Selain menaikkan biaya produksi / operasional, inflasi yang tinggi menyebabkan tergerusnya permintaan oleh pasar.

Kalau begini terus, semuanya jadi bakal repot.