Memahami Cuti Diluar Tanggungan

Beberapa waktu lalu, sejumlah pramugari dari perusahaan penerbangan ternama menuntut pihak manajemen tempat mereka bekerja untuk menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Beberapa kebijakan di perusahaan tersebut dianggap sebagai perlakuan berat sebelah terhadap pekerja perempuan. Sebagian diantara kebijakan tersebut, salah satunya adalah adanya soal cuti haid dan pengaturan kehamilan.

Sesuai peraturan perusahaan, pramugari yang hamil harus mengambil cuti di luar tanggungan perusahaan selama tiga tahun. Setelah masa itu lewat, pihak perusahan tidak menjamin sang pramugari bisa bekerja kembali atau tidak. Oleh karena itu, kadang terjadi aborsi di kalangan pramugari hanya agar mereka tetap bisa bekerja di maskapai penerbangan nasional ini. Maka, untuk dapat memahami mengenai cuti diluar tanggungan (unpaid leave). Simak keterangan lengkap beserta trik memanfaatkannya.

Rasa cinta pada pekerjaan, nyatanya tak selalu dapat menghapus hasrat untuk mencoba hal baru. Entah itu yang menyangkut kepentingan pribadi maupun keluarga. Batas cuti tahunan selama 12 hari, seringkali terasa kurang. Untuk sebagian besar perusahaan memberi kebijaksanaan pada karyawannya. Cuti diluar tanggungan, atau juga dikenal sebagai unpaid leave, dapat dijadikan pilihan.

Kenali maknanya
Di tengah upaya meniti karier setinggi mungkin, tawaran menarik kerap bermunculan. Tawaran yang mungkin tidak datang dua kali. Siapa yang tidak tertarik, jika ditawari beasiswa untuk melanjutkan sekolah, kesempatan tinggal bersama suami di luar negeri, atau menjalankan ibadah di Kota Suci. Kalau demi mendapatkannya kita harus kehilangan pekerjaan, kok, rasanya mubazir? Tapi, jangka waktu yang dibutuhkan juga terhitung panjang.

Menurut MT. Widodo, SE. MM, Senior HR Management Consultant dari The Jakarta Consulting Group, cuti diluar tanggungan merupakan sebuah bentuk kesepakatan antara karyawan dengan perusahaan. Karena tidak diatur oleh undang-undang, maka sifatnya tidak wajib diberikan ataupun didapat.

Sementara cuti biasa (tahunan) yang telah ditetapkan di dalam Undang-Undang Tenaga Kerja, menyatakan bahwa karyawan harus memperoleh hak cuti selama 12 hari setiap tahunnya. Peraturan ini sudah dianggap normatif di perusahaan mana pun. Secara umum berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk beristirahat setelah bekerja selama 1 tahun penuh (12 bulan).

Cuti di luar tanggungan sebenarnya juga memiliki arti “mengikat. Sehingga karyawan yang bersangkutan akan kembali ke perusahaan tersebut, tentu dengan adanya bertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pentingnya persiapan diri
Meninggalkan kantor dalam waktu yang lama, tentu saja saat kembali kemungkinan besar terjadi perubahan-perubahan. Baik itu berasal dari cara kerja, lingkungan kerja, maupun posisi Anda di perusahaan. Cuti diluar tanggungan biasanya berlangsung lebih dari 12 hari, papar Widodo. Karena itu, karyawan perlu menyadari bahwa kinerja kantor akan tetap melaju, walaupun tanpa keberadaan salah satu karyawannya.

Cuti diluar tanggungan juga harus melalui proses administrasi yang baik, disertai dengan surat permohonan dan surat persetujuan. Jika surat-surat administrasinya tidak ada, karyawan bisa dikira menghilang. Sebab terdapat ketentuan bahwa setelah 5 hari berturut-turut tidak masuk kerja tanpa kabar, karyawan dianggap mengundurkan diri.