Jurus Memilih Asuransi yang Sehat

Praktisi asuransi jiwa Doddy Doelatief Soerya menganjurkan kepada setiap individu untuk pandai memilih produk asuransi. “Memilih asuransi jangan hanya yang punya nama besar, tetapi perusahaannya juga harus sehat. Sekarang tidak susah mengetahui perusahaan asuransi yang sehat dan tidak karena regulasinya sudah bagus,” ungkapnya.

Diakui Doddy, memilih produk asuransi sering menjadi persoalan dan kadang membingungkan. Dikatakannya, ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi individu atau korporasi dalam memilih asuransi yang sehat. Pertama, menurutnya, pembeli asuransi harus memahami dulu kebutuhannya. Sebab, produk asuransi begitu banyak dan bervariasi sehingga harus sesuai dengan kebutuhan.

“Pembeli produk asuransi harus mencermati produk yang ditawarkan. Bila perlu, pembeli bisa berkonsultasi dengan teman-teman atau ahli asuransi,” katanya menyarankan. Ditambahkan Doddy, ketika mencermati produk tersebut, nasabah harus memahami bahasa hukum dari brosur produk yang ditawarkan. Sebab, premi produk yang sama bisa berbeda untuk masing-masing asuransi.

Penjelasan yang tertuang pada brosur produk atau proposal yang ditawarkan agen asuransi sangat penting untuk dibaca dan dipahami isinya. Seringkali, brosur yang diberikan untuk dibaca malah diabaikan dan kurang ditelisik isinya. “Semua brosur dan informasi dari agen penjual sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang mengerti hukum, supaya pilihannya lebih terjamin,” ujarnya beralasan. Nasabah harus jelas dan hati-hati supaya tidak salah pilih. Untuk itu, pembeli asuransi harus mengetahui rekam jejak perusahaannya. Status kepemilikan perusahaan juga menjadi salah satu faktor dalam memilih produk asuransi.

Secara umum, Doddy menyimpulkan, ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kesehatan perusahaan asuransi, yakni: kekuatan keuangannya (security), pelayanan (service), dan biaya (cost). Kekuatan keuangan perusahaan asuransi menyangkut kemampuannya untuk memenuhi janji (pembayaran klaim) di kemudian hari.

Dalam menilai kekuatan keuangan perusahaan asuransi, ada tiga tolok ukur yang perlu diperhatikan. Pertama, aset dan liabilitasnya. Ini bisa dilihat dari laporan neraca keuangan yang diumumkan di media cetak. Selain itu, patut dilihat juga portofolio investasinya. Dari segi liabilitas (kemampuan melunasi kewajiban) akan terlihat di neraca bagaimana perusahaan yang bersangkutan memenuhi kewajibannya kepada nasabah pada saat membayar klaim, dan lain-lain.

Kedua, mengenai underwriting policy. Di neraca dan laporan tahunan akan terlihat pula bahwa asuransinya masih untung alias membukukan laba, atau malah sebaliknya. Jika benar mencetak untung, berarti underwiting policy-nya bagus. Dan ketiga, perhatikan underwriter-nya. Maksudnya, perusahaan tersebut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas atau tidak. Hal itu dapat diketahui dari profil perusahaan yang memuat nama para underwriter.

Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam memilih perusahaan asuransi adalah pelayanan (service)-nya. Hal ini merupakan cermin kualitas SDM di perusahaan tersebut. Apalagi, perusahaan asuransi menjual jasa, maka layanan prima merupakan kunci utama. Untuk mengetahui kualitas layanan dari perusahaan asuransi, Anda bisa mengukur kecepatan layanan yang diberikan baik dalam menerbitkan polis atau pembayaran santunan/klaim.

Untuk perihal biaya (cost), lanjut Doddy, bisa dilihat dari besarnya biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan tersebut. “Kalau lebih besar biaya dibandingkan pemasukannya, jelas bahwa perusahaan tersebut tidak efisien. Kalau sudah tidak efisien, ujung-ujungnya akan mengalami kerugian. Dan, kalau terus-menerus merugi, pasti tidak sehat,” tuturnya menjelaskan.

Dirut AJB Bumiputera I Dewa Putu Bagus Supratman membenarkan bahwa yang harus dikedepankan dalam memilih asuransi jiwa adalah melihat reputasi perusahaannya. Reputasi tersebut bisa dinilai dari tiga hal, yaitu: pelayanan, keuangan, serta pemilik dan manajemen.

Cara menilai reputasi pelayanan, menurut Bagus, bisa dilakukan dengan mendatangi kantor asuransi tersebut. Bila perusahaan bersangkutan menggunakan sistem agency, pilihlah agen asuransi yang benar-benar memiliki attitude baik, dapat menjelaskan produk dengan sebaik-baiknya demi kepentingan nasabah (bukan kepentingan dirinya, seperti atas dasar demi mendapatkan komisi yang lebih besar), serta memiliki emosi yang kuat pada saat menjelaskan produk yang dijualnya.

Sementara itu, untuk menilai reputasi keuangan, caranya adalah dengan menilik laporan keuangan perusahaan bersangkutan, yang bisa Anda minta atau lihat di media cetak maupun elektronik. Dalam dunia asuransi, dikenal istilah Risk Based Capital (RBC). RBC adalah salah satu cara untuk menilai kesehatan perusahaan asuransi Anda.

Yang tak kalah penting, perhatikan juga siapa pemilik mayoritas dan pengelola perusahaan asuransi tersebut. Coba Anda telusuri, apakah mereka memiliki reputasi yang tercela di masyarakat ataukah tidak. Memang, terkadang hal ini terlihat subyektif, tetapi tidak ada salahnya kalau Anda mengenal siapa pemilik dan pengelola perusahaan asuransi Anda. Kalau mereka memiliki reputasi tercela, sebaiknya Anda menghindarinya.

Di lain pihak, pengamat asuransi Kasmil mengakui, saat ini tingkat kesadaran masyarakat Indonesia dalam berasuransi masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Penilaian itu terutama bila dilihat dari sudut tingkat penetrasi industri secara nasional untuk pasar asuransi individu. “Hanya sekitar lima juta orang dari 230 juta jiwa penduduk Indonesia yang saat ini tercatat sebagai pemegang polis asuransi individu. Itu pun beberapa orang di antaranya memiliki polis lebih dari satu,” ungkapnya.

Kasmil menyebutkan, banyak faktor yang menjadi penyebab ketimpangan tersebut. Tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur melalui pendapatan per kapita yang masih rendah bisa dikatakan sebagai penyebab utama. Di tambah lagi, kapasitas usaha asuransi yang masih tergolong rendah sehingga upaya melakukan edukasi kepada publik juga terbatas. Padahal, edukasi sangat penting untuk meningkatkan kesadaran, paling tidak pemahaman masyarakat akan pentingnya asuransi.

Di sisi lain, regulasi ditengarai Kasmil bisa mendorong tumbuh suburnya industri asuransi sehingga memiliki daya saing untuk menjadi lembaga keuangan yang tangguh, sekaligus sebagai pilar ketahanan sistem keuangan nasional. Bukan hanya di tingkat nasional, asuransi juga dapat bermain di pasar global, setidaknya menjadi tuan di negaranya sendiri.

Sejauh ini, Kasmil menilai, sudah ada langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk memperkuat industri asuransi sebagai bagian untuk memperkuat sistem keuangan nasional. “Asuransi dengan segala dinamikanya kini sudah mampu mengambil peran yang cukup besar sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber penghasilan bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Di kesempatan yang sama, rekan Kasmil, Wasith Su’ady, yang juga berprofesi sebagai konsultan asuransi mengungkapkan, peran konsultan asuransi tak kalah penting. Yakni, sebagai jembatan komunikasi antara nasabah dengan perusahaan asuransi. “Kami harus selalu menjaga hubungan baik dengan pihak asuransi dan klien,” katanya. Wasith meyakini bahwa bisnis asuransi merupakan bisnis kepercayaan. Karena itu diperlukan keterbukaan dalam berkomunikasi. Jadi, bertanyalah sebanyak mungkin kepada ahlinya sebelum memutuskan membeli asuransi.