Flexible Benefit buat Karyawan Kontrak

Adanya pelaksanaan program kesejahteraan bagi karyawan yang baik, ternyata dapat menciptakan perasaan aman dan ketenangan bagi karyawan di sebuah perusahaan.

Perusahaan pun lantas dapat menunjukkan kepeduliannya atas karyawan mereka. Hal ini telah dibuktikan oleh PT Soltius Indonesia selaku perusahaan IT Consulting Service terhadap karyawan kontraknya dengan penawaran program flexible benefit.

Alasan PT Soltius Indonesia memberikan program kesehjateraan bagi karyawan kontrak melalui benefit yang fleksibel, didasarkan sebagai upaya memenuhi kebutuhan yang sedang diperlukan. Sementara untuk kesehjateraan bagi karyawan tetap telah ditawarkan program benefit standard yang ditentukan oleh perusahaan.

Selaras yang disampaikan oleh Karya Bakti Kaban selaku HRD, General Affair & IT Senior Manager PT Soltius Indonesia kepada HC pada akhir Februari lalu, “Di tempat kita (PT Soltius Indonesia) kalau untuk benefit karyawan permanent itu sebenarnya nggak fleksibel ya, itu semuanya standard yang telah ditetapkan perusahaan,” jelasnya dengan tegas saat ditemui di ruang kerjanya.

Benefit standard yang ditetapkan perusahaan pelayanan konsultan IT itu memiliki tiga program, diantaranya adalah program in patient, perlindungan kesehatan rawat inap. Kemudian out patient atau program rawat jalan, dan ini dikisarkan satu bulan gaji untuk satu tahun. Ketiga program Pregnancy, Maternity dan Immunization Policy (PMIP), termasuk hal perlidungan bagi isteri karyawan yang melahirkan, akan dicover mulai anak pertama sampai ketiga.

Pada program PMIP tersebut, Karya Bakti Kaban pun mengungkapkan untuk konsultan yang berada pada grade 4 (empat) di perusahaannya, disebutkan sebagai konsultan yang mendapatkan perlindungan 69 (enam sembilan), “Artinya, kalau isterinya melahirkan secara normal kita akan cover sampai enam juta, sedangkan kalau melahirkannya caesar kita akan cover sampai sembilan juta, dan kita pakai standarnya Rumah Sakit Bunda, yang berada di Menteng,” kata pria keturunan Batak Karo ini saat menjelaskan salah satu benefit yang didapatkan untuk karyawan tetap di PT Soltius Indonesia.

Lain halnya dengan karyawan kontrak, menurut penulis artikel HR di beberapa media ini menjelaskan untuk perlindungan kesejahteraan bagi karyawan kontrak di perusahannya itu akan ditawarkan beberapa program benefit yang fleksibel. “Karena kalau karyawan yang kontrak itu benar-benar mendapatkan benefit secara fleksibel, tergantung kemauan karyawan itu, selama memenuhi budgetnya,” ucap pria yang juga gemar membaca ini.

Karya Bakti pun mencontohkan flexible benefit yang didapatkan oleh kontraktor, sebutan bagi konsultan SAP yang dikontrak di perusahaannya. Semisal ketika kontraktor itu mendapatkan tugas project perusahaan ke luar negeri, maka ia dapat memilih benefit yang akan dibutuhkannya saat itu. Salah satu yang ditawarkan adalah program perlidungan kesehatan.

Pria kelahiran 6 Juli 1971 silam ini menjelaskan kepada HC, bahwa konsultan yang dikontrak itu pun berhak untuk mengambil atau tidaknya asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh PT Soltius Indonesia. Karena menurut Karya Bakti Kaban, setiap orang pastinya memiliki kebutuhan yang berbeda.

“Fleksibel contohnya yang paling gampang di kita adalah program medical, apakah dia (karyawan kontrak) akan ambil atau tidak. Misalnya dia mau minta dicover asuransi kesehatannya, maka kita akan register dia ke asuransi perusahaan. Tapi kalau dia tidak perlu asuransi tersebut, dengan alasan mungkin dia punya uang sendiri untuk berobat dan sebagainya, maka itu juga diperbolehkan, jadi itu yang bisa dijadikan fleksibel,” tutur Bakti, begitu sapaan akrab Karya Bakti Kaban di anggota keluarganya.

Selain itu pula kata Bakti, ada tunjangan lain yang dapat dipilih oleh karyawan kontrak, seandainya ia tidak memilih benefit kesehatan. Pengurusan visa misalnya, dikatakan Bakti bahwa kontraktor IT itu pun berhak memilih untuk menggunakan atau tidaknya tunjangan visa tersebut. Karena menurutnya ada beberapa konsultan yang dikontrak itu menginginkan biaya tiap perjalanan tugasnya ditanggung oleh perusahaan, baik dari tiket pesawat hingga biaya fiskal.

Sebaliknya malah ada pula yang memilih untuk menanggung biaya perjalanan tugasnya sendiri, namun dialihkan ke benefit yang lainnya, biasanya pilihan ini sering digunakan bagi yang sudah berkeluarga. Karyawan kontrak itu lebih memilih tunjangan perjalanannya dialihkan untuk biaya tanggungan hidup anak isteri yang turut dibawanya ke luar negeri.

“Karena saya ditempatkan projectnya selama satu tahun, ya sudah saya bawa isteri ke sana (luar negeri), atau dia bilang oh saya nggak mau bawa isteri, tapi saya minta pulang ke Indonesia setiap tiga bulan sekali, dan ditanggung semua tiketnya selama saya pulang,” kata Bakti saat menjelaskan alasan beberapa kontraktor IT itu dalam memilih benefitnya.

Menurut penghobi sepak bola ini, program flexible benefit yang diterapkan oleh PT Soltius Indonesia selama ini pelaksanaannya disesuaikan dengan budget yang dimiliki oleh perusahaan. Sehingga bagi konsultan kontrak dalam meminta benefit yang diinginkan atau dibutuhkannyan itu harus disesuaikan dengan budget yang telah ditentukan perusahaan.

Apabila kontraktor IT itu dalam memilih benefitnya melebihi budget perusahaan, maka biaya lebihnya itu pun harus ditanggung oleh pribadi. PT Soltius Indonesia sampai saat ini masih membebaskan para karyawan kontraknya itu dalam menentukan benefit yang ingin dibutuhkan, misalnya rumah ataupun kendaraan.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan bagi karyawan kontrak di PT Soltius Indonesia untuk mendapatkan program flexible benefit itu. Karya Bakti Kaban pun memberikan kriterianya, “Kriterianya yang dimaksudkan oleh manajemen itu adalah orang-orang yang kita pikir bagus, dengan memiliki kinerja baik dan punya value yang cukup tinggi,” ucapnya ketika menjelaskan syarat yang harus dicapai oleh karyawan kontrak untuk mendapatkan program flexible benefit.

Selayaknya PT Soltius Indonesia, tiap perusahaan kini memang sepatutnya memiliki program kesehjateraan kepada para karyawannya. Solusi pun dapat dirancang sesuai kebutuhan perusahaan, misalnya untuk perlindungan kesehatan, perlindungan jiwa bila karyawan meninggal dunia, perlindungan atas kecelakaan dan program dana pensiun.

Adapun keuntungan bagi perusahaan, semisal dapat menekan keluarnya karyawan karena mengundurkan diri, apalagi bagi karyawan yang telah merasakan manfaat dari program ini sehingga akan menunjukan loyalitasnya, kemudian merupakan daya tarik tersendiri bagi seseorang yang ingin bergabung dengan perusahaan. Sementara keuntungan bagi karyawan, dapat menciptakan rasa aman dan ketentraman bagi keluarga serta meningkatkan kepercayaan kepada perusahaan. (ang)