Bonus Berkurang? Maklum, Krisis

Menjelang tutup tahun, biasanya wajah Doni tampak semringah. Pasalnya, setiap akhir tahun perusahaan tempatnya bekerja selalu memberi bonus yang dihitung berdasarkan kinerja karyawan selama setahun. Selama 5 tahun bekerja di perusahaan ini, kinerja Doni tak pernah mengecewakan. Pantas bila ia kerap menerima bonus besar.

Akhir tahun ini seharusnya Doni juga bersemangat menantikan bonusnya. Ia telah menghitung, jika targetnya tercapai, ia bakal menerima bonus hingga 5 kali gaji. Sebagai manager pemasaran di sebuah perusahaan elektronik, tahun ini Doni dan timnya mampu mencapai target yang ditetapkan perusahaan. Ia beruntung karena di semester pertama tahun ini sudah mampu mengantongi target yang diharapkan. Karena itu, wajar bila ia bermimpi bakal dapat bonus besar dari hasil kerja kerasnya selama setahun. Dan, berlibur bersama keluarga ke Bali menjadi salah satu agendanya.

Akan tetapi, angan-angan mendapat bonus besar itu melayang manakala dewan direksi menyatakan bahwa perusahaan dengan sangat menyesal akan mengurangi jumlah bonus. Bahkan, bila kondisi perusahaan memburuk, besar kemungkinan bonus tidak jadi dibagikan. Sekalipun tahun ini perusahaan tempatnya bekerja masih bisa dikatakan aman, bukan berarti mereka tidak terkena dampak krisis. Doni tak menutup mata. Diakuinya, dalam beberapa bulan terakhir penjualan produk elektronik menurun lantaran menurunnya daya beli masyarakat. Jelas, Doni kecewa. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Menurutnya, kelangsungan hidup perusahaan jauh lebih penting dibandingkan bonus yang bakal diterimanya.

Menyoroti kondisi seperti itu, Managing Director Multi Talenta Indonesia Irwan Rei, menilai, dalam konteks penghematan akibat krisis wajar bila pemberian bonus maupun fasilitas ke karyawan ikut terpengaruh. Ia memaparkan, banyak perusahaan di AS tahun ini mengurangi bonus untuk karyawan. Seperti dilansir Kompas.com, issu pemberian bonus akhir tahun bagi pekerja di Wall Street (AS) kini menjadi polemik. Warga AS pembayar pajak bukan hanya menghendaki bonus bagi eksekutif di Wall Street itu dikurangi jumlahnya, tetapi mereka yang merasa telah mendanai bailout untuk industri finansial AS bahkan menginginkan bonus tersebut ditiadakan saja.

Dijelaskan Irwan, krisis keuangan subprime yang bermula dari Amerika Serikat (AS) tidak hanya memengaruhi industri perbankan, melainkan juga industri lain. “Dampaknya menjalar ke mana-mana, termasuk otomotif, hotel dan pariwisata, maupun penerbangan,” ungkapnya. Karena itu, menurut Irwan, wajar bila dalam kondisi krisis perusahaan berupaya melakukan penghematan. Terlebih, permintaan pasar turun dan kredit usaha pun sulit didapatkan.

Irwan menengarai, kasus pengurangan bonus bagi karyawan tidak tertutup kemungkinan terjadi pula pada industri di Indonesia. Bagi perusahaan yang cukup yakin dengan kondisi dan kemampuan mereka di masa depan, bisa saja mempertimbangkan untuk memberikan bonus di kemudian hari setelah kondisi ekonomi membaik. “Ini bisa menjadi bagian dari insentif jangka panjang (long-term incentive),” ungkapnya.

Menurutnya, lebih baik perusahaan mengurangi atau meniadakan pemberian bonus ketimbang mengalami kesulitan keuangan dan malah harus melakukan PHK. Namun, pria kelahiran Manado, 1965, ini menambahkan, tak ada salahnya juga bila bonus tetap diberikan meskipun dalam jumlah yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan saat ini. “Fokus pada top atau critical talent juga perlu diperhatikan agar daya saing perusahaan melalui SDM dapat dipertahankan,” tuturnya menyarankan.

Sementara itu, Human Resources Director Sinarmas Agribusiness and Food Michael Adryanto mengatakan, dalam mengantisipasi dan menghadapi krisis keuangan global saat ini, manajemen kerap melakukan proses konsolidasi sambil terus menjalankan inisiatif yang terkait dengan perbaikan terus-menerus. “Kami makin memerhatikan produktivitas individu maupun unit kerja, di samping melaksanakan program efisiensi,” ungkapnya kepada HC. Dalam konteks manajemen SDM, Michael justru melihat, krisis akan membawa sejumlah peluang bagi perusahaan.

Peluang apa? Ia menyebutkan, paling tidak ada lima peluang yang bisa diraih saat ini. Pertama, perusahaan bisa lebih selektif dalam menilai dan memilih karyawan. Kedua, memperoleh kesempatan untuk melatih dan mengembangkan karyawan, sehingga pada saat krisis bisa dilalui, karyawan lebih siap menghadapi tantangan baru. Ketiga, lebih fokus pada karyawan-karyawan yang memiliki kinerja dan potensi bagus. Keempat, mengkaji ulang tingkat produktivitas karyawan maupun unit kerja. Dan kelima, krisis ini membuka peluang bagi perusahaan untuk memotong berbagai proses atau sub-proses kerja yang tidak memberikan nilai tambah.

Sehubungan dengan pemberian bonus, Michael membenarkan bahwa di masa krisis perusahaan cenderung menurunkan nilai nominalnya, terutama perusahaan-perusahaan yang kinerjanya melemah. “Itu wajar. Yang lebih penting, menurut saya, adalah menjaga objektivitas dan fairness dalam kebijakan penetapan bonus dan implementasinya,” ujar lulusan psikologi Universitas Padjadjaran ini. Kendati demikian, ungkapnya, hingga saat ini Sinarmas Agribusiness and Food masih memberikan bonus dan kompensasi lain-lain sesuai komitmen manajemen. “Itu karena bonus yang dibagikan tahun ini adalah bonus atas kinerja tahun lalu,” katanya menandaskan.

Pria kelahiran Salatiga, 10 Desember 1964, ini menjelaskan, besaran bonus yang dibagikan ke karyawan tergantung pada tingkat pencapaian perusahaan. Dalam hal ini, karyawan menyadari bahwa bonus merupakan kompensasi variabel yang dikaitkan dengan kinerja perusahaan. “Pada saat berhasil mencetak profit bagus, perusahaan menunjukkan komitmennya dengan memberikan bonus yang sepadan. Sebaliknya, karyawan juga bisa menerima kenyataan bila nilai bonus mereka turun pada saat kinerja perusahaan menurun,” tuturnya menjelaskan.

Michael berpendapat, pengurangan bonus akan membuat karyawan mengetahui kondisi yang sedang dihadapi perusahaan. Dengan demikian, diharapkan karyawan akan berusaha mempertahankan atau meningkatkan kinerjanya. Selama ini sistem penilaian kinerja yang digunakan di Sinarmas Agribusiness and Food adalah manajemen kinerja (performance management). “Unit kerja maupun karyawan memiliki target yang disusun di awal periode penilaian, dan hasilnya dikaji secara formal di pertengahan serta di akhir periode penilaian,” paparnya.

Di lain pihak, Manager SDM PT Indosat Mega Media (IM2) Nurdin S. Atmasubrata mengungkapkan, hingga saat ini belum ada pengaruh yang signifikan terhadap perusahaan tempatnya bekerja sehubungan dengan terjadinya krisis keuangan global, begitupun sistem manajemen SDM-nya. “Namun demikian, kami sudah harus memikirkan ke depan dampak yang akan timbul seandainya krisis masuk ke Indonesia dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengantisipasinya,” Nurdin menjelaskan.

Ia berani memastikan bahwa sampai saat ini belum ada pengurangan nilai bonus kepada karyawan. “Semua sesuai dengan revenue dan laba yang dihasilkan perusahaan,” ujar Nurdin. Jadi, selama pendapatan dan laba perusahaan masih dapat dipertahankan hingga akhir tahun ini, bisa dikatakan kondisi perusahaan masih aman. Karyawan pun masih bisa berharap bonusnya diberikan sebagaimana yang diharapkan.