Benefit Strategy, Buatlah yang Out Of The Box

Satu hal yang masih banyak dilakukan perusahaan Indonesia berkaitan dengan benefit strategy adalah benchmarking. Padahal, tidak selalu apa yang kita tiru dari perusahaan lain, seberapa pun suksesnya di mata kita, adalah tepat untuk karyawan kita. Karena tidak selalu benefit yang diberikan suatu perusahaan merupakan benefit yang diperlukan oleh karyawan kita.

Menurut survey yang dilakukan oleh Towers Watson bulan Februari Maret lalu dengan melibatkan 1066 employers di seluruh Asia Pasific, sebanyak 40 persen dari employer atau pemberi kerja menghabiskan 20 persen dari payroll perusahaan untuk kepentingan benefit karyawan. Jumlah yang terhitung cukup besar. Dan menurut riset yang sama, Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik.Akan sangat disayangkan apabila jumlah cost yang besar tersebut tidak dibarengi dengan kesesuaian value yang diperoleh karyawan.

“Strategi benefit tradisional, masih diminati oleh sebagian besar negara di Asia Pasifik. Padahal program-progam benefit yang sifatnya one size fits all sudah tidak lagi relevan saat ini. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk berpikir cara mengoptimalkan cost dengan penyesuaian benefit sesuai kebutuhan karyawan. Salah satunya adalah dengan melakukan fleksibilitas benefit,” ujar Matthew Jackson, Director Benefits Optimisation Towers Watson Asia Pacific.

Penelitian yang dihelat Tower Watson juga mengungkapkan sebuah berita baik. Ketika ditanya mengenai program benefit yang telah mereka rencanakan, sebanyak 32% responden mengaku akan meningkatkan fleksibilitas program benefit mereka. Angka tersebut adalah dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 15%. Itu artinya, program pemberian benefit akan semakin costumized ke depannya.Dan akan semakin beragam pula pilihan karyawan untuk memilih benefit yang sesuai dengan urusan personalnya.

Saat ini, di Asia Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia masih memfavoritkan annual leave, medical dan life insurance sebagai bentuk benefit bagi karyawan. Meskipun demikian, terdapat beberapa bentuk benefit baru, yakni lifestyle benefit. Sebagai contohnya adalah benefit berupa keanggotaan gym club. Benefit itu yang membedakan si karyawan di antara karyawan lain di perusahaan competitor. Ke depannya, sebanyak 18 persen dari responden mengaku akan memperkenalkan benefit-benefit semacam itu. Sementara itu, dalam hal benefit yang berhubungan dengan kesehatan, para pemberi kerja mulai melihat pada total health management approach. Mereka memberikan benefit bagi karyawan tidak hanya meng-cover biaya sakit tetapi lebih menyeluruh meliputi pemeriksaan kesehatan hingga kesejahteraan dari karyawan. Mereka akan melihat pola makan karyawan hingga kecukupan waktu mereka untuk beristirahat sehari-hari untuk mengantisipasi stress pada karyawan. Tidak hanya itu, perusahaan juga akan memberikan kemudahan bagi karyawan untuk mengetahui risiko kesehatan dalam dirinya. Apakah karyawan berisiko terkena penyakit tertentu atau tidak, sehingga bisa menyiapkan antisipasi dari jauh hari. (*/@yunitew)

 

Tags: , , , ,