Belajar dari SAS, Apa yang Membuat Pekerja Anda Happy?

sas 2

MENGAPA karyawan SAS begitu senang dengan pekerjaan mereka? Adalah Nigel Barber, Ph.D. yang mengajak kita belajar dari salah satu Best Companies to Work For. Menurut Nigel, petunjuk pertamanya adalah industri. Perusahaan perangkat lunak menyadari bahwa bottom-line mereka terikat untuk memiliki pekerja produktif yang happy dan mendorong karyawan untuk terus berinovasi. Mereka – para karyawan SAS – menyebut tempat kerjanya adalah sebagai “kampus”, ungkapan yang mencerminkan aktivitas intelektual yang serius dan kreativitas dalam suasana menyenangkan, tenang, dan mandiri.

Dr. James Goodnight, CEO SAS, adalah seorang profesor dan ahli statistik, yang memupuk kepuasan karyawan dengan semangat messianic zeal. Goodnight gemar mengatakan bahwa aset utamanya yakni membukakan gerbang setiap hari kepada karyawannya dengan tugas lainnya adalah memastikan bahwa mereka akan kembali. Dengan parameter staff turnover rate yang hanya 2% pada 2009, Goodnight jelas sangat sukses dalam usaha ini. Meski ini sekaligus menghadirkan kelemahan untuk mobilitas karir ke jenjang struktur lebih atas karena tidak ada yang diganti.

Meminimalkan gangguan konflik merupakan perhatian utama dengan membawa banyak layanan bersama di tempat kerja. Menempati ‘kampus’ North Carolina yang memiliki luas 300 hektar, terdapat dua tempat penitipan dan sebuah kamp musim panas untuk anak-anak. Dekat pusat kampus adalah klinik kesehatan gratis yang digunakan oleh 90% karyawan SAS dan keluarga mereka.

Pusat kesehatan SAS dibangun dengan menelan biaya US$ 4.500.000, namun diperkirakan bisa menghemat biaya kesehatan perusahaan sebesar US$ 5 juta per tahunnya karena karyawan tidak perlu menghabiskan waktu di ruang tunggu rumah sakit. Kampus ini juga memiliki penata rambut, dry cleaning, depot UPS, yang beroperasi sepanjang musim, dan juga ada ahli pajak yang siap dengan advice-nya. Terdapat tiga kafetaria bersubsidi yang menyediakan makanan bungkus untuk bisa dibawa pulang bagi keluarga di rumah. Ada pula dapur di sekitar kampus yang menyediakan makanan ringan gratis maupun hanya sekadar permen.

Di ‘kampus’ SAS juga ada program mengurangi stres kerja seperti pijat, yoga, jalan kaki, aerobik, serta harmonic sound healing and scent mixology. Ada pula manajemen berat badan dan program berhenti merokok. Bahkan Anda bisa “menyelam” sambil melihat film di kolam renang. SAS memberikan seminar tentang perceraian, adopsi, dan persoalan remaja. Aktivitas bagi keluarga di malam hari di luar kampus ada pilihan berupa rodeo, sirkus malam dan Monster Jam Trucks.

Waktu bekerja di SAS hanya membutuhkan 35 jam dalam seminggu. Tidak ada perlakuan khusus dalam hal pengawasan pekerja. Karyawan juga mendapat bagian dari keuntungan perusahaan, dan karena tempat mereka bekerja tetap berbentuk private company, menjadikan aman dari ganasnya Wall Street dan mereka tidak perlu panik dengan kondisi keuangan yang telah mereka hasilkan.

Menjaga karyawan agar tetap senang dibuktikan SAS dengan peningkatan 40 kali lipat pendapatan sejak tahun 1984. Ini tentu saja berimbas pada leluasanya perusahaan memegang ceruk dalam industri perangkat lunak yang kebal dari kompetisi. Memperlakukan karyawan dengan baik adalah strategi yang menguntungkan karena mereka membalasnya dengan bekerja keras. Bahkan, karena sangat termotivasi dengan tempatnya bekerja, karyawan kadang-kadang menggambarkan ‘kampus’nya sebagai sangkar emas dan mereka tidak pernah ingin pergi.

Jika Anda bekerja keras untuk mendukung perusahaan yang memperlakukan Anda dengan baik, Anda tahu bahwa usaha Anda akan begitu dihargai, baik in cash and in kind. Anda yang memiliki ketrampilan tinggi dalam sebuah tim, tidak perlu khawatir bahwa bakat Anda sedang dieksploitasi oleh rekan yang pemalas. Dalam hal lingkungan di SAS, menjadi pemalas hanya akan membawa Anda merasa buruk, bersalah dan malu sendiri karena tidak bisa bekerja sekeras dan seproduktif, seperti yang telah ditunjukkan oleh rekan-rekan Anda sendiri.

Memang benar bahwa karyawan SAS dibayar dengan sangat baik. “Akan tetapi, bukan besarnya gaji yang membuat mereka bahagia. Mereka peduli tentang apa yang mereka lakukan. Lebih penting lagi, mereka merasa bahwa kontribusi mereka diperhatikan dan dihargai. Itu adalah motivator yang kuat,” tukas Nigel. (@erkoes)

Tags: ,