Susah Gampang Menjaring Talent Syariah

Pertumbuhan industri syariah yang terus menanjak, sejauh ini belum diikuti dengan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang paham dan memiliki naluri syariah. Bagaimana Bank Bukopin Syariah mengisi posisi-posisi SDM yang dibutuhkan dalam mengembangkan bisnisnya ?

Bank Bukopin Syariah (BSB) merupakan pemain baru dalam dunia perbankan syariah. Bank yang resmi mendapat izin beroperasi dari Bank Indonesia pada November 2008, ini, baru saja merayakan milad pertamanya. Seiring dengan perkembangan bisnis dan rencana pembukaan cabang pada 2010, mau tidak mau manajemen BSB berlari untuk mengejar kebutuhan SDM atau istilah khususnya sumber daya insani (SDI).

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Divisi SDI BSB, Rismarini, menceritakan pengalamannya berburu SDI di pasaran. Secara garis besar, sebut Rini, panggilan akrabnya, BSB memiliki beberapa cara dalam menjaring talent-talent yang diinginkan. “Bisa melalui informasi di web atau kami mengikuti karier expo. Meskipun saya akui, yang ini (karier expo, red)) lebih kepada corporate image. Selain itu melalui referensi dan lamaran yang masuk. Satu lagi yang sebenarnya cukup efektif adalah mendatangi kampus-kampus,” tuturnya.

Kelebihan mendatangi kampus, imbuh Rini, biasanya peserta yang mendaftar sudah terseleksi sejak awal. “Misalnya, kami membuat pengumuman dengan tantangan apakah Anda ingin berkarier di bank syariah? Nah, dengan woro-woro seperti ini otomatis peminatnya sudah tahu requirement yang kami cari,” kata Rini.

Kampus yang didatangi BSB pun tidak tangung-tanggung, yakni top five kampus bergengsi di Tanah Air, seperti Universitas Indonesia, ITB, IPB, Universitas Padjajaran dan UGM. Rini lantas bercerita bagaimana ia hendak mencari peserta untuk Officer Development Program (ODP) angkatan pertama. “ODP ini adalah program yang kami rancang untuk mengisi staf officer di pos-pos yang masih kosong,” ujarnya.

Beruntung, BSB masuk ke pasar kampus yang sekarang ini sudah memiliki pemahaman tentang industri syariah, khususnya perbankan syariah yang lebih baik. “Padahal kami menyadari dan tahu diri karena BSB baru setahun, sehingga kalaupun tidak diminati kami bisa mengerti karena nama BSB mungkin belum dikenal,” sebut Rini.

Dia mengaku terkejut dengan sambutan pasar pencari kerja di kampus yang justru melebihi ekspektasi. “Saya surprise ODP kami yang pertama diminati oleh para lulusan sarjana dari kampus-kampus elit,” katanya. Yang membuat Rini gembira, jumlah peminat pada saat rekrutmen telah melebihi kapasitas yang ditargetkan.

Selama setahun ini, Rini mengaku BSB memang tidak terlalu gencar memburu talent di pasar, tapi lebih berkonsentrasi kepada konsolidasi ke dalam. “Memang kebutuhan awal lebih kepada pembentukan organisasi, corporate culture, sambil melihat ke depan yang sesuai dengan bisnis syariah,” ujarnya seraya memberitahu cikal bakal BSB berasal dari Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) yang izin operasinya diubah menjadi bank syariah.

Saat ini BSB dipekuat oleh 181 karyawan. Untuk kebutuhan SDM, seiring dengan rencana pembukaan 33 gerai (semacam kantor kas) yang disebut serambi dan dua kantor cabang di Makassar dan Solo, kira-kira diperlukan 200-an orang. BSB tercatat memiliki kantor cabang utama di Salemba, dan cabang lainnya di Melawai-Jakarta Selatan, Samarinda, Surabaya-Darmo, Surabaya-Diponegoro, Bandung, Bukittinggi dan Medan.

Kendala mendapatkan SDM Syariah ini, diakui Rini, terjadi karena beberapa hal. (Lihat box). Rini mengaku salah satunya adalah, para talent terbaik di pasar masih menjatuhkan pilihan pada bank-bank konvensional. “Kami tentu tidak ingin mendapatkan orang nomor 10 atau 11. Paling tidak, orang terbaik di urutan nomor dua atau nomor tiga,” tekadnya.

Rini menyebut ada dua pencari kerja, yakni yang mengedepankan rasional saja dan satunya lebih kepada emosional. “Bagi yang memilih rasional, berpikirnya siapa yang bisa membayar lebih tinggi, dia akan pindah. Sedangkan bagi yang emosional, lebih kena kalau dilakukan pendekatan personal. Untuk itulah yang saat ini kami jual adalah peluang karier yang terbuka lebar. Dengan organisasi baru ini tantangan kariernya jauh lebih besar. Alhamdulillah, anak-anak ODP angkatan pertama kami adalah anak-anak muda yang suka tantangan, dan suka berkreasi. Inilah SDM yang sedang kami cari,” tutur Rini.

Dari seleksi ODP pada April 2009, kelas pertama memang tertunda hingga baru terlaksana November tahun silam. Angkatan pertama ODP BSB terdiri dari 40 orang yang diambil dari internal sebanyak 15 orang dan 25 orang dari eksternal yang didapat dari proses rekrutmen melalui berbagai jalur seperti karier expo, lamaran yang masuk dan roadshow ke kampus-kampus. “Training ini berjalan selama 6 bulan dan setelah lulus akan diberikan ikatan dinas selama 5 tahun,” imbuhnya.

Rini bersyukur sejauh ini peserta ODP belum ada yang rontok. “Mudah-mudahan tidak ya, karena saya memberikan komitmen kalau mereka ada apa-apa saya akan turun langsung. Maklum, kami mengeluarkan investasi yang besar,” katanya berharap.