Strength Typology di BPPT

Oleh Rudi Kuswanto

Mengelola sumber daya manusia (SDM) dalam jumlah ribuan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang praktisi HR. Ini pula yang dialami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bagaimana badan pemerintah ini melaksanakan tugas dan fungsi HRD dengan melibatkan alat bantu?

Dengan jumlah karyawan yang mencapai tiga ribuan, BPPT memiliki pekerjaan rumah yang besar. Terlebih, makna yang melekat pada institusi ini mengandung ekspektasi yang tinggi dan itu hanya bisa dijalankan oleh SDM pilihan.

Bagaimana BPPT mengelola SDM-nya, tentu menjadi kajian menarik. Beruntung HC mendapat sharing dari Ir. Sulaiman Kurdi, Kepala SDMO BPPT. Dalam pandangan Kurdi, di era kompetisi bisnis yang tajam, kecepatan dan ketepatan adalah kunci segalanya dalam memenangkan persaingan bisnis. Menurutnya, sebuah produk betapa pun hebatnya secara teknis tapi jika sampai di pasar terlambat dan telah kehilangan momentum, dipastikan tidak akan membuahkan apa-apa.

“Apa pun bisnis dan produknya, Anda membutuhkan manusia sebagai sumber daya strategis. Dan itu bisa menjadi kenyataan jika Anda mampu dengan cepat dan tepat memberdayakan SDM perusahaan sesuai bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Untuk itu Anda memerlukan tools yang cepat, tepat, mudah diterapkan, dan relatif murah,” tuturnya.

Salah satu jawabannya, menurut Kurdi, melalui assesmen bakat. “Anda bisa bayangkan, jika kita melakukan pemetaan kompetensi untuk 3.000 pegawai seperti di BPPT melalui cara konvensional, mungkin butuh 300 batch. Jika setiap minggu hanya bisa dilakukan 10 batch secara serentak, paling sedikit BPPT harus menyediakan waktu 30 minggu atau hampir 8 bulan. Tentu saja itu memakan biaya yang sangat mahal,” katanya.

Belum lagi, Kurdi melanjutkan, hasilnya hanya sebatas mengetahui kompetensi seseorang apakah sesuai atau tidak sesuai dengan pekerjaan yang ditugaskan (standard competency) kepadanya. Sementara tools yang ideal adalah yang bisa menawarkan potensi dan bakat seseorang yang berkenaan dengan tipe-tipe pekerjaan dasar, misalnya memimpin, meneliti, berkreasi atau sekadar pekerjaan rutin yang terangkum dalam 8 strength cluster.

“Dengan demikian, lebih mudah bagi pemberi tugas untuk mengorganisasikan kemampuan tim dalam menyelesaikan tugas atau misi tertentu karena semua anggota tim mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kekuatan yang dimilikinya,” katanya lagi. Kurdi mengakui, ia sangat terbantu dengan tools yang digunakan saat ini, strength typology. “Dengan tools ini, kami di BPPT hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 1 bulan dengan hasil yang cukup baik untuk bisa dilanjutkan dan dipakai dalam proses nurture,” ungkapnya.

Tentang strength typology, HC berkesempatan mendengarkan paparan dari penemunya, Ir. Rama Royani, pendiri LeadPro Manajemen Consultant. (Baca juga artikel: LeadPro Luncurkan Strength Typology di portalhr.com). Istilah strength dalam strength typology merupakan kepanjangan dari Servicing, Technical, Reasoning, Elementary, Networking, Generating Idea, Thinking dan Headman. Di strength typology ini, dari 144 kekuatan yang diringkas menjadi 30 kekuatan dengan tujuan memudahkan orang untuk memilih mana yang menjadi kekuatan mereka.

Terkait dengan praktik SDM di BPPT, Kurdi mengakui, sebelum menggunakan strength typology, ia bersama Abah Rama – panggilan Rama Royani – terlibat diskusi yang cukup intens karena masing-masing membawa konsep pembinaan SDM dari dua pendekatan yang berbeda. “Ketika itu saya menyakini konsep pembinaan dengan platform nurture, yaitu pemahaman bahwa pada dasarnya, melalui proses pembinaan tertentu, setiap manusia bisa dibentuk sesuai dengan rencana kita,” katanya.

Sementara itu, Abah Rama memperkenalkan konsep pembinaan dengan platform nature, yakni konsep pembinaan berdasarkan bakat alamiah seseorang yang pada dasarnya unik (34 bakat). “Kalau kita tahu apa yang menjadi kekuatan dan keunggulan kita, kelemahan kita menjadi sama sekali tidak penting,” kata Abah Rama. “Kita dapat hidup nikmat sekaligus berkinerja (perform greatly) bersamasama dengan kelemahan kita. Itu berlaku untuk semua orang jika tahu dan paham kekuatan dirinya.

Kurdi menjelaskan, strength typology sangat membantu dalam proses nature (proses pemindaian bakat dan kemampuan) untuk bisa melakukan proses nurture (proses pembinaan sesuai kekuatan) secara cepat dan efektif di BPPT. Ia menambahkan, tools ini sangat dimungkinkan untuk melakukan self development. Alasannya, melalui pemahaman atas kekuatan yang ada pada dirinya, seseorang akan mampu menyiasati pengembangan kemampuan dan kinerjanya sehubungan dengan pekerjaan atau tugas yang diberikan kepadanya.

“Saat ini BPPT sedang mengembangkan pola pembinaan atau development tools yang akan diberikan kepada semua leader di BPPT yang jumlahnya kurang lebih 300 orang, dan mencetak leader yang disiapkan untuk tahun 2015,” kata Kurdi sambil menyebut program yang dimaksud bernama “BPPT’s Leader 2015”.

Ditambahkan Kurdi, tools strength typology juga digunakan untuk berbagai hal di BPPT, seperti rekrutmen pegawai, mempersiapkan development tools bagi para leader, menyusun career path, melakukan succession planning, team-work developement, sampai evaluasi kinerja karyawan. “Seperti pas foto, Anda bisa menggunakannya untuk berbagai kepentingan yang memerlukan identitas diri,” ujarnya.

Kurdi mengingatkan, tools ini hanya membantu dalam proses pemindaian dan pemetaaan. Selanjutnya adalah perencanaan dan pembinaan SDM (nurture) yang harus dirancang dan dilakukan secara seksama. “Proses nurture mempunyai tantangan dan kendala yang harus dilakukan secara konsisten dan terintegrasi di seluruh jajaran manajemen,” imbuhnya

Kurdi setuju jika strength typology dikatakan “cepat, tepat, sederhana dan murah”. Kalaupun ada kelemahannya, menurutnya, adalah ketidak-akuratan hasil karena ketidak mengertian seseorang dalam melakukan test, atau kepura-puraan (pretending) dari obyek mengingat tools ini termasuk self-assessment tools. Jadi, tergantung bagaimana obyek merespons pertanyaan-pertanyaaan yang ada pada test-sheet. Dalam mengisi test ini, kunci keberhasilannya terletak pada pemahaman dan kejujuran obyek.

Rudi Kuswanto