Sekilas Pandang: The 33rd International Congress on Assessment Center Methods

Pada tanggal 26-28 September 2006 yang lalu, telah diselenggarakan kongres Assessment Center International yang ke-33 di Kota London, UK. Kongres Assessment Center yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali itu, tahun ini dilaksanakan di The Langham Hotel, sebuah Hotel berbintang lima yang letaknya cukup strategis, dengan bangunan yang bergaya kuno namun artistik.

Kongres Internasional Asseessment Center (A/C) kali ini dihadiri oleh 24 negara yang tersebar di seluruh dunia. Hal yang cukup menggembirakan, ternyata perwakilan dari negara Indonesia yang terdaftar cukup banyak, 12 orang dari sekitar seratus dua puluhan lebih peserta kongres.

Kongress A/C Internasional yang ke-33 ini didedikasikan untuk mengenang Douglas W. Bray, Ph.D (1918-2006), seorang inventor assessment center modern yang saat ini telah digunakan oleh beribu-ribu perusahaan di seluruh dunia. Bray membuktikan efektifitas metodologi assessment center dalam riset yang dipimpinnya di AT&T lebih dari 25 tahun. Beliau telah mengabdikan diri sekian puluh tahun di bidang Assessment Center.

Suatu prestasi yang sangat layak untuk diapresiasi. Kongress International A/C dibuka oleh Development Dimensions International (DDI), dilanjutkan dengan General Session bertema: ”50 year of the Management Progress study : What We’ve Learned and What We’ve Missed”, dipresentasikan oleh Ann Howard, Ph.D, seorang Chief Scientist DDI yang juga istri dari alm. Douglas W. Bray.

Dalam riset yang dipimpin Bray selama lebih dari 50 tahun di Management Progress Study (MPS), Ann dan Bray membandingkan metode assessment center yang berkembang saat ini dengan konsep awal metode assessment center. Presentasi diakhiri dengan diskusi mengenai hal-hal yang dapat diimplementasikan untuk pengembangan Assessment Center dan hal-hal yang perlu diperbaharui dari riset tersebut.

Kongres dilaksanakan selama 3 hari, membahas sebanyak 34 topik mengenai Assess ment Center dan disajikan dalam sesi paralel . Pembicara tidak hanya berasal dari kalangan konsultan seperti DDI, tetapi juga dari kalangan praktisi seperti UBS, ABN AMRO, dan The Coca Cola Company. Kalangan intelektual pun turut ambil bagian dalam sesi presentasi, seperti University of Illinois, Colorado State University, University of Hertfordshire, bahkan dari Nasional Open University, Taiwan. Hal ini sejalan dengan topik kongres Assessment Center yang ke 33 yaitu ”Cross Cultural Applications Around The World”.

Permasalahan yang dikupas seputar permasalahan-permasalahan terkini mengenai implementasi Assessment Center. Salah satu contoh adalah materi yang membahas tentang: “Inconsistency in Assessment Center Performance : Measurement Error or Something More?” yang dibawakan oleh Allyssa Mitchell Gibbons & Deborah E Rupp (University of Illinois, Urbana). Dalam Studynya dijelaskan bahwa kemungkinan Inconsistency dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kesalahan assessor, kesalahan dalam proses rating, maupun kesalahan dalam membuat desain/simulasi/tools yang digunakan. Hasil penelitian menimbulkan pertanyaan yang cukup menggelitik, bahwa jika ternyata munculnya Inconsistency dalam pengukuran assessment center bukan hanya karena kesalahan assessor, tetapi juga disebabkan oleh Individual differences, kita dapat melihat Inconsistency dalam assessment center tersebut sebagai suatu informasi penting yang perlu kita gali lebih jauh mengenai kandidat, sehingga inconsistency tidak melulu dipandang sebagai kesalahan dalam pengukuran.

Satu hal lagi yang cukup menarik untuk dibahas adalah materi yang ditayangkan oleh George Thornton, Ph.D (University of Colorado) mengenai “Comparison of Assessment Centres for Prediction vs Deve lopmen: Results of an International Survey”. Dalam materinya tersebut Thornton menyimpulkan bahwa sebelum melaksanakan assessment perlu diketahui terlebih dahulu tujuannya secara jelas: apakah assessment tersebut ditujukan untuk seleksi dan promosi ataukah untuk pengembangan? Menurut Thornton, Assessment dengan tujuan yang berbeda harus menggunakan desain dan tools/metode yang berbeda pula, karena keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Assessment Center yang ditujukan untuk seleksi dan promosi haruslah membandingkan kompetensi kandidat dengan target job, metode assessmentnya bersifat lebih sederhana, dan tidak perlu dilakukan feedback. Sedangkan Assessment center yang bertujuan untuk pengembangan seyogyanya membandingkan kompetensi kandidat dengan kompetensi ”current job”nya, Desainnya dibuat lebih kompleks dan sangat perlu dilakukan feedback untuk mengetahui arah pengembangannya. Dengan kata lain, telah terjadi pergeseran dalam metode Assessment Center yang perlu kita cermati untuk dapat diterapkan secara benar di perusahaan kita, tentunya dengan tetap berpegang pada Kode Etik Pelaksanaan Assessment Center di Indonesia yang telah kita miliki bersama.

Sumber: Majalah Human Capital No. 32 | November 2006