Pro-Kontra Metode Evaluasi Terbaik 9

KUBU KOMBINASI
EXPERD

PROSES seleksi merupakan salah satu proses penting dalam perekrutan karyawan bagi suatu perusahaan. Di dalamnya terdapat tes-tes yang dilakukan untuk mendapatkan kandidat yang tepat untuk menduduki sutu jabatan tertentu di perusahaan. Ketika bicara mengenai tes psikotes atau behavioural interview, pasti akan berkaitan dengan lembaga psikologi yang memang menangani hal ini.

Experd itu adalah konsultan human resources yang bergerak khusus untuk memberikan konsultasi di bidang HRD. Konsultasi di bidang HRD ini mencakup misalnya rekrutmen lalu assessment. “Kami memotret apakah calon-calon karyawan ini cocok atau tidak di posisinya,” ujar Yuliana, salah satu senior consultant di Experd. “Selain itu kami juga memberikan jasa data bank apabila perusahaan membutuhkan karyawan, kami punya list karyawan,” tambahnya. Meski demikian Experd berbeda dengan yang disebut head hunter. “Kami bukan head hunter tapi kami punya bank data orang-orang yang mau pindah. Jadi bukan kami yang menawarkan tapi kami menampung mereka yang ingin mencari kerja dan mencari karier yang lebih baik. Nanti kalau ada perusahaan yang butuh
akan kami salurkan,” jelasnya lagi.

Dalam mencari kandidat yang cocok dengan jabatan yang tersedia, Experd melakukan pendekatan pada kompetensi. “Kami masih menggunakan beberapa alat ukur psikologi, tapi sebenarnya kami lebih pada evaluasi berbasis kompetensi,” tuturnya. Hal tersebut dimaksudkan sebagai pemotretan atau penilaian profil seseorang yang diarahkan ke kompetensi-kompetensi tertentu yang diperlukan untuk berhasil dalam melakukan pekerjaannya. “Nah, untuk mengukur hal itu kami masih menggunakan alat ukur psikologi tapi kami juga menggunakan alat lain yang sifatnya behavioural atau langsung memotret perilaku. Karena seluruh konsultan kami adalah psikolog yang kuat di psikologi dan analisa kepribadian, maka kami gabung,” tegasnya.

Pendekatan yang dilakukan Experd bersifat multi, sehingga penggunaan interview maupun alat ukur psikologi lebih ditekankan hanya sebagai alat yang bisa memperkaya termasuk saling melengkapi.

Hasil alat ukur psikologis memprediksi kecenderungan perilaku orang berdasarkan unsur-unsur kepribadiannya, cara kerjanya dan kemampuan berfikirnya sedangkan wawancara berdasar perilaku menghasilkan data-data berdasarkan pengalaman masa lalu untuk memprediksi perilaku seseorang di masa datang. “Jadi kami punya pengalaman dia, kami punya gambaran mengenai apa yang ada di dalam baik secara inheren maupun secara yang dia pelajari yang sifatnya tidak kelihatan secara langsung,” ujar Yuliana.

Selain kedua cara di atas, Experd juga menggunakan cara lain yaitu reference check. “Jadi kami melakukan pengecekan referensi berdasarkan misalkan dia dulu kerja di mana, kami mencari nara sumber di perusahaan tersebut untuk memastikan orang ini kinerjanya seperti apa, apakah dia betul seperti analisa kami, apa ada hal-hal yang perlu kami pertimbangkan betul. Selain itu ada lagi kegiatan-kegiatan yang mengukur perilaku juga yaitu kegiatan simulasi misalnya diskusi kelompok, presentasi, analisa kasus. Itu kami gunakan semua untuk memotret perilaku,” paparnya.

Latar belakang penggunaan reference check adalah persaingan kerja sekarang kan semakin ketat, orang-orang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pekerjaan, tapi Experd punya tanggung jawab untuk betul-betul menempatkan orangnya di posisi yang cocok. Namun Yuliana menegaskan bahwa pemakaian alat tersebut dilakukan pada hampir semua posisi, kecuali simulasi yang hanya dilakukan tergantung permintaan, artinya ada posisi-posisi yang membutuhkan kompetensi yang makin banyak. Bagi Experd sendiri, semua tools itu adalah tools, artinya tidak ada satupun yang dipercaya seratus persen karena semuanya bisa saja tidak menggambarkan yang adanya karena kondisi tertentu yang membuat orang itu tidak optimal saat melakukan tes.

Menurut Yuliana, kelebihan alat ukur psikologi yaitu dapat mengukur potensi yang tidak terlihat, sedang kelemahannya adalah karena bentuknya yang tertulis maka akan mudah dihapal dan mudah ketinggalan jaman. Oleh karena itu tes tersebut harus terus di up grade atau dikembangkan. Sedangkan tehnik wawancara, masih menurut Yuliana, kelebihannya adalah bisa memotret pengalaman-pengalaman masa lalu. “Tapi wawancara itu perlu keahlian khusus, kalau tidak bisa menggali juga akan sulit. Wawancara itu bukan hanya ada daftar pertanyaan terus kami tanya, itu ga cukup sama sekali. Jawaban, cara dia menjawab harus dilihat. Observasi itu sangat penting dalam wawancara. Interviewer juga harus mengikuti training. Untuk memberikan pertanyaan memang mudah, tapi menginterpretasikannya yang sulit,” tuturnya.