Pintar Tetapi Sulit Cari Kerja, Ini Alasannya

Kecerdasan tidak selalu menjadi jaminan bahwa pemiliknya bisa dengan mudah mencari pekerjaan. Mungkin pernah di sebuah acara reuni kita bertemu dengan orang yang dulunya paling pintar di kelas, justru saat ini telah lama menganggur. Lepas dari pengalaman yang pernah ia miliki selama di sekolah atau di tempat lain, ia tetap harus menunggu lama sebagai pengangguran atau bekerja pada tempat yang tidak sepadan dengan kompetensi yang dimilikinya.

Beberapa sumber mengatakan bahwa penyebab dari kegagalan “orang pintar” ini disebabkan oleh adanya bias blindspots. Maksudnya adalah ada semacam bias ketika mereka mendifinisikan tingkat kemampuan kognisi mereka, ada yang terlalu optimis merasa di atas rata-rata atau sebaliknya. Bertolak dari hipotesis tersebut, Maurice Edwing, seorang entrepreneur dan blogger HarvardBizz mencoba melakukan pengamatan kecil-kecilan dengan melihat CV maupun profil Linkedin dari orang-orang dengan kemampuan kognisi tinggi tersebut. Berikut adalah hasil yang diperoleh yang diprediksi menjadi penyebab sulitnya mereka mendapat pekerjaan:

1. Banyak orang pintar yang penampakan profil Linkedin-nya tampak seperti “tidak sedang mencari kerja”

Sejak dahulu kala, pemberi kerja atau HR mana pun selalu mengerucutkan kandidat-kandidat karyawannya dalam kriteria yang lebih spesifik. Misalnya saja mereka mencari seorang akuntan, mereka menyortir dari CV atau linkedIn orang-orang yang secara mudah terjaring dengan kata kunci yang ia pakai.

Kadang-kadang, para pencari kerja yang sebenarnya adalah orang cerdas tersebut merasa insecure dengan statusnya saat ini atau posisi sebelumnya sehingga mencantumkan deskripsi yang tidak umum. Misalnya saja, “Financial Problem Cracker” atau “Organization Problem Killer” yang akhirnya justru tidak terdeteksi oleh praktisi HR yang tengah mencari karyawan.

2. Mereka memiliki profil yang terlalu detail dan panjang

Salah satu kelebihan yang dimiliki orang cerdas adalah kemampuan mereka untuk melakukan lebih banyak hal dibandingkan orang kebanyakan dalam rentang waktu yang sama. Ketika kita melihat CV dari orang pintar, jangan heran jika apa yang dilakukannya dalam sepuluh tahun menyerupai pengalaman orang lain selama 30 tahun. Sebenarnya, tidak masalah juga seandainya mereka telah menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang singkat, yang membuat itu masalah adalah cara mereka mempresentasikannya.

CV yang terlalu panjang pada kenyataannya justru menyulitkan praktisi HRD dalam menyeleksi kandidat. Terlalu banyak tulisan membuat mereka sulit fokus pada apa yang sedang dicari dan bahkan menyiratkan bahwa pemilik CV berusaha terlalu keras untuk mendapatkan pengakuan dari recruiter tersebut. Untuk itulah, perlu diingat bahwa ketika menulis CV biasakan untuk menuliskan pengalaman-pengalaman yang relevan dengan posisi yang kita sasar. Selain itu, tampilkan dengan format yang menarik dan mudah dibaca.

3. Para orang pintar tersebut mempersempit area kerja mereka

Ada kalanya kita menawarkan sebuah pekerjaan kepada orang yang kita anggap sangat pintar, jawaban mereka justru sebuah penolakan, “Maaf, tapi aku tidak ahli dalam bidang itu.” Padahal sebelum menawarkan kepadanya kita sudah memperkirakan bahwa dia punya kapasitas untuk belajar keterampilan baru yang kita tawarkan.

Ini juga menjadi salah satu masalah orang cerdas yang sulit mencari kerja. Mereka lebih senang menerima pekerjaan yang jelas-jelas mereka sudah mempunyai pengalaman di bidang tersebut. Padahal jika kita hanya mau mengerjakan pekerjaan yang kita sudah menguasai prosesnya, sama artinya dengan kita bertahan di zona aman. Pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian semacam ini adalah bahwa seseorang perlu keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan pekerjaan dan belajar keterampilan baru.

4. Tidak pandai mempromosikan diri

Beberapa orang yang cerdas adalah over-achiever. Mereka lebih sering menunjukkan kemampuannya dengan hasil kerja ketimbang dengan kata-kata. Masalahnya, orang yang cerdas pun tetap harus melewati proses wawancara sebelum diterima sebagai karyawan. Untuk itulah kenapa mereka perlu “memamerkan” keahliannya lewat kata-kata terlebih dahulu.

Menyikapi hal tersebut, mereka dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik dengan belajar cara berkomunikasi, belajar untuk mengungkapkan prestasi dengan cara yang santun dan tidak mengesankan kesombongan.

5. Banyak orang pintar yang terlalu “rendah hati”

Lepas dari selentingan bahwa orang-orang yang sangat pintar terlalu bangga atau percaya diri akan kemampuannya, banyak juga orang jenius yang justru berpikir bahwa apa yang ia telah kerjakan adalah hal yang normal. Mereka hanya mengerjakan apa yang mereka ingin kerjakan yang mungkin memang kadang-kadang dipandang aneh oleh banyak orang. Oleh sebab itu, mereka menjadi kesulitan untuk menjual kemampuan mereka sendiri.

Mereka memiliki keterbatasan dalam menampilkan kemampuan yang mereka miliki dalam bentuk kalimat-kalimat. Pada akhirnya, justru tidak seorang pun menyadari bahwa mereka bisa melakukan hal luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh orang kebanyakan.

Baca juga: 8 Ciri “Karyawan Terbaik”

Tags: ,