Pilih Mana: Staff atau MT?

MT

BAGI sebagian mahasiswa tingkat akhir, skripsi, sidang, wisuda adalah beberapa hal pastinya sering bersliweraan di pikiran mereka. Akan tetapi, selain semua yang disebut di atas, ada satu hal lain yang mau tak mau harus mereka pikirkan yakni, “apakah yang akan dilakukan setelah lulus?”

Banyak dari mereka yang sudah memiliki rencana dan roadmap yang matang mengenai masa depannya. Tidak sedikit juga yang masih bingung. Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun yang ingin jadi pengangguran.

Dari berbagai banyak pilihan, menjadi intrapreneur hampir menjadi favorit semua orang. Hanya saja tidak semua calon fresh-graduate tersebut tahu bahwa selain menjadi staff, mereka memiliki pilihan lain yang lebih menjanjikan yakni menjadi Management Trainee (MT).

Perusahaan merekrut MT untuk mendapatkan kandidat yang tepat, berkualitas dan memiliki keterampilan tertentu hingga ke depannya kandidat tersebut dapat ditempatkan di posisi managerial (future leader). Ada beberapa alasan mengapa perusahaan lebih memilih MT daripada staff biasa untuk menjadi pemimpin masa depan.

Yang pertama adalah karena setiap perusahaan menginginkan bahwa investasinya di bidang sumber daya manusia tidak berujung sia-sia. Logikanya begini, jika mereka mengambil manager dari level staff, maka ada kemungkinan bahwa staff tersebut akan keluar dari perusahaan, dan mereka hanya akan bertindak seperti apa yang diperintahkan atasannya.

Sedangkan MT ini, akan didampingi mentor dan mengajarkan mereka banyak hal, mulai dari level staff, supervisor, dan managerial, sehingga lebih memahami kondisi bisnis perusahaan secara komprehensif.

Dengan hanya melihat sekilas pun kita tahu bahwa posisi MT ini lebih menguntungkan bagi kandidat daripada staff biasa. MT juga diyakini sebagai shortcut menuju posisi karir papan atas. Selain jenjang karir yang jelas, menjadi MT juga memiliki keuntungan lain seperti, start gaji yang lebih tinggi dibandingkan staff biasa, diprioritaskan dalam berbagai pelatihan, dan mendapat penugasan yang menantang.

Tetapi, sekali lagi, there’s no shortcut to success. Menjadi MT tentunya tidak semudah seperti kita membidik posisi staff. Banyak tahapan yang harus dilalui seperti psikotesT, online test, TOEFL, assessment test, wawancara dan tes medis. Kandidat MT juga biasanya dipilih dari fresh graduate, jadi tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi MT.

Bertolak pada penjelasan di atas, mendesak bagi mahasiswa tingkat akhir, yang berminat menjadi MT, untuk bersiap-siap, karena tidak semua perusahaan membuka posisi MT. Pun seandainya mereka membuka pendaftaran, biasanya itu dilakukan setahun sekali atau dua kali. Sementara, jumlah pendaftar sangat banyak, penting bagi mereka untuk banyak mencari informasi sejak dini dan mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga mereka memiliki kualifikasi sebagai kandidat MT. (TW/images: dlsl.edu.ph)

Tags: , , , , ,