Perusahaan Sebaiknya Tidak Mengintip Facebook Pelamar Kerja

The social networking site Facebook's home page. Image shot 2011. Exact date unknown.

Dalam menyeleksi kandidat atau pelamar kerja, sebagian perusahaan saat ini melakukan background checking. Salah satu yang “diintip” dalam background checking tersebut adalah akun media sosial pelamar/kandidat.

Namun penelitian terbaru dari Stoughton, Thompson dan Meade (2013) menyarankan, perusahaan sebaiknya tidak melakukan itu. Khususnya terhadap situs media sosial yang tidak berhubungan langsung dengan dunia pekerjaan seperti Facebook.

Hasil temuan yang dipublikasikan Springer Science+Business Media New York akhir November lalu seperti menjawab kegalauan yang dirasakan perusahaan selama ini. Masih dalam perdebatan mengenai apakah perusahaan sebaiknya mengecek akun media sosial karyawan atau calon karyawan terkait isu privasi.

Hasil studi menemukan bahwa screening karyawan melalui situs jejaring sosial menyebabkan calon pelamar merasa privasi mereka telah dilanggar, yang pada akhirnya berakibat pada menurunnya daya tarik perusahaan di mata mereka.

Turban dan Keon (1993) Highhouse et al (2003) membagi organizational attraction dalam 3 bagian, yaitu: daya tarik organisasi secara umum (general attractiveness), minat untuk bekerja pada perusahaan itu, dan persepsi tentang prabawa (prestige) dari organisasi tersebut. Dalam studi ini daya tarik perusahaan yang dimaksud adalah daya tarik secara umum, dimana termasuk di dalamnya adalah sikap awal seseorang terhadap sebuah perusahaan sebagai calon tempat bekerja.

Pada akhirnya laporan itu menyarankan perusahaan sebaiknya mempertimbangkan untung rugi dalam melakukan screening melalui social media ini karena hal ini dapat mengurangi daya tarik perusahaan.

Sebagai tambahan, hasil riset itu juga menyarankan pelamar kerja juga perlu mengubah konsep mereka tentang situs jejaring sosial, dan mempertimbangkan melihat keberadaan mereka di aku media sosial tersebut dari kaca mata calon pemberi kerja. (*/@mei168)

Tags: , ,