Merekrut dengan Bar Raiser ala Amazon

amazon

amazon

Perusahaan online raksasa seperti Amazon dihadapkan pada problem pencarian karyawan untuk dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Untuk pelayanan online, mereka masih bisa mencarinya tanpa perlu proses seleksi yang ketat. Sedangkan untuk level atas, mereka memerlukan strategi khusus.

Di Amazon, dikenal karyawan yang disebut sebagai Bar Raiser. Sebenarnya, mereka adalah karyawan biasa, yang bekerja di berbagai departemen di Amazon. Perbedaan dengan karyawan yang bukan bar raiser adalah karena mereka mempunyai tugas membantu perusahaan dalam mencari top talent. Mereka memiliki hak veto untuk memilih kandidat, meskipun kandidat tersebut tidak memiliki keterampilan dan pengalaman di bidang yang sedang membutuhkan orang baru.

Program tersebut, yang telah dibidani dan diasah oleh founder sekaligus CEO Jeff Bezos, oleh Amazon diyakini sebagai sebuah budaya unik yang akan menjadikan perusahaan e-commerse raksasa itu ditakuti oleh kompetitornya.

“Tidak ada perusahaan yang merekrut dengan cara yang sama seperti Amazon,” ungkap Valerie Frederickson, pemilik dari Menlo Park, Calif., konsultan HR yang juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan di Silicon Valley seperti Facebook dan twitter. “Ia tidak hanya merekrut yang terbaik dari yang mereka lihat, tetapi juga tidak malas mencari dan terus mencari talent yang tepat,” ungkap Valeri seperti dikutip dari Wall Street Journal.

Namun, sejak jumlah karyawan Amazon membengkak hingga 110.000 karyawan, beberapa karyawan mengungkapkan bahwa program tersebut sebenarnya menelan “korban”. Beberapa orang menghindar ketika ditunjuk sebagai bar raiser. Pasalnya, sebagai bar raiser, mereka tidak diberi gaji tambahan, meskipun mereka tetap dijanjikan percepatan promosi. Sedangkan mereka harus melakukan assessment terhadap 10 kandidat per minggu, masing-masing 2-3 jam, termasuk pertemuan langsung dan paperwork. Di saat yang bersamaan, mereka juga harus menjalankan tugasnya sebagai karyawan. Hal tersebut membuat bar raiser menjadi terlalu lelah.

Memang tidak semua karyawan harus direkrut melalui bar raiser. Misalnya saja karyawan yang ditempatkan di warehouse. Namun, selain posisi tersebut, para kandidat harus melewati tahap interview, kemudian interviewer harus menulis evaluasi dan kemudian kelayakannya akan didiskusikan dengan 6-7 bar raiser dalam perusahaan. Dalam merekrut karyawan, mereka memang berusaha untuk memberikan penilaian seobjektif mungkin.

Ketika ditanya mengenai program bar raiser ini, Rachabathuni, salah satu bar raiser mengatakan, “Ini adalah sebuah upaya yang butuh komitmen. Saya membatasi diri untuk melakukan enam kali interview kandidat setiap minggunya.”

Beban bar raiser di Amazon semakin tinggi ketika perusahaan ini membutuhkan lebih banyak lagi karyawan sehubungan dengan ekspansi yang dilakukan seperti, same day delivery dan pembuatan kindle tables. Sebagai gambaran, terhitung pada akhir September 2013, karyawan Amazon bertambah 30,000 dari tahun sebelumnya. Jumlah yang hampir sama dengan total karyawan yang dimiliki Ebay. Sedangkan perusahaan IT raksasa lainnya, Google, karyawannya justru berkurang menjadi 46,421 dari 53,546 sebagai imbas dari pemangkasan karyawan ke divisi Motorola Mobility. Apple, pada September 2013 tercatat memiliki 80,300 meningkat 10%. Dan terahir Microsoft, jumlah karyawan meningkat 5% menjadi 99,000 pada tahun fiskal yang berakhir Juni 2013.

Dave Clark, VP dari Amazon world-wide operation mengungkapkan bahwa biasanya, perusahaan melakukan 75,000 kali interview untuk merekrut sebanyak 30,000 karyawan. “Kita memakai bar raiser karena mereka membantu kita untuk selalu konsisten terhadap skill sets dan perspketif yang sedang kita cari,” ungkap Dave seperti dikutip dari WSJ.

Image courtesy: Glassdoor

Tags: ,