Menghadapi Kandidat Hebat tapi Arogan

haryosuryosumarto

Sebagai perekrut mungkin Anda sering menemukan kandidat yang sangat berpotensi, tetapi sayangnya sifatnya sangat arogan. Kandidat seperti ini menganggap diri terlalu tinggi, yang  ditunjukkan dengan cara berbicara yang menganggap dirinya hebat. Bagaimana tips menghadapi kandidat seperti ini?

Menurut Brian Larson, Direktur Business Development pada HireFuel, dalam menghadapi kandidat yang merasa dirinya “di atas segalanya” sangat penting bagi perusahaan untuk menjelaskan ekspektasi perusahaan terhadap si kandidat, dan apa yang dapat diterima serta apa yang tidak bisa diterima.

“Penting bagi orang-orang seperti ini untuk tahu kontribusi positif mereka dihargai, tetapi mereka juga harus tahu bahwa semua orang harus mematuhi kebijakan yang sama dan mereka harus dapat bekerjasama dengan orang lain sehingga memaksimalkan bakat setiap orang. Bila kandidat tidak bisa melakukan hal ini, mereka tidak akan berkontribusi maksimal terhadap perusahaan. Sebagai organisasi bisnis, kita tidak dapat mempekerjakan orang seperti ini,” ujar Brian seperti dikutip dari High Table.

Komentar lain mengatakan, apabila kandidat tersebut layak untuk direkrut, maka kemudian perusahaan dapat mempertimbangkan menyewa jasa coaching eksekutif. Jasa seperti ini dapat melatih kandidat yang arogan agar dapat berkomunikasi dan melakukan manajemen dirinya dengan lebih efektif.

Menurut Haryo Suryosumarto, Founder dan Managing Director PT Headhunter Indonesia, arogansi sebetulnya menunjukkan adanya satu atau lebih kelemahan dari seorang kandidat yang ingin ditutupinya.

“Seorang interviewer yang berpengalaman bisa mengetahui adanya indikasi sifat arogan ini dalam waktu kurang dari 15 menit pertama pada sesi wawancara,” tambah Haryo.

Kandidat arogan, terlepas dari pengetahuan dan skill yang bagus biasanya tidak sukses dalam wawancara, karena arogansi biasanya merupakan bibit perusak dalam suatu organisasi.

“Intinya mempekerjakan kandidat arogan menjadi terlalu beresiko, karena kerugian (non materiil) yang kemungkinan ditanggung perusahaan menjadi tidak sebanding dengan kemungkinan keuntungan (materiil) yang bisa diperoleh,” tutup Haryo.

Tags: ,