Menggali Kepuasan User Menggunakan Tenaga Outsourcing

Menggunakan tenaga outsourcing memang sangat efektif dan sangat efisien, terutama bagi perusahaan yang berskala besar. Apalagi kalau dilihat dari segi tanggung jawabnya, pihak user tidak bertanggung jawab akan hal apapun. Dibalik itu semua, apakah pihak perusahaan atau user dalam menggunakan sistem outsourcing telah puas dengan kinerja tenaga outsourcing.

Permasalahan kinerja sangat sensitive, hampir seluruhnya perusahaan menginginkan karyawan yang dapat memberikan keuntungan dengan pengeluaran lebih rendah, untuk inilah tenaga outsources dipilih, namun bila kinerjanya tidak baik buat apa memperkerjakan tenaga outsourcing.

Lalu bagaimana menilai kepuasan user menggunakan tenaga outsourcing?

Untuk mengetahui hal tersebut Manager Rekrutmen Advanced Career Indonesia (ACI), Methasari, angkat bicara, baginya, untuk mengukur tingkat kepuasan dari pihak user yang menggunakan tenaga outsourcing ACI, harus dilihat dari beberapa aspek awal. Selama ini pihak ACI untuk menghindari rasa tidak puas user yaitu dengan mengikuti apa yang dibutuhkan dan diinginkan pihak user, terutama dikaitkan dengan jobdesk. Dari jobdesk tersebut, dapat diterapkan kompetensi kepada seseorang yang sesuai dengan kriteria user, selain itu mempertimbangkan track record karyawannya seperti pendidikan.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya, dalam menilai atau mengukur kepuasan dari pihak user dalam mempergunakan tenaga outsourching, yaitu dinilai dengan tolak ukurnya. Hal pertama, dari segi kinerjanya, menurut
Methasari, ini sangat penting, oleh karenanya tenaga outsourcing perlu diseleksi secara ketat, baik dari kemampuan dalam bekerja atau skill, karakternya serta track recordnya diakui.

Namun kalau ditanya tentang perusahaan yang pernah komplain dengan kinerja tenaga outsourcingnya? Metha akui pihaknya pernah merasakannya akan tetapi hal tersebut bukan masalah besar, walaupun tidak sesempurna apa yang diharapkan oleh pihak user, sebagian besar user merasa puas. Tolak ukurnya masih dipercayainya tenaga outsourcing ACI, juga banyaknya permintaan dari perusahaan-perusahaan lain yang ingin menggunakan tenaga outsourcingnya.

Nah untuk menilai kualitas tenaga outsources perlu ada sebuah lembaga independen yang bertugas sebagai penilai kinerja tenaga outsourcing, ”yah kalau bisa dalam satu tahun ada penilaian tenaga outsourcing” ungkap Metha.
Lalu bagaimana dengan pihak user menanggapi kinerja tenaga outsourching?

Human Resources Director PT. Nutricia Indonesia Sejahtera Maezar Maolana menilai pihaknya sudah lima tahun menggunakan tenaga outsourcing, sampai saat ini tenaga outsourcing memang cukup membantu dalam proses roda perusahaan, sifatnya menunjang, namun demikian bila dilihat dari tingkat kepuasan perusahaan Nutrcia dalam menggunakan tenaga outsourcing belum pada tingkat memuaskan. Hal ini didasarkan atas penilaian dan kontrol dalam evaluasi berkelanjutan dan intensif, yang dilakukan oleh pihak perusahaan terutama dalam hal kualitas kerja tenaga outsourscing.

Memang diakui ketidakpuasan yang selama ini dirasakan, terutama pada kemampuan, kualitas kerja serta disiplinnya, selain itu banyak kriteria yang diberikan kepada pihak Nutrcia menurut pria penggemar Dansa Salsa ini, tidak sesuai dengan harapan.

Karenanya, untuk meminimalisir permasalahan tersebut pihak perusahaan Nutricia memberikan pelatihan untuk mengembangkan kualitas tenaga outsource, namun bila tenaga outsource tersebut tidak berubah, maka kebijakan perusahaan akan dikembalikan kepada pihak perusahaan outsourcing.

Secara umum tenaga outsources di PT. Nutricia sudah memenuhi syarat, tetapi bila dinilai terhadap kriteria atau dari segi International Standard Organization, Good Manufacturing Practice, dan Good Hygiene perlu diawasi secara ketat.
Sementara itu, PT. Kalbe Morinaga Indonesia, sebuah perusahaan gabungan antara PT. Kalbe Farma, Tbk dengan Morinaga Jepang dalam menilai kinerja tenaga outsourcing, dijelaskan Human Resources Manager PT. Kalbe Morinaga Indonesia Laurensia Lunawati tidak semuanya kinerja dari tenaga outsourcing mengecewakan dalam hal kualitasnya, ada sebagian yang mempunyai kualitas yang cukup memuaskan, baik tenaga outsources yang tidak harus memerlukan keahlian khusus, juga karyawan Outsources yang memiliki keahlian khusus. Kalau melihat dari tingkat kepuasan, bagi perempuan yang mempunyai hobi menyanyi ini, bila diukur dari 1-5, maka tingkat kepuasan adalah 3 (Cukup Memuaskan).

Tolak ukurnya adalah pekerjaan mereka mencapai target, dan behaviour mereka masih dalam proses penyesuaian dengan Core Value perusahaan. Hal ini didapat dari hasil catatan Observasi atasan langsungnya dan dimasukkan dalam format penilaian khusus.

Sebagian dalam observasi tersebut menilai kinerja tenaga outsourcing terutama mengenai Kedisiplinan, dan semangat kerja yang minim dari beberapa karyawan outsource. Biasanya pihak PT. Kalbe Morinaga Indonesia mempergunakan 4 Perusahaan outsource.

Perbandingan Kinerjanya sama, karena Kualifikasi, maupun semua ketentuan dari kontrak kerjasamanya di samakan. “Kami menggunakan lebih dari satu outsource, supaya proses rekruitmentnya lebih cepat, dan ada specialisasi bidang pekerjaan dari tiap-tiap outsource, dan juga supaya perusahaan outsource tersebut dapat berupaya secara maksimal untuk mendapatkan kandidat karyawan outsource yang terbaik. Tutup wawancara HC dengan Laurensia Lunawati, Human Resources Manager PT. Kalbe Morinaga Indonesia. Mengukur tingkat kepuasan tergantung cara pandang user dalam menggunakan tenaga outsources, sehingga setiap perusahaan akan mempunyai definisi tersendiri. (fir)