Menggali keefektifan Assessment By Web

Berkembangnya teknologi di bidang internet, ternyata membawa pengaruh tersendiri terhadap perkembangan metode rekrutmen karyawan. Seperti halnya assessment yang sebelumnya dilakukan secara langsung atau face to face, sekarang ini mulai mengalih perhatiannya ke media web. Masalahnya sekarang apakah perkembangan metode assessment by web tersebut bisa diterapkan secara maksimal di Indonesia, ditengah culture atau budaya yang masih belum terukur integritynya. Hal ini menjadi pertanyaan besar, karena terkait dengan keefektifan metode tersebut.
Pihak assessor sebagai yang melakukan penilaian terbentur dengan terbatasnya lingkup dengan kandidat, akibatnya seperti membeli kucing dalam karung, DDI menilai perlu ada pembenahan culture integrity terlebih dahulu, disamping itu untuk masalah toolsnya belum tersedia dengan baik, bila begitu metode ini kurang cukup efektif dilakukan di Indonesia. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata, dengan metode assessment by web ini, kalaupun metode ini kurang cocok di jalankan di Indonesia, bagaimana metode ini kedepan dapat secara maksimal digunakan?
Daya Dimensi Indonesia (DDI) melalui Konsultan Seniornya Sintawati Putri saat ditemui di kantornya, menjelaskan proses assessment melalui web, harus dilihat dari tujuannya keobjektifan assessment, seperti untuk proses rekrutmen, di dalam proses tersebut harus diingat perlu adanya tools of talent.
Seiring masalah tersebut, gate line kode etik pelaksanaan assessment center belum mencakup code of conduct, assessor dibelakang web base belum secara maksimal diterapkan dengan kata lain perlu ada pembenahan untuk meningkatan kualitas assessor yang terakreditasi secara profesional.
Sementara itu, bila dilihat pada proses yang selama ini dilakukan baru mencakup assessment center bagi metodelogi yang langsung terlihat, untuk web base belum ada kode etiknya.
“ Biasanya assessment by web sebagai awal seleksi saja atau pre screen,” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Ibu Sinta ini, dan hal tersebut seperti tes pada umumnya assessment lewat web pun memakai batas waktu, dan harus ada 3 assessor agar hasilnya sesuai”, tambahnya.
Sekarang seberapa jauhkah kefektifan dari metode assessment by web ini? Untuk menjawabnya, DDI menilai hal tersebut tergantung dari toolsnya, karena dengan mempunyai tools yang baik, maka tanpa proses face to face pun pihak assessor dapat menilai kemampuan intelligence atau tes yang berkisar pengetahuan, selain untuk jangkauan dan efisiensi biaya pun dapat berpengaruh dengan metode assessment by web.
Walaupun demikian assessment by web dapat menjadi tidak efektif bila ditinjau dari terbatasnya feed back secara langsung antara assessor dan kandidat (karena tidak face to face) karena terbatasnya ruang proses dalam penilaian, bisa jadi bukan kandidat bersangkutan yang melakukan simulasi, strategic planning, dan presentasi sewaktu assessor melakukan assessment lewat web.
Lalu bagaimana persiapan untuk proses Assessment by web ke depan?
Bersandar pada konsep dasar Assessment. Pada dasarnya menurut Kepala UPT PMO ITB, Ir.Nia Kurniasih Pontoh,MT, langkah awal yang harus dilakukan adalah kemampuan untuk dapat memperlihatkan empirical evidence tentang proses Assessment by web, sehingga kita tahu upaya-upaya sistematis yang harus dilakukan tentang sosialisasi konsep Assessment by web ini. Permasalahan yang mendasar adalah apakah teknologi web sudah memasyarakat?
Tampaknya hal ini menjadi permasalahan utama. Lanjut Nia Kurniasih, secara garis besar, upaya yang dilakukan UPT PMO ITB adalah untuk mempersiapkan assessment by web kedepan dengan membangun Assessment Center berbasis teknologi, yaitu Digital Assessment Center Technology pada tahun 2004.
Sebagai langkah awal pihak UPT PMO ITB mempersiapkan Assessment Center yang siap melakukan pengukuran kompetensi individu dengan menggunakan multi metoda dan multi alat ukur yang dilakukan oleh multi assessor sehingga memenuhi standar dan kode etik assessment individu secara internasional. Pusat assessment mengukur tidak hanya terbatas pada soft competency yang dirasa sangat penting, tetapi juga untuk mengukur hard competency, melalui assesment yang dikomputerisasi.
Media dan alat tersebut untuk melakukan rekrutmen, seleksi, promosi, penempatan, penilaian kinerja, perencanaan jalur karir, terminasi, dan sistem informasi manajemen SDM secara efektif, efisien, reliable, valid, dan tidak diskriminatif.
Beberapa metode yang digunakan oleh Assessment Center ITB antara lain adalah sebagai berikut:
Computer Assissted Testing (CAT)
Salah satu metode yang digunakan untuk assessment adalah menggunakan Computer Assisted Testing (CAT). CAT adalah salah satu metode self assessment individu dengan menggunakan media komputer. Alat ukur yang digunakan dalam CAT berupa kuesioner. Dengan berbantukan komputer, responden/peserta diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dan hasilnya (berupa level kompetensi) dapat langsung diproses oleh komputer dengan cepat. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan karena akan menghemat waktu assessor untuk mengolah data. Dengan demikian, waktu assessor akan sepenuhnya terkonsentrasi untuk menganalisis hasil assessment tersebut. Validitas alat ukur CAT adalah 0.708.
Digital Psychological Assessment
Metode lain dalam assessment yang dilakukan adalah menggunakan psychological tools yang dikomputerisasi atau Digital Psychological Assessment. Berdasarkan hasil uji korelasi psychological assessment melalui komputer dengan psychological assessment secara tertulis didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.719.
Pada prinsipnya, Assessment Center adalah assessment by multiteknik & multiresponse. Assessment by web merupakan suatu ‘pembaharuan’ sejalan dengan kemajuan teknologi. Dalam membangun assessment by web tentu harus memperhatikan metodologi yang harus dipatuhi dalam lingkup assessment. Sejumlah persyaratan tentang validitas dan reliabilitas alat ukur assessment by web harus benar-benar telah distandardisasi. (fir)