Mengapa Kita Perlu Memangkas Separuh Isi Resume Kita

Dalam proses rekrutmen, ada bagian di mana kita harus menjalani proses mendaftar, kemudian menjalani wawancara. Ada ribuan saran di luar sana tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, berpakaian atau berkomunikasi ketika sedang menghadapi interview. Akan tetapi, untuk mencapai tahap interview, ada satu hal yang menentukan apakah kita akan dipanggil kembali atau tidak. Satu hal penting tersebut adalah resume atau daftar riwayat hidup yang kita sertakan.

Berdasarkan pengalamannya, Elli Sharef, co-founder dari HireArt membeberkan bahwa banyak sekali kandidat melakukan kesalahan dengan membuat resume yang sangat panjang dan berlembar-lembar.

“Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh para pelamar adalah menuliskan terlalu banyak hal pada daftar riwayat hidup (resume) mereka. Mereka menyantumkan seluruh keterampilan, job experience atau apapun dan tidak fokus pada satu skill dan pengalaman kerja yang memang diperlukan,” ungkap Elli.

Menurutnya, ada beberapa kerugian bagi si pemilik resume apabila ia terlalu panjang dan menyeluruh dalam membuat daftar riwayat hidup tersebut:

1. Jika kita menuliskan banyak hal, praktisi HRD akan sulit mengingat satu pun

Secara alamiah, otak kita akan kesulitan merekam dan mengingat banyak hal hanya dengan sekali baca. Tentunya, sulit juga bagi praktisi HRD untuk mengingat siapa kita ketika kita menyebutkan bahwa kita adalah lawyer, marketer, ahli sosial media dan ahli finance pada saat yang bersamaan. Daripada demikian, lebih baik kita memilih salah satu yang paling penting, relevan dan akan membantu kita mengerjakan job-desc dari posisi yang kita lamar.

2. Menampilkan naratif yang singkat

Elli mengungkapkan bahwa suatu hari, ia pernah mewawancarai seorang kandidat untuk posisi sales person. Pada menit pertama, si kandidat menjelaskan bahwa bidang penjualan bukanlah hal baru baginya. Lima belas menit selanjutnya, ia menjabarkan secara detail peran-peran dia, kiprah dia dalam dunia sales. Hal tersebut membuat Elli mengerti bahwa si kandidat menyampaikan narasi yang rapih dan memahami bahwa orang tersebut memang kompeten. Dan meskipun kandidat tetap menuliskan skill-skill lain yang ia miliki di dalam resume, ia tidak menekankan pada hal itu.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah, kita tidak perlu memamerkan keterampilan sebagai akuntan apabila yang dibutuhkan adalah salesperson. Hal ini justru akan menimbulkan delusi bagi pewawancara dan membuat ia kebingungan menganalisis passion apa yang kita miliki.

3. Tidak profesional jika resume lebih dari dua halaman

Kita bisa menemukan banyak artikel tentang bagaimana seharusnya menulis resume. Ada yang mengatakan bahwa untuk melamar di perusahaan IT, pemberi kerja akan sangat membenci resume yang terlalu panjang. Dan sebenarnya bukan hanya IT saja, di perusahaan mana pun, resume yang terlalu panjang tidak begitu diminati. Kemampuan untuk mempersingkat proses hampir menjadi skill terpenting yang menentukan keberhasilan kita masuk kerja.

4. Ketika ingin membangun impresi, caranya bukan dengan bercerita melainkan menunjukkan

Salah satu tips yang dapat kita gunakan untuk menumbuhkan kesan positif dari pemberi kerja adalah menunjukkan skill kita, bukan menceritakannya panjang lebar di dalam resume. Misalnya saja, kita menawarkan sebuah solusi bagi masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Atau kita jelaskan pandangan kita mengenai cara marketing yang bisa dicoba oleh perusahaan tersebut misalnya. Banyak hal dapat kita lakukan dan membuktikan kepada calon pemberi kerja bahwa kita memang berkualitas dan itu bukan dengan menuliskan cerita panjang di resume.

5. Resume yang panjang dan tidak fokus menyiratkan sebuah keputusasaan

Melamar pekerjaan seperti layaknya kita berkencan untuk pertama kali. Apabila orang yang kita kencani terus menerus mengatakan bahwa dia memiliki bakat di bidang apa saja justru kita akan merasa tidak tertarik. Masalahnya, orang yang berbakat dan bagus di segala bidang itu hampir tidak ada. Yang ada, kita akan menganggap itu berlebihan dan bohong belaka. Kita yang harus mendengar ceritanya pun bukannya terkesan tetapi justru muak.

Dengan melihat pada lima tips tersebut, ke depannya ketika kita ingin melamar kerja, pastikan bahwa mereka akan paham siapa kita dengan membaca resume kita. Pastikan bahwa kita adalah jawaban dari kebutuhan mereka sehingga mereka ingin mendengar lebih lanjut tentang kita.

 

Tags: , , ,