Magang, dari Sudut Pandang Perusahaan vs Pencari Kerja

Perusahaan kerap kali melakukan rekrutmen untuk magang di tempat mereka. Sedangkan mahasiswa, mencari perusahaan yang sedang membuka lowongan untuk magang. Sebenarnya kedua hal ini dapat dijembatani.

Apa yang diinginkan perusahaan terkait yang ingin magang di perusahaan mereka dan apa yang diinginkan mahasiswa ketika magang di perusahaan? The Muse memberikan pemaparannya terkait sudut pandang dari perusahaan versus mahasiswa magang.

Sudut Pandang Perusahaan

Jody Porowski, CEO of Avelist

Avelist merupakan suatu laman online dimana orang lain dapat memberikan dan mendapatkan saran.
“Kami sudah menghemat anggaran perusahaan, namun tetap saja harus berhemat. Lalu kami berpikir untuk membuka lowongan magang untuk bergabung dengan tim kami,” ungkap Jody. Avelist membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi di bagian marketing dengan tiga karakteristik, yaitu:

1. Seseorang yang mau belajar

“Kami membutuhkan seseorang yang memiliki keinginan besar untuk mempelajari pekerjaan yang mereka lakukan,” ungkap Jody. Mempelajari pekerjaan sepertinya lebih sulit dari yang dibayangkan. Tidak semua orang dapat melakukannya. Hal ini membutuhkan waktu lebih banyak, keinginan untuk bertanya dan percaya diri yang cukup untuk membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

2. Seseorang yang peduli dengan tujuan perusahaan

Perusahaan membutuhkan keyakinan dari suatu individu untuk mampu mencapai apa yang menjadi tujuan perusahaan. Contohnya seperti mampu bekerja untuk waktu yang lama, mampu mengeluarkan strategi yang kreatif, dan untuk menghindari hambatan yang menghadang. Karena mereka yang magang merupakan anggota kunci dari tim, maka mereka perlu meyakini tujuannya. Mereka perlu untuk tahu tujuan perusahaan apa dan bersemangat untuk mencapainya. Buat mereka untuk mau bekerja pada perusahaan kita dibandingkan dengan perusahaan lain.

3. Seseorang yang memiliki inisiatif

“Saya memang mengharapkan mereka yang magang dapat memenuhi tanggung jawab ‘dasar,’ seperti datang tepat waktu, membalas setiap email, menyelesaikan proyek dan menyelesaikannya sebelum tenggat waktu tanpa perlu diingatkan. Namun yang perusahaan inginkan tidak hanya itu. Mereka yang penuh dengan ide dan bersemangat untuk mengeksekusinya adalah yang terbaik. Budaya dalam perusahaan kami adalah bekerja keras dan kreatif. Kami bekerja dengan keras namun juga tidak lupa untuk tertawa. Kami mengharapkan mereka yang magang ditempat kami dapat memenuhi hal tersebut,” jelas Jody.

Baca juga: Jumlah Pelamar magang secara Online di Indonesia masih kecil

Sudut Pandang Anak Magang

Wilhelmina Ryan, Avelist Marketing Intern

Saat ini Wilhelmina merupakan mahasiswa di Duke University, jurusan manajemen ekonomi pemsaran. Ketika ia ingin memulai summer internship, ia sudah memiliki tiga kriteria. Pertama, ia perlu dikelilingi orang-orang yang dapat membuat dirinya belajar. Kedua, ia perlu bekerja dengan ide-ide luar biasa. Dan ketiga, ia ingin berada dalam posisi yang dapat mengembangkan dirinya.

1. Bekerja dan belajar bersama orang-orang hebat

Pertama kali bertemu dengan Jody, Wilhelmina merasa bahwa ia akan dapat belajar banyak darinya. Namun perasaan itu tidaklah cukup. Wilhelmina kemudian sempat bertemu beberapa kali dengan tim dari Avelist untuk akhirnya memutuskan untuk magang disana. “Bisa dibilang Avelist adalah perusahaan yang luar biasa. Tim yang kuat positif merupakan salah satu aset yang sangat berharga,” ungkap Wilhelmina.

2. Suatu ide yang saya yakini

Salah satu misi dari Avelist adalah menghubungkan transisi kehidupan suatu individu menjadi saran yang bermanfaat merupakan suatu hal yang dapat Wilhelmina pahami. “Saya tahu bahwa suatu produk dapat berubah dan berkembang, namun saya yakin hal ini akan dapat berkembang dengan pesat,” ungkap Wilhelmina.

3. Peran yang bernilai dalam tim

Wilhelmina menyadari bahwa Avelist sedang dalam titik kritis yang membutuhkan kekuatan untuk mencapai target marketingnya pada musim panas. Marketing yang kuat dapat meningkatkan investasi perusahaan. Wilhelmina menyatakan bahwa, “Saya tahu dengan bekerja untuk Avelist maka saya dapat memberikan dampak langsung bagi perusahaan. Dan buat saya ini adalah kesempatan. Pekerjaan yang saya lakukan lebih penting daripada sekedar titel atau status pekerjaan.”

“Bekerja pada perusahaan yang sedang fighting to prove itself, telah mengajarkan saya lebih dari sekedar bisnis dibandingkan saya bekerja diperusahaan yang ‘aman-aman saja.’ Saya telah belajar banyak dari Jody. Saya suka dengan posisi saya. Dan pekerjaan yang berbeda-beda setiap minggunya membuat saya lebih berkembang.”

Cocok ataukah Tidak?

“Ketika saya pertama kali bertemu Wilhelmina, saya sangat terkesan. Ia memberikan ide marketing yang menarik dan kreatif. Ia menunjukkan keinginannya untuk bekerja keras, ia menceritakan pengalaman magangnya sebelumnya, dan hal ini menunjukan bahwa ia adalah orang yang inisiatif dan mudah untuk diarahkan. Ia juga sangat percaya diri. Ia kerap kali meminta feedback atas apa yang dikerjakannya. Ia juga menunjukan keyakinan yang kuat atas tujuan yang ingin diraih oleh Avelist. Tanpa pikir panjang, saya langsung menawarkannya untuk magang diperusahaan saya!” ungkap Jody.

Di luar hal tersebut, Jody meyakini bahwa magang yang dicari oleh Wilhelmina adalah magang yang diinginkan oleh Avelist. Inilah yang dikatakan dengan kecocokan antara perusahaan dan pencari lowongan magang. Mereka yang akan magang perlu mengetahui kesempatan untuk belajar dan berkembang di perusahaan dan perusahaan perlu untuk memberikan sumber daya pada mereka yang berkontribusi pada perusahaan. Dengan kata lain, magang yang cocok dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Baca juga: Magang, jalan pintas masuk L’oreal

 

Tags: