Lika Liku Bisnis Memburu Eksekutif

Tahun 2006 merupakan tahun yang cerah teruama bagi perusahaan head hunter di Indonesia. Pasalnya, perekrutan eksekutif kini banyak dilimpahkan ke head hunter. Ini tidak hanya terjadi di perusahaan swasta saja, tapi juga di BUMN, yang awalnya mengharamkan perekrutan dari luar.

Menurut Ilham Dilmy, Managing Partner Amrop Hever, sebuah perusahaan head hunter terkemuka di Indonesia, sekarang ini, dari 160 BUMN yang ada di Indonesia, ada 40 BUMN yang mengalami pergantian di jajaran direksi. Dan hal ini merupakan kesempatan orang di luar BUMN dan para head hunter untuk menggunakan kesempatan ini.

“Kementerian BUMN serius ingin memperbaiki kinerja BUMN sehingga sekarang BUMN sudah mulai ada keterbukaan,” jelas Ilham dengan serius.

Proses perekrutan direksi sekarang ditangani oleh Sekretaris Mentri BUMN melalui para deputi. Calon-calonnya, didapat dari 4 head hunter pilihan, termasuk Amrop Hever. Keempat head hunter mengumpulkan kandidat terbaik, kemudian mengirimkan CV mereka via email yang nantinya akan diseleksi mana yang tepat dan berkualitas untuk menduduki posisi-posisi kritikal tersebut.

Proses tersulit yang dialami para head hunter menurut Ilham terletak pada pemahaman budaya perusahaan yang menjadi klien dan mencari orang yang tepat untuk ditempatkan di perusahaan tersebut. “Kadangkala, kami salah membacanya,” tukasnya. Menempatkan orang yang tepat dan sesuai dengan budaya perusahaan memang tidak mudah.

la mencontohkan, pihaknya pernah menempatkan orang di sebuah perusahaan consumer good yang cukup besar di Indonesia. Baru 4 bulan bekerja, orang tersebut mengeluh jam kerjanya yang hingga larut malam. Padahal di tempat sebelumnya, karir orang tersebut sangat bagus. “Dosa juga kalau seperti itu. Makanya kami melihat kondisi perusahaan terlebih dahulu. Kalau orang bagus ditawari di perusahaan yang kondisinya tidak bagus, sama saja kami menjerumuskan orang,” lontarnya singkat. Sejak itu, Amrop Hever berusaha untuk selektif memilih klien agar tidak terjadi hal demikian.

Beberapa tawaran memang pernah singgah di Amrop Hever dan beberapa kali pula Amrop Hever menolak secara halus. Seleksi klien dilakukan agar Ilham dan timnya bekerja dengan nyaman dan haslnya memuaskan. “Kami harus enjoy bekerja. Kalau di tengah jalan dimaki-maki, mana bisa kerja!” katanya balik bertanya. la pun lebih menyenangi jika di awal pertemuan, calon klien menanyakan hal-hal penting seperti bagaimana cara melakukan pencarian kandidat, apa metodologinya, proses yang harus dilalui seperti apa, apa permasalahannya dan sebagainya.

“Kalau pertama kali orang sudah menanyakan, kok mahal sih? Buat kami itu satu lampu merah menyala. Padahal, kalau perusahaan ingin seseorang yang hebat masuk ke perusahaannya dan bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, seharusnya biaya tidak menjadi masalah,” kata Ilham menjelaskan hal ini.

Di luar hal-hal yang rasional, ada pula permintaan-permintaan dari klien agar eksekutif yang akan mengisi posisi di perusahannya memiliki kriteria tertentu seperti bentuk wajah atau etnis tertentu.

“Pernah, seorang klien menginginkan seseorang yang berkualitas untuk mengisi sebuah posisi di perusahaannya.” Beberapa kali ditawari kandidat, namun selalu ditolaknya. Usut punya usut, ternyata si klien menginginkan orang yang wajahnya berbentuk persegi empat. Alasannya, eksekutif-ekse-kutif sebelumnya pun berwajah demikian dan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada yang tidak berwajah demikian. “Kata salah satu sumber, wajah kotak di perusahaan tersebut membawa hoki,” paparnya. Kalau sudah begitu, Ilham pun hanya bisa tersenyum dan akhirnya berusaha mencari orang yang diinginkan kliennya. (Irham Dilmy, Amrop Hever)