Industri TV Lebih Senang Lulusan Fresh

sinema

Industri televisi berkembang makin pesat. Tuntutan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan berkualitas pun menjadi kebutuhan mendesak. Bagaimana cara memenuhinya?

sinema

(Image:Pixabay)

Senin, 11 Agustus 2008. Di sebuah ruangan yang cukup besar di kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, sekitar 150 mahasiswa tampak serius memerhatikan penjelasan dari salah seorang karyawan Trans7. Ya, hari itu sedang diselenggarakan Open Recruitment Trans7 untuk menjaring lulusan baru (fresh graduate) dari kampus yang banyak mencetak tenaga jurnalis itu.

Salah seorang dari mereka, Asef Saefullah, mengungkapkan, tertarik mengikuti program Open Recruitment Trans7 lantaran cita-citanya ingin terjun di dunia pertelevisian (broadcast). “Saya ingin kerja di TV,” ungkap alumni jurnalistik tahun 2007 ini penuh harap. Diakuinya, untuk mengikuti tes ini ia tidak mempersiapkan banyak hal. “Hanya mengandalkan pengalaman kerja sebagai fotografer freelance di media cetak,” katanya pede.

Lain halnya dengan Andri Nurdriansyah. Lulusan jurnalistik tahun 2006 ini menuturkan, dirinya mengikuti rekrutmen ini dengan persiapan penuh. Setidaknya Andri sudah mempelajari banyak buku mengenai psikotest. “Saya baca buku-buku psikotest dan cari tahu tentang informasi berita terbaru,” tutur pria yang masih aktif sebagai reporter di media cetak ini. Andri bahkan kerap mencari informasi lowongan kerja reporter TV melalui internet. “Selama ini saya ingin menjadi reporter TV,” tuturnya beralasan.

Pada kesempatan yang sama, Recruitment HR Development Trans7 Lintang Ndaru Umaryatie menerangkan, program Open Recruitment Trans7 diselenggarkan untuk memenuhi kebutuhan karyawan baru. “Pertimbangannya untuk menambah jumlah karyawan terkait dengan visi dan misi perusahaan,” katanya memaparkan.

Untuk itu, lanjut Lintang, tiap awal tahun Departemen HR Trans7 menghitung kebutuhan karyawan di masing-masing divisinya. Sehingga, program rekrutmen selalu dilaksanakan setiap tahun. Rekrutmen kali ini ditargetkan untuk menjaring 200 lulusan baru yang akan diposisikan sebagai staf junior, baik di unit produksi maupun news. “Itu sebabnya kami banyak mengincar fresh graduate, karena hampir 80% posisi yang dibutuhkan adalah staf junior,” ungkapnya.

Sejak awal tahun, ungkap Lintang, Trans7 mengambil kebijakan sendiri mengenai program rekrutmen. Sebelumnya, ketika Trans7 baru bergabung dengan Trans TV dalam satu payung Trans Corp, keduanya menggunakan sistem yang diberi nama Broadcast Development Program (BDP). “Saat itu kami melakukan rekrutmen besar-besaran dengan cara mengumumkan ke masyarakat melalui berbagai media. Pelaksanaannya pun di banyak daerah. Kalau di Jakarta, saat itu dilaksanakan di Gelora Bung Karno,” ujar Lintang mengenang.

Kriteria fresh graduate yang dicari Trans7 menurut Lintang tidak terlalu sulit. “Yang penting punya minat dan motivasi yang kuat untuk terjun di dunia televisi,” ujarnya. Lintang juga memastikan, sistem yang digunakan pada tiap rekrutmen terbuka ini hanya test psikologi dan wawancara.

“Psikotest untuk memastikan bahwa kandidiat kami punya kapabilitas yang bagus dan bisa menggali lebih dalam tentang personality-nya. Selanjutnya, interview dilakukan dengan user atau calon atasannya langsung,” papar Lintang. Namun, khusus di bagian produksi, kandidat perlu di-interview langsung oleh Direktur Utama Trans7 Wishnutama. “Bagian produksi sangat krusial. Jadi interview-nya langsung oleh Bapak Wishnutama selaku Direktur Utama Trans7. Sehingga benar-benar didapat orang yang tepat,” ujarnya menandaskan.

Lantas, apa alasan Trans7 memilih fresh graduate? Lintang melihat, para fresh graduate punya kelebihan yang sangat dibutuhkan di dunia broadcast. Di antaranya, rasa ingin tahu yang besar, kemauan belajar yang tinggi, dan relatif mudah dibentuk. “Saya lihat mahasiswa-mahasiswa sekarang sudah aktif, banyak yang sudah bekerja secara freelance,” tuturnya. Namun, diakuinya pula, para fresh graduate cenderung bersikap seenaknya sendiri (semau gue). “Kadang-kadang mereka merasa kepedean, sehingga bersikap seenaknya saja. Akhirnya nggak patuh pada aturan-aturan yang ditetapkan perusahaan,” ujarnya mengeluhkan. Untuk itu, lanjut Lintang, para lulusan baru perlu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Dan, “Adaptasi ini butuh waktu,” katanya.

Selanjutnya, untuk meningkatkan kompetensi diperlukan program pengembangan dan pelatihan. “Kami ada program in house training yang dibuat oleh masing-masing divisi. Misalnya, bagian pemberitaan mengadakan pelatihan penulisan naskah,” ungkap Lintang memastikan. Untuk program pengembangan karyawan baru yang berasal dari fresh graduate, Trans7 mengalokasikan dana khusus. Nilainya? “Tahun ini sekitar Rp 200 juta,” ungkap Lintang jujur.

Di tempat berbeda, Hery Kustanto, Kepala Divisi Pengembangan SDM SCTV mengakui, ketersediaan SDM di dunia pertelevisian belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan yang sangat pesat di industri ini. Akibatnya, bajak-membajak tenaga profesional menjadi hal biasa. Untuk menyiasati hal tersebut, merekrut lulusan baru adalah salah satu solusi ampuh. “Di SCTV paling banyak yang dibajak adalah crew liputan 6, baik presenter maupun reporter. Hampir semuanya berangkat dari fresh graduate,” ungkapnya prihatin.

Alasannya merekrut lulusan baru tak berbeda dengan Lintang. “Fresh graduate itu ibarat cangkir yang masih kosong, sehingga mudah mengisinya,” kata Hery yakin. Dalam hal ini, Herry mengisi karyawan fresh graduate dengan budaya perusahaan. “Pertimbangan kami, mereka punya semangat yang luar biasa, jadi mudah membentuknya. Hasilnya diharapkan lebih optimal dibandingkan kalau kita membajak yang sudah berpengalaman,” ungkapnya.

Pria Kelahiran Pasuruan, 9 Januari 1962 ini menceritakan, awalnya SCTV melakukan rekrutmen fresh graduate melalui program Liputan 6 Go to Campus. Kegiatan ini bertujuan menjaring kandidat reporter dan presenter dari berbagai kampus di kota-kota besar. Program ini diakui Hery berjalan sukses. Namun, upaya tersebut kini tidak lagi efektif lantaran para kandidat yang sudah matang kemudian dibajak oleh stasiun TV lain. Nah, untuk mengganti sistemnya, saat ini Hery menggunakan pendekatan dengan Ketua Jurusan di masing-masing perguruan tinggi yang dipilihnya.

“Dari mereka (Ketua Jurusan) kami dapat info awal mengenai fresh graduate yang cocok dengan kriteria kami. Misalnya, untuk reporter berarti kandidatnya harus tertarik dengan kegiatan kemahasiswaan atau aktivitas di luar kampus,” paparnya. Hery berharap, sistem ini bisa berjalan lebih efektif dalam menjaring fresh graduate, dan menjadi sebuah talent pool. “Ke depan kami akan menyiapkan program yang lebih sistematis seperti management development program (MDP) atau management trainee (MT),” tuturnya.

Lulusan dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Kristen Malang ini juga mengungkapkan, merekrut lulusan baru tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan karyawan di bagian pemberitaan (news) saja. Bagian lain seperti unit produksi pun diperhatikan. “Di luar news kami juga mengusahakan dari fresh graduate. Pertimbangannya agar kami bisa mempersiapan talent untuk masa depan perusahaan,” katanya.

Untuk menjaga agar para talent tidak pergi, Hery mengungkapkan, saat ini SCTV sudah memperbaiki sistem talent management berbasis kompetensi. Jenjang karier karyawan pun disempurnakan. Hal ini untuk menciptakan transparansi dan obyektivitas terhadap kebutuhan tenaga profesional. “Kami berusaha meningkatkan dan memenuhi kompetensi yang diharapkan talent. Dengan begitu para talent tidak punya alasan untuk pergi,” ujarnya memastikan. (*)