Hati-Hati Dengan Kandidat Yang Sering Bilang “Selalu” dan “Tidak Pernah”

Jika kandidat yang Anda wawancara terlalu sering berkata “selalu (always)” dan “tak pernah (never)” maka itulah sinyal bahwa Anda sedang mewawancari kandidat yang berperforma rendah.

Bagaimana cara kita tahu hal tersebut? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hiring for Attitute dari organisasi bernama Leadership IQ, menghasilkan temuan bahwa kandidat yang berperforma rendah memiliki kecenderungan sebanyak 103% untuk mengatakan kata “selalu” dan “tidak pernah” dalam suatu wawancara kerja.

Hasil tersebut diperoleh dengan mengklasifikasikan jawaban interview dari 1400 profesional dan menganalisisnya berdasarkan grammar, konten dan pilihan kata.

Pada dasarnya, dalam hidup ini tidak banyak hal yang kejadiannya bersifat “selalu” atau “tidak pernah”. Dan orang yang berperforma bagus tahu hal itu. Mereka justru memiliki banyak pengalaman yang ingin ia ceritakan kepada si pewawancara.

Misalnya ketika ditanya dengan pertanyaan, “Ceritakan tantangan/hambatan terberat selama Anda berkarir!”. Mereka akan menjawab secara detail dan bersemangat. Misalnya saja, “saya merasa kesulitan ketika harus mempertahankan ide-ide saya di depan forum yang rata-rata lebih senior dari saya. Tapi pada akhirnya saya dapat mengatasi hambatan tersebut karena saya memiliki kepercayaan diri, bahwa ide saya didukung dengan alasan dan solusi dan bertujuan untuk meningkatkan performa perusahaan.”

Baca juga: 7 Tanda Seorang Kandidat Berbohong

Sedangkan jika pertanyaan yang sama disampaikan kepada low performers, mereka akan menyampaikan jawaban seperti, “saya selalu berhasil menyelesaikan tantangan di tempat kerja” atau “Saya tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti di tempat kerja.” Alasan mereka menyampaikan hal tersebut adalah karena low performers cenderung menyembunyikan kelemahan dengan bermain kata untuk terlihat seperti high performers. Dan kata-kata yang bermakna absolut itulah yang akhirnya mereka pilih.

Riset yang sama juga membuktikan bahwa low performers kerap kali berpikiran sebatas “hitam dan putih” saja. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak cukup fleksibel, insecure dan ingin sekali pamer. Penjelasan secara detail tentang peran mereka dalam suatu proyek adalah hal yang tidak akan Anda dengar dari seorang low performer. Sebaliknya, high performer selalu bersemangat menceritakannya.

Berikut ini adalah contoh nyata dari jawaban wawancara dari low performer dan high performer berdasarkan riset dari Leadership IQ tersebut. Dengan pertanyaan yang sama, “Ceritakan saat Anda mendapatkan feedback/teguran yang tidak menyenangkan dari bos Anda”, low performer akan menjawab,

 “Selama itu bukan kritik yang tidak beralasan dan tidak konstruktif, saya tidak akan pernah bereaksi negatif. Setiap feedback adalah feedback yang baik bagi saya. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah paham cara kerja yang baik.”

“Saya tidak pernah mendapatkan pengalaman seperti itu. Saya selalu mendapatkan feedback yang positif. Hal ini karena ketika saya ragu terhadap sesuatu, maka saya akan segera bertanya kepada atasan. Itulah mengapa, tidak pernah ada kesalahpahaman yang menimbulkan feedback negatif”.

Sedangkan high performer akan menjawab,

“Saya menyerahkan laporan ke atasan baru saya dan ia memberikan evaluasi yang tidak sebaik report sebelumnya. Saya kemudian datang menemuinya, berbicara dengannya sehingga kita sampai pada kesepakatan tentang hal-hal yang dia inginkan dari kinerja saya”.

“Saya pernah menyampaikan laporan tanpa mengeceknya terlebih dahulu, dan ternyata ada angka yang salah di sana. Bos saya memanggil saya mengenai hal itu. Saya sadar bahwa saat mengerjakannya, saya buru-buru dan kurang teliti. Dia benar bahwa sesibuk apapun, saya tidak boleh gegabah dalam membuat laporan.”

Lalu bagaimana cara kita sebagai perekrut mengamati kosa kata yang kandidat gunakan? Kuncinya adalah dengan mendengarkan. Ketika kandidat berbicara, pastikan bahwa mulut Anda terkunci, biarkan pikiran Anda terbuka dan biarkan kandidat mengeluarkan apapun yang ada di kepalanya.

Baca juga: Pertanyaan Pamungkas untuk Mencari Kandidat Terbaik

Tags: ,