Garuda Buka Pintu Bagi Pramugari Baru

 

Suasana Sabtu pagi di Gedung Garuda, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sangat ramai. Ratusan gadis-gadis cantik usia belia tampak sibuk merias dirinya. Meskipun duduk di kursi yang empuk dan nyaman, tampak jelas bahwa mereka tidak tenang. Wajah mereka pun terlihat tegang. Make-up tebal yang merona rasanya tak sanggup menutupi kecemasan ratusan remaja putri yang menunggu giliran dipanggil ini.

Begitulah suasana rekrutmen pramugari PT Garuda Indonesia (Garuda) yang HC saksikan saat menyambangi tempat berlangsungnya acara tersebut beberapa waktu lalu. Wajah-wajah cantik ini memang pantas tegang. Maklum, mimpi mereka untuk menjadi pramugari dan harapan bisa terbang bersama pesawat kebanggaan bangsa, Garuda, ditentukan hari itu.

Wulan, salah satu peserta, mengaku kehadirannya kali ini merupakan kali kedua setelah dalam proses rekrutmen sebelumnya ia dinyatakan gugur. “Saya bercita-cita bisa terbang keliling Indonesia, dan kalau bisa keliling dunia,” ucapnya pendek saat ditanya tentang motivasinya mengikuti rekrutmen ini. Wulan bisa dikatakan mewakili ratusan peserta rekrutmen, yang ternyata tidak hanya diselenggarakan di Jakarta, tapi hampir di seluruh kantor cabang Garuda mulai dari Bandung, Medan, Palembang, Surabaya, Ujungpandang, Pontianak, hingga Batam.

Selidik punya selidik, rekrutmen gencar yang dilakukan oleh Garuda digelar dalam rangka mengejar target. Hal ini dibenarkan Achirina, Direktur SDM Garuda. Menurutnya, proses rekrutmen reguler untuk pramugari ini sudah berjalan kurang lebih setahun. “Targetnya kami akan merekrut sebanyak 1.000 cabin crew. Hal ini berkaitan dengan rencana kerja 5 tahun ke depan yang kita sebut quantum leap. Tidak hanya memperbarui armada, tetapi juga menambah armada dari 56 saat ini menjadi 116 di 2014,” paparnya.

Achirina menyebutkan, penambahan armada dimaksudkan untuk menutupi rute-rute baru atau rute-rute yangfrekuensinya diperbanyak. Khusus di Jakarta, proses rekrutmen sengaja dikumpulkan di Gedung Garuda yang berada di tengah kota sebanyak dua kali dalam sebulan. “Awalnya rekrutmen dilakukan di Learning Center di daerah Kosambi, Jakarta Barat, tapi karena banyak orang yang tidak tahu daerah tersebut, kami coba melakukannya di Gedung Garuda, Jakarta Pusat,” komentar Achirina lagi.

Tentang rekrutmen cabin crew atau pramugari, Achirina menjelaskan, prosesnya dilakukan melalui sistem gugur. Hari pertama, peserta akan dilihat dari sisi penampilannya dulu. “Kami ingin cabin crew Garuda adalah sosok

yang menarik, ramah, dan benar-benar kelihatan melayani penumpang. Selama perjalanan, kami berharap penumpang akan merasa nyaman dan cabin crewnya selalu helpfull,” tuturnya memberi alasan. Setelah penampilan dinyatakan lulus, proses selanjutnya adalah psikotest, Bahasa Inggris, dan tes kesehatan.

Dari proses rekrutmen yang sudah dijalankan, Achirina mengakui, target yang diharapkan belum tercapai karena menghadapi banyak kendala. “Banyak peserta yang gugur di tes integritas, psikotest, Bahasa Inggris, dan kesehatan. Zaman sekarang banyak anak-anak muda yang sudah punya penyakit menahun mulai dari jantung, kanker dan ketika itu terlihat mereka langsung dinyatakan gugur,” tambah Achirina.

Penguasaan Bahasa Inggris ternyata juga menyurutkan jumlah pelamar cukup signifikan. Banyak peserta yang tidak bisa melanjutkan proses seleksi karena gagal melewati tes ini. “Padahal tes di sini adalah Bahasa Inggris yang simpel, nggak susah kok, seperti conversation atau berbicara dengan pronunciations yang bagus. Kenapa kami mementingkan kemampuan ini karena kami memang ingin mengembangkan diri sebagai the best airlines company,” imbuhnya. Dari produk Garuda, baik yang reguler maupun Citylink basic standard penguasaan Bahasa Inggrisnya sama. “Untuk yang reguler penguasaan Bahasa Inggrisnya sengaja kami tuntut lebih karena ini akan melayani penerbangan internasional,” lanjutnya.

Dalam menjaring peserta, selain memasang pengumuman di situs resmi Garuda, disebutkan Achirina, strategi lain yang dijalankan adalah memasang iklan di media massa, melakukan taktik jemput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah menengah kejuruan serta rajin ikut job-fair di kampuskampus. Dari sisi animo, peserta yang ingin mendaftar, diakuinya, lumayan besar, tapi banyak yang berguguran mulai dari tinggi badan yang kurang dari 160 cm, umur minimal 18 tahun, serta berat badan yang overweight. Untuk alasan terakhir, Garuda biasanya memberikan kesempatan untuk peserta agar mereka bisa menurunkan berat badan ke ukuran ideal.

Dari proses rekrutmen reguler ini, Achirina melanjutkan, tim yang dibentuk dari internal bertugas menjaring kandidat yang setelah mereka lulus seleksi awal, akan dimasukkan ke dalam kelas-kelas training. “Memang bervariasi dari setiap pendaftaran yang dibuka, tapi mau sedikit atau banyak kami tetap jalan terus. Intinya kami menargetkan dalam sebulan paling tidak ada 40 orang yang bisa langsung masuk ke kelas training, di mana setiap kelas berisi 20 orang. Training akan berlangsung selama empat bulan – tiga bulan di darat dan satu bulan terbang,” kata Achirina sambil menyebutkan dari target 1.000 pramugari baru saat ini baru terpenuhi sekitar separuhnya.

Dari rasio jumlah peminat dengan yang berhasil masuk menjadi kandidat, Achirina menilai, saat ini belum ideal. Meskipun penampilan penting, lanjutnya, Garuda menekankan sisi lain dengan melihat perilaku. “Di awal tes, penampilan peserta biasanya terlihat manis. Tapi begitu masuk ke kelas training, perilaku aslinya akan terlihat. Kami memegang prinsip keras di depan. Lebih baik keluar biaya mahal di awal proses daripada sudah masuk ternyata tidak bagus output-nya,” ia menegaskan.

Atas dasar inilah, tutur Achirina, meskipun sudah masuk ke kelas training, masih ada kemungkinan peserta dinyatakan gugur. “Nomor satu yang kami perhatikan adalah, ternyata tidak cukup hanya skill, knowledge dan experience, tapi perilaku peserta juga menjadi perhatian utama kami,” ujarnya.

Achirina memberikan contoh tentang masalah disiplin. “Kalau peserta sudah tidak disiplin di kelas, bagaimana kami berharap dia bisa disiplin sewaktu dalam penerbangan? Untuk menekan sekecil mungkin peserta yang tidak disiplin tersebut, kami melibatkan peran orangtua. Mereka kami undang dan diajak bekerja sama, saling mengingatkan putra-putrinya serta memberikan motivasi tambahan dari rumah. Karenanya selama 4 bulan di training ini mereka betulbetul seperti sedang bertugas. Yang ingin kami lihat adalah, bagaimana rasa melayani ini muncul dari dalam diri setiap peserta. Mereka akan sulit bekerja dan tersenyum jika tidak melakukannya dengan tulus,” begitu alasan Achirina.

Selama menjalani training, peserta akan menerima banyak pelatihan baik tentang service maupun safety ala Garuda. Sebagai kompensasi selama menjalani training, Achirina mengatakan, peserta akan mendapatkan uang saku yang besarnya diperhitungkan untuk menutup kebutuhan siswa mulai dari sewa tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya.

“Setelah lulus training para peserta akan dikontrak selama dua tahun dan bisa diperpanjang setahun lagi. Bagi yang kinerjanya bagus akan diangkat menjadi karyawan, tapi untuk profesi ini usianya hanya boleh sampai 36 tahun. Memang ini aturan baru. Kalau dulu bisa sampai 56 tahun, khusus untuk angkatan baru akan dibatasi hingga usia 36 tahun saja. Setelah itu bagi yang mau meningkatkan kompetensi, dia bisa pindah ke bagian back office,” tukas Achirina.

Menurut Achirina, melalui proses rekrutmen ini Garuda ingin menepis anggapan bahwa pramugarinya tuatua dan tidak ramah. “Kami sekarang sudah berubah menjadi lebih baik, dan apa maunya pelanggan itu yang menjadi prioritas kami,” katanya bersemangat.