Efektifitas Metode e-Recruitment

Kandidat tidak hanya mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat perusahaan sebelum wawancara, tapi juga mendapat gambaran yang detail mengenai pekerjaan yang ditawarkan.

Hampir setiap pelaku rekrutmen di perusahaan setuju, bahwa hal tersulit dari pekerjaannya adalah menemukan kandidat yang berkualitas. Keadaan ini tentunya cukup ironis jika dibandingkan dengan jumlah tersedianya tenaga pencari kerja di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah angkatan kerja pada Agustus 2007 tercatat sebanyak 109,94 juta orang atau bertambah sebesar 1,81 juta orang ketimbang angkatan kerja pada Februari 2007 yang mencapai 108,13 juta. Jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2006, jumlah angkatan kerja meningkat sebesar 3,55 juta orang. Sementara tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2007 mencapai 9,11% atau mengalami penurunan dibandingkan Februari 2007 yang mencapai 9,75%.

Dengan menurunnya angka penggangguran, jumlah pengangguran berdasarkan survei Agustus 2007 turun sebanyak 536,78 ribu orang jika dibanding dengan kondisi Februari 2007. Dari 10,55 juta orang pada Februari 2007 menjadi 10,01 juta pada Agustus 2007 atau mengalami penurunan sebesar 920,86 ribu orang jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2006 sebesar 10,93 orang.

Namun, kendati angka pengangguran menurun, penurunan jumlah pengangguran tidak sebanding dengan penambahan angkatan kerja. Tidak mengherankan jika data BPS ini mengungkapkan pula adanya sekitar 1,2 juta – atau sekitar 11.7% dari penduduk di Indonesia – merupakan pengangguran yang putus asa dalam mencari kerja. Keputusasaan ini membuat mereka tidak ingin mencoba mencari pekerjaan.

Pembahasan mengenai kesenjangan antara ketersediaan tenaga kerja dengan sulitnya mendapatkan kandidat yang berkualitas tentu membutuhkan ulasan mendalam dari berbagai perspektif. Majalah Human Capital sendiri pernah beberapa kali menurunkan tulisan terkait tema menarik ini.

Namun kali ini, pertanyaan yang akan diulas adalah bagaimana menjaring kandidat yang berhasil tidak hanya secara kuantitas, tapi juga kualitas. Meskipun tidak sepenuhnya mewakili kondisi di Indonesia, salah satu survey tentang e-recruitment yang dilakukan Society Human Resource Management tahun 2007 dapat dijadikan acuan awal.

Usaha menjaring kandidat secara online termasuk salah satu industri di area e-commerce yang tumbuh dan menjamur secara cepat. Sejak pertengahan 1990, beberapa metode e-recruiting seperti job boards dan pencantuman lowongan kerja baik melalui website perusahaan ataupun website khusus, mulai diperkenalkan di Amerika dan sejak saat itu langsung berkembang seantero dunia. Namun sejalan dengan perkembangannya, e-recruiting dengan menggunakan website perusahaan dianggap sebagai metode yang paling efektif. Kandidat tidak hanya mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat perusahaan sebelum wawancara, tapi juga mendapat gambaran yang detail mengenai pekerjaan yang ditawarkan. Seperti yang sering terjadi, title yang sama pada perusahaan yang berbeda, dapat memiliki job description dan target kerja yang berbeda. Dari segi biaya, penggunaan website milik perusahaan sendiri juga lebih menguntungkan. Dengan leluasa, rekruter dapat mencantumkan lowongan kerja sebanyak dan selama yang diinginkan tanpa terbatas ongkos berlangganan yang biasa dibayarkan untuk servis website khusus rekrutment.dan relatif lebih murah dibandingkan cara lainnya.

Survey yang dilakukan oleh Society Human Resource Management tersebut juga mencoba melihat beberapa aspek terkait dengan penggunaan e-recruiting oleh praktisi rekrutmen. Termasuk perbandingan dengan berbagai tradisional rekrutmen lainnya, dari segi keberhasilannya hingga biaya yang dikeluarkan. Hasil yang didapat dikelompokkan dalam dua katagori, yaitu perusahaan yang sudah dan belum memiliki layanan e-recruitment dalam website perusahaannya.

Seperti yang diduga, penggunaan alat bantu yang canggih seperti e-recruiting sangat membantu perusahaan menjalankan proses rekrutment yang cepat, efektif dan secara konsisten menghasilkan. Pencantuman lowongan kerja di website khusus, secara langsung memberikan jumlah kandidat yang lebih banyak terjaring. Hasil ini berlaku untuk katagori perusahaan yang sudah dan belum memiliki website perusahaan yang memiliki navigasi lowongan kerja. Terlihat pula dalam survey ini, meskipun perusahaan telah memiliki e-recruiting di website perusahaan, hasil maksimal akan didapat jika dikombinasikan dengan model tradisional seperti iklan.

Namun jika dilihat dari kualitas, kedua katagori secara signifikan menunjukkan bahwa metode referral atau referensi lebih menghasilkan. Kondisi ini dapat dimengerti, sebab secara tidak langsung, orang yang memberikan referensi – biasanya karyawan perusahaan – telah melakukan seleksi untuk melihat kecocokan antara kandidat dengan pekerjaan yang ditawarkan. Tidak hanya secara keahlian dan pengetahuan, tapi bahkan kesesuaian budaya kerja.

Berdasarkan pembahasan diatas, para rekruter memiliki pilihan metode yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Saat kualitas yang dituju, maka e-recruitment dapat diandalkan. Namun untuk pekerjaan spesifik tidak ada salahnya melibatkan karyawan perusahaan untuk turut menyumbangkan referensi.