Cepat dan Tepat, Memilih Tenaga Bantuan Bencana

Bencana dapat terjadi di mana dan kapan saja. Seringkali menuntut ketersediaan tenaga ahli penanggulangan bencana secepat mungkin. Bagaimana proses rekrutmennya?

Dalam setiap bencana, diperlukan langkah-langkah cepat. Termasuk kesigapan para lembaga atau organisasi penanggulangan bencana dalam menyiapkan tenaga ahli yang akan diterjunkan ke lokasi bencana. Bagaimana mereka merekrut tenaga ahli yang profesional dalam waktu relatif singkat?

Salah satu lembaga kemanusiaan yang fokus pada penanggulangan bencana di Indonesia, di antaranya Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang dirintis sejak 1994. Direktur Program ACT Imam Akbari menceritakan, dalam proses rekrutmen ACT membangun kerja sama strategis dengan berbagai asosiasi profesional nasional dari berbagai bidang kerja yang relevan dengan kebutuhan ACT dan dapat mendukung ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai di lapangan. Misalnya, melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)-Medical Relief. Bisa juga diambil dari database yang terkumpul baik dari aplikasi relevan yang masuk melalui Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) atau yang dibentuk ACT sendiri di berbagai daerah di seluruh Indonesia, maupun hasil interaksi di lokasi bencana saat itu.

Para tenaga ahli yang direkrut ACT dilatarbelakangi dari berbagai bidang profesi, tergantung kebutuhan spesifik di lapangan. Umumnya meliputi tenaga medis, rescue, logistik, fotografer, jurnalis, psikolog, dan lain-lain. Iman memaparkan, lantaran kondisi emergency yang sangat menuntut kecepatan, pihaknya melakukan rekrutmen melalui wawancara secara informal, dengan mengeksplorasi jatidiri dan karakter kandidat yang sesuai dengan visi dan misi lembaga. “Setiap aktivitas kami berbasis kerelawanan. Jadi, pada dasarnya tak ada syarat khusus untuk menjadi seorang relawan, karena kerelawanan bersifat universal,” imbuhnya.

Sistem rekrutmen karyawan ACT, lanjut Imam, dilakukan secara konvensional seperti standar perekrutan karyawan pada umumnya di berbagai lembaga atau organisasi. Namun, katanya, perekrutan karyawan ACT tetap dengan mempertimbangkan nilai-nilai kepedulian dan kerelawanan, sesuai visi dan misi lembaga. “Meski merupakan lembaga nonprofit, nilai-nilai profesionalitas dalam konteks akuntabilitas dan responsibilitas pekerjaan menjadi perhatian utama kami. Kami lembaga yang diusung publik dan diaudit oleh kantor akuntan publik terkemuka,” ujarnya.

Tantangan yang dihadapi dalam merekrut tenaga ahli untuk penanggulangan bencana biasanya karena adanya tuntutan ketersediaan tenaga lokal di lokasi dengan cepat. “Salah satu karakter kerja kami adalah memberdayakan potensi lokal termasuk dalam hal SDM,” tutur Imam memberitahu.

Selain ACT, lembaga yang juga kerap memberi bantuan kemanusiaan, yakni CARE Indonesia (CI). CI merupakan bagian dari CARE International, yang terdiri dari 12 negara. Beroperasi di Indonesia sejak 1967, awalnya CI terlibat dalam penyaluran makanan, pembangunan fasilitas kesehatan, program pemberian makanan di sekolah, dan proyek-proyek infrastruktur kecil lainnya. Seiring waktu, CI mengubah fokusnya menuju program untuk menghadapi kondisi darurat. Misalnya, menanggapi berbagai konflik dan bencana alam. CI kini juga mengembangkan beragam inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan masyarakat sambil meletakkan landasan kuat untuk pemulihan dan pengembangan di masa yang akan datang.

Saat bencana gempa di Padang, Sumatera Barat, misalnya, CI mengirimkan anggota tim tanggap darurat pada hari pertama. CI merupakan anggota tim assessment bersama beberapa departemen pemerintah, organisasi kemanusiaan lain dan badan PBB untuk menentukan kebutuhan utama bagi para korban gempa yang selamat. “Dalam keadaan darurat di Padang, Care Indonesia telah merekrut tujuh orang profesional yang meliputi satu orang project manager, dua orang untuk logistik, satu orang untuk mengurusi keuangan, dan tiga driver,” ungkap Maruba Lumban Toruan, Senior HR Manager CARE Indonesia.

Menurut Toru, sapaan akrabnya, para tenaga ahli penanggulangan bencana yang direkrut CI untuk kota Padang disesuaikan dengan kebutuhan pada saat kondisi emergency di lokasi bencana. “Orang-orang yang kami rekrut itu berdasarkan database yang kami miliki dan mereka sudah pernah ikut proyek kami sebelumnya. Kalau merekrut orang lain, belum tentu punya pengalaman untuk mengatasi kondisi emergency,” paparnya seraya menambahkan, para tenaga ahli tersebut sudah disetuji pihak CARE Pusat di Kanada.

Meski memiliki banyak database para tenaga ahli penanggulangan bencana, CI mengutamakan potensi SDM lokal yang memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan. “Kebetulan project manager kami yang di Padang memang orang sana. Jadi dia tahu daerahnya sendiri,” tuturnya. Kendati demikian, proses rekrutmen tetap selektif. Dalam arti, kandidat yang terpilih memang memiliki kemampuan atau pengalaman kerja sebelumnya sesuai posisinya sekarang. “Biasanya kami hanya melakukan short interview karena kami sudah tahu data dia sebelumnya. Jadi, kami tidak perlu melakukan lagi cek referensi. Kecuali, kalau dia sudah berhenti dari CARE lebih dari dua tahun,” ujar Toru menjelaskan.

CI sebagai organisasi internasional non-pemerintah (NGO), diakui Toru, dalam melakukan rekrutmen karyawan tidak serumit di perusahaan swasta yang biasanya melakukan screening, psikotest, dan wawancara berulangkali. Namun untuk posisi tertentu, seperti manajer proyek, akan dilakukan uji persentasi satu studi kasus penanggulangan bencana. Itu pun kalau waktunya memungkinkan. “Misalnya, kita punya bujet proyek sekian, Anda sebagai project manager dalam waktu dua tahun ke depan, apa yang harus Anda lakukan? Strategi apa yang Anda pakai dalam penanggulangan bencana?,” tuturnya mencontohkan pertanyaan saat uji presentasi.

Kalau waktunya tidak memungkinkan untuk bertemu dengan kandidat, biasanya proses wawancara dilakukan melalui teleconference. “Kelemahannya memang kami tidak mengetahui bentuk fisiknya kandidat. Tetapi, upaya ini dilakukan karena kami butuh orang cepat dan bujet terbatas untuk mendatangkan kandidat itu ke kantor,” katanya memberi alasan. Waktu yang dihabiskan dalam perbincangan dengan satu kandidat sekitar 1-2 jam. “Tetapi tergantung posisinya. Kalau posisinya teknikal, biasanya agak lama karena kami butuh penjelasan yang lebih detail,” ujar Toru.

Dalam proses pencarian karyawan atau tim emergency CI, diungkapkan Toru, selama ini selalu memanfaatkan media internal terlebih dahulu melaui website dan mailing list antar NGO di Indonesia. Kalau dari media internal tersebut belum juga diperoleh kandidat yang sesuai kebutuhan, pihaknya memasang iklan di surat kabar nasional dan daerah. “Masalahnya, orang selalu berpikiran kalau bekerja di NGO gajinya besar. Padahal proyek kami ini tentang program kemanusiaan. Jadi, apabila bujet kami terbatas, kami tidak bisa memberikan gaji yang tinggi,” ungkapnya.

Mengenai kompensasi dan benefit yang diterima para tenaga ahli CI, Toru menyebutkan, selain mereka mendapatkan gaji pokok, mereka juga menerima tunjangan kesehatan, komunikasi, dan transport. “Bagi mereka yang menanggulangi emergency, kami juga memberikan allowance tambahan selama tiga bulan sebesar Rp 50-200 ribu per orang,” tuturnya seraya mengatakan, ada tiga macam status karyawan CI, yakni tenaga kerja kontrak, permanen, dan tenaga kerja harian. Soal pendanaan, CI selama ini menerima dana dari lembaga-lembaga PBB, lembaga-lembaga donor milik pemerintah dari berbagai penjuru dunia, dan sumbangan pribadi.