Cara Ristra Menyiasati Rekrutmen

Tak dipungkiri, Ristra identik dengan sosok pendiri sekaligus pemiliknya, Dr. Retno Tranggono. Dia mempunyai idealisme bahwa cantik melalui penggunaan kosmetik haruslah aman dan cocok dengan kulit, juga cuaca tropis di Indonesia. Mengawali perjalanan bisnis sebagai seorang akademisi dan dokter praktik spesialis kulit, Retno merupakan sosok di balik Ristra yang memang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang yang dibutuhkan.

Sejalan dengan perkembangan produk Ristra dan brand (merek) yang makin menancap di pasar, peran Dr. Retno tak lagi bisa memenuhi semua permintaan masyarakat mulai dari menjadi pembicara seminar, konsultasi dengan pelanggan, hingga pengawal mutu bagi pengembangan produk Ristra. Di titik ini Retno mulai berbagi tangung jawab dengan melibatkan asisten dokter hingga beautician. Akan tetapi, persoalan muncul ketika standard layanan dan profesionalisme belum disamakan. Dan, yang tak kalah pelik, mencari SDM yang dapat memenuhi standard tersebut sangatlah sulit.

“Latar belakang itulah yang mendasari berdirinya Ristra Institute,” kata General Manager House of Ristra (Ristra Group), Ir. Adi Puji Mayawati, saat ditemui majalah HC. Menurut Adi, manajemen telah memikirkan bahwa SDM di Ristra harus memiliki standar tertentu. “Misalnya, bagaimana melibatkan asisten dokter yang mengerti masalah kosmetologi dan kulit? Selain itu, beautician dididik tidak hanya tahu soal beauty, karena biasanya di kursus-kursus kecantikan penekanannya pada masalah beauty. Di Ristra ia juga harus tahu tentang anatomi kulit maupun kesehatan yang berhubungan dengan kulit,” paparnya.

Komitmen Ristra Institute, lanjut Adi, dibutuhkan karena di Indonesia memang belum ada institusi seperti ini. Kalaupun ada, “Paling pendidikan atau kursus-kursus yang diikuti oleh dokter umum, tapi lebih bersifat aplikasi alat-alat kecantikan modern,” katanya. Sebagaimana diketahui, sekarang ini perawatan kulit dibantu dengan alat. Kalau dulu hanya mengandalkan 100% keterampilan beautician maupun dokter. Alat-alat modern ini didatangkan oleh produsen maupun distributor ke Indonesia dan mereka memberikan kursus ke para dokter yang akan membeli atau membuka salon perawatan kulit.

Namun demikian, Adi menilai, edukasi seperti itu malah membingungkan karena pemakai tidak dibekali pengetahuan tentang produk yang akan digunakan, serta apakah produk tersebut sesuai atau tidak dengan iklim di Indonesia. “Jadi, alatnya dibawa dari luar negeri, produknya juga dibeli dari luar, tapi apakah sesuai dengan kulit orang Indonesia, kita nggak tahu. Sebelum produk itu digunakan kepada pemakai, seharusnya melewati serangkaian uji manfaat terlebih dahulu,” tambahnya.

Lantaran itu, kebutuhan SDM bagi Ristra bukan hanya besar, melainkan menjadi syarat mutlak. Kosmetik itu harus aman dari kulit. Perawatan kulit yang tidak ada efek samping, tentu yang paling dicari dan diinginkan oleh konsumen. “Seseorang ingin dirinya tetap cantik dalam jangka panjang. Inilah kenapa SDM Ristra harus mempunyai visi dan misi yang sama. Tidak hanya berbasis komersial, dan tidak melakukan penyimpanganpenyimpangan yang dapat menimbulkan efek samping di kemudian hari. Para dokter di Ristra adalah sosok yang seharusnya memberikan pelayanan maupun edukasi kepada masyarakat untuk kecantikan dan kesehatan,” tuturnya.

Adi mengakui, Ristra Institute awalnya didirikan untuk memenuhi kebutuhan SDM internal. Kurikulum di Ristra Institute berupa short-course selama seminggu yang diikuti oleh para dokter umum. “Setelah seminggu peserta diterjunkan selama sebulan untuk praktik langsung menangani pasien dengan didampingi dokter Ristra yang sudah senior,” katanya. Selain dokter umum, juga dibuka short-course untuk para beautician di mana para lulusan terbaik akan langsung direkrut dan bekerja di Ristra Group, sementara yang tidak terekrut akan menjadi duta tidak resmi di Ristra.

“Kebutuhan SDM akan terus berkembang karena saat ini kami belum masuk ke seluruh Indonesia. Di kota kabupaten Ristra belum ada, padahal kami ingin di setiap kabupaten akan dilayani oleh standard idealisme seperti yang ditanamkan oleh Dr. Retno. Kasihan kalau masyarakat tidak teredukasi. Selain itu, biar masyarakat terbiasa berpikir kritis dengan kosmetik yang baik,” tutur Adi tentang rencana Ristra ke depan.

Mengikuti rencana tersebut, Adi yakin, SDM yang dibutuhkan akan mengikuti perkembangan di Ristra. Salah satu karyawan yang merupakan hasil didikan dari strategi rekrutmen ala Ristra adalah Ririn. “Sejak SMA hingga kuliah saya tertarik di dunia kecantikan. Saya menjalani freelance dengan ikut rias pengantin dan memulai usaha kecil-kecilan di bidang jasa kecantikan dan make-up. Terus datang tawaran untuk bergabung di Ristra menjadi beauty promotor dan saya ambil. Prinsip saya, apa pun ilmunya akan saya ambil,” ujar lulusan manajemen perbankan YAI lima tahun silam, ini.

Karier Ririn terbilang bersinar karena saat ini ia didapuk sebagai manajer unit di House of Ristra di Jl. Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ririn menjadi koordinator dari 12 tim, di bawahnya termasuk para dokter di Ristra. “Idealnya manajer unit dipegang oleh seorang dokter. Tapi kami belum menemukan sosok yang pas. Kami memilih Ririn karena ia layak dan mampu memegang jabatan tersebut,” cetus Adi.

Adi menambahkan, hal pertama yang penting dalam proses rekrutmen di Ristra adalah mengutamakan filosofi keamanan yang dianut oleh perusahaan ini dalam menciptakan produk-produknya. “Langkah awal ini menentukan apakah calon karyawan bisa ditraining ataukah tidak. Tipe orang lima tahun lalu dengan sekarang adalah berbeda,” ungkapnya. Sebagaimana pengakuannya, kebutuhan SDM di Ristra lima tahun silam dengan saat ini jelas tidak sama. Salah satu pemicunya, menurut Adi, adalah kompetisi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menyikapi hal tersebut, SDM di Ristra dituntut untuk dapat mengikuti perubahan itu. Sudah tentu, rekrutmen dan training pun harus dinamis menyesuaikan dengan perkembangan zaman.