Belajar Rekrutmen dari Student Program di PSN

Rekrutmen bisa ditempuh dengan banyak cara. Salah satunya seperti yang dijalankan oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) melalui student program. Bagaimana gambarannya?

Di antara puluhan operator yang bermain di ceruk pasar telekomunikasi, nama PSN termasuk yang kurang gencar membelanjakan iklan di media masa baik cetak maupun elektronik. Padahal, PSN boleh dibilang satu-satunya operator yang tidak mengenal istilah blankspot, sehingga beredar ungkapan di mana tidak ada kabel, di situ PSN masuk.

Penetrasi coverage PSN memang sangat luas. Ia adalah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi berbasis satelit. Di industri yang spesifik, PSN didukung oleh SDM yang spesial pula. Agustin B. Prabowo, Head of HRD Dept. Finance & Corporate Affairs Directorate PT Pasifik Satelit Nusantara menjelaskan, hampir 97% SDM di PSN berlatar belakang S1 dan S2. Dan, sisanya (3%) adalah lulusan D3 yang sangat spesialist. Namun, mereka didukung untuk meneruskan sekolah hingga ke level sarjana.

“Kami melihat basis S1 dengan pertimbangan tenaga kerja sarjana sudah mampu melakukan analisa dan tindakan-tindakan yang strategis. Sedangkan lulusan S2 bukan persyaratan wajib, tapi kami mendukung karyawan yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” lanjut Agustin.

Ia menjelaskan, PSN memiliki empat direktorat. Pertama, direktorat keuangan yang diisi oleh SDM non-teknik. Kedua, sales yang requirement-nya diarahkan ke bidang telekomunikasi satelit. Ketiga, marketing. Dan terakhir, engineer.

Begitu karyawan masuk, PSN memberikan pembekalan mengenai product knowledge. “Ini kami lakukan agar mereka bisa segera beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja,” tutur Agustin sambil menyebut jumlah karyawan PSN saat ini sekitar 230 orang dengan dua lokasi kantor: di Cikarang untuk bagian teknik dan di Jakarta untuk bagian marketing dan support business.

Agustin dengan bangga menyajikan fakta bahwa orang-orang PSN rata-rata mampu bertahan dalam tempo yang cukup lama. “Contohnya, tiga dari empat direktur PSN adalah orang-orang yang mengawali karier dari staf, naik menjadi manajer, terus VP hingga direktur. Turnover di PSN sangat kecil,” ungkapnya seraya memberi informasi bahwa PSN berdiri pada 1991 dan karyawan yang sudah mengabdi lebih dari 5 tahun itu sebanyak 86%.

Dengan loyalitas yang tinggi, Agustin yang telah mengabdi selama 10 tahun ini mengakui, kebutuhan SDM di PSN tidak terlalu tinggi. “Biasanya di akhir tahun saya menyebarkan formulir kebutuhan SDM baru ke masing-masing direktorat. Kepada mereka diminta untuk memasukkan berapa jumlah SDM yang akan resign atau menggantikan mereka yang pindah bagian. Awal tahun direkap dan baru dicari orangnya,” ujar Agustin. “Tiap tahun paling hanya belasan orang karena jarang sekali yang keluar. Itu pun kalau ada yang keluar dengan tawaran jabatan lebih tinggi atau masa kontrak sudah habis. Selama saya di sini, jarang pasang iklan di koran,” ujarnya mengakui.

Yang menarik, di salah satu bagian PSN, yakni Customer Care, membuka student program. Ceritanya, PSN mengundang kampus-kampus untuk memasukkan mahasiswa tingkat akhir bekerja di PSN dengan status magang selama 1 tahun. “Mereka belajar banyak tentang PSN dan PSN pun belajar banyak tentang karakter mereka,” ujarnya.

Kendati statusnya hanya magang, Agustis menjelaskan, di program ini mahasiswa memperoleh uang saku yang besarnya tergantung jam kerja mereka di samping fasilitas antar jemput. “Buat mereka (magang) ini sebagai tambahan pengetahuan kalau kelak terjun ke lapangan. Dengan begitu tidak perlu menunggu lulus baru cari kerja. Sebelum lulus pun mereka bisa bekerja dulu untuk mencari pengalaman,” papar Agustin.

Melalui student program PSN sudah bekerja sama dengan berbagai kampus seperti Universitas Trisakti, Gunadarma, Atmajaya, STT Telkom, ITB dan Bina Sarana Informatika. Belakangan, lanjut Agustin, PSN banyak diminta oleh kampus-kampus agar mau menerima mahasiswa tidak hanya di bagian teknik, tetapi meluas ke bagian lain seperti HRD, akunting, marketing, dan engineer.

Di bagian Customer Care, Agustin menyebutkan, PSN biasanya menampung hingga 20-an mahasiswa. ”Tapi kalau bagian lain seperti HRD paling 1-2 orang. Dalam student program ini, PSN melakukan pendampingan. Misalnya, untuk bagian HR diarahkan untuk belajar melakukan rekrutmen, cara interview orang, menyortir surat lamaran kerja, dan lain-lain,” jelasnya.

Buat PSN, tambah Agustin, banyaknya permintaan dari kampus untuk student program tidak menjadi masalah. “Namun perlu dicatat, bukan berarti kami mencari SDM yang murah lho. Ini salah satu bentuk komitmen PSN untuk membantu adik-adik kita yang masih mahasiswa. Kepada mereka kami berikan sertifikat yang mudah-mudahan bermanfaat buat bekal mereka mencari kerja,” tutur Agustin.

PSN juga tidak akan menutup mata jika ada di antara peserta student program yang kinerjanya bagus. “Kepada mereka biasanya ditawarkan untuk bergabung dengan PSN. Kalau mereka mau, selanjutnya kami minta mereka untuk apply, baru dilakukan proses rekrutmen dengan prosedur yang benar melalui interview sebagaimana proses rekrutmen pada umumnya,” paparnya.

Salah satu contoh karyawan PSN yang berangkat dari student program adalah Dwi Lestari Handayani yang kini bekerja di bagian Human Capital Dept. Finance & Corporate Affairs Directorate. Dwi mengaku sudah bekerja di PSN selama 3 tahun. “Dulu saya awalnya juga dari student program. Bagi saya program ini sangat membantu hingga saya seperti sekarang. Saya dulu dari mahasiswa YAI dan magang di bagian rekrutmen. Selama magang saya mendapat pengetahuan dan pengalaman yang luas ketimbang hanya belajar di kampus,” ujarnya.

Agustin sendiri tak jarang harus mengalami situasi di mana ia harus memilih dua kandidat, yang satu baru lulus dan yang satu adalah mahasiswa magang. “Otomatis saya akan pilih yang berpengalaman,” ujarnya pendek. Tentang rahasia karyawan PSN yang memiliki loyalitas tinggi, secara diplomatis Agustin menceritakan pengalamannya sendiri.

“Saya pernah bekerja di tempat lain dan ternyata di PSN jelas sekali bedanya. Saya muslimah dan saya pernah merasakan bagaimana susahnya minta izin untuk sholat. Sementara di PSN kami membangun masjid di Cikarang, dan di Jakarta tiap gedung ada tempat untuk sholat. Selain itu, saya merasakan di PSN kekeluargaannya sangat kuat. Saya masuk PSN pas bulan puasa. Direksi minta saya menyampaikan kepada karyawan untuk pulang lebih awal 1 jam agar mereka bisa buka puasa di rumah. Nah, hal-hal seperti itulah yang membuat kami merasa nyaman,” ujarnya.