6 Tren Rekrutmen Tahun 2015

Rekrutmen menjadi prioritas utama organisasi atau perusahaan tahun 2015 ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Linkedin mengenai “2015 Global Recruiting Trend” yang dirilis Oktober 2014, didapatkan proyeksi bahwa tahun ini pemberi kerja harus mengalokasikan lebih banyak dana dan bersiap-siap untuk merekrut lebih banyak talent.

Sebagai contohnya, 49% dari 450 profesional di bidang finansial yang disurvey pada November mengatakan bahwa mereka perlu meningkatkan rekrutmen pada tahun ini, sesuai dengan penelitian  dari “2015 Association for Financial Professionals Business Outlook”.

Dilansir dari entrepreneur.com dan mix.co.id, berikut adalah tren perekrutan yang akan marak terjadi tahun 2015:

1. Fokus Pada Retensi

Sebuah penelitian yang berbasis di New York yang diselenggarakan oleh The Conference Board menyatakan bahwa 52,3% dari 1,673 orang Amerika merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya. Selain itu, dari responden sebanyak 1039 milenieal, didapatkan hasil bahwa 80% di antaranya ingin berhenti bekerja dan memulai bisnisnya sendiri.

Pekerja yang tidak merasa bahagia dengan pekerjaannya, cenderung akan mengeksplorasi tempat kerja lain. Dengan demikian, perusahaan harus berusaha keras untuk membuat para pekerja tersebut bertahan.

Dengan fenomena seperti ini, pemberi kerja seharusnya segera mencari tahu faktor-faktor apa saja yang membuat karyawan ingin bekerja secara independen. Setelah itu, ciptakan tempat kerja yang mirip dengan kondisi kerja yang diinginkan karyawan. Perusahaan juga perlu memberikan lebih banyak perhatian kepada top talent yang berpotensi keluar dari perusahaan. Cari tahu apa yang membuatnya tidak betah sehingga perusahaan dapat melakukan perbaikan terkait dengan ketidaknyamanan tersebut.

Baca juga: 10 Tips Rekrutmen untuk perusahaan kecil

2. Penawaran Gaji Yang Kompetitif

Sebuah riset yang dirilis oleh Michigan University Oktober lalu mengungkapkan bahwa dari 5700 pemberi kerja yang disurvei, sebanyak 37% mengatakan bahwa mereka akan menaikkan gaji karyawan terutama untuk entry-level sebesar 3-5 persen.  Hal ini terjadi karena gaji merupakan salah satu motivator utama karyawan dalam bekerja.

Menghadapi tren ini, setiap pemberi kerja hendaknya memahami seberapa kompetitif program penggajian yang dilakukan perusahaan lain. Setelah itu, pastikan bahwa kita menggaji orang berdasarkan pada kompetensi yang dapat dikontribusikan karyawan bagi perusahaan.

3. Membangun brand perusahaan di mata pencari kerja

Employers branding atau citra dari perusahaan di mata talent sangat membantu dalam hal perekrutan. Linkedin, baru-baru ini merilis hasil riset dari yang melibatkan responden di 31 negara bahwa sebanyak 56% dari 4125 talent mempertimbangkan brand dari perusahaan ketika mencari kerja.

Salah satu cara untuk mengomunikasikan brand perusahaan kepada karyawan adalah dengan megoptimalkan penggunaan website resmi perusahaan. Caranya adalah dengan mencantumkan value, budaya dan pencapaian yang pernah didapatkan oleh perusahaan. Selain dengan website resmi, perusahaan juga dapat memanfaatkan sosial media seperti facebook dan twitter.

4. Merencanakan pergantian generasi

Dengan semakin banyaknya baby boomers yang pensiun, maka posisi-posisi penting perusahaan akan ditempati oleh generasi setelahnya. Generasi milenial akan segera mendominasi dan akan segera menduduki posisi pimpinan.

Hal ini menuntut perusahaan untuk mencari strategi yang tepat dalam menyalurkan keterampilan-keterampilan penting yang dimiliki generasi tua kepada  staff yang lebih muda. Selain itu, departemen HR juga harus mulai menyusun rencana untuk dapat memotivasi generasi milenial tersebut.

5. Freelancer akan semakin banyak

Ke depannya jenis pekerjaan freelancer akan semakin diminati. Dari sebuah sumber mix.co.id, dikatakan bahwa freelance diminati karena dua hal yakni adanya fleksibilitas waktu kerja dan bagi para pekerja pemula, freelance bisa menjadi ajang eksplorasi atas bakat yang mereka miliki.

Pemberi kerja dalam waktu dekat akan lebih banyak mempekerjakan freelancer dan pekerja kontrak. Pekerja freelance ini dapat dimanfaatkan sebagai pengisi kekurangan pekerja di perusahaan. Ketika merekrut freelancer, pastikan bahwa kita dapat menyediakan lingkungan kerja yang feksibel dan tidak berharap bahwa karyawan tersebut akan beralih menjadi karyawan tetap. Kembangkan suatu kebijakan yang mengatur tentang bagaimana merekrut freelance dan mengelolanya.

6. Pemanfaatan teknologi ponsel untuk merekrut

Sebuah situs pencari kerja, Jobvite, menyelenggarakan survey yang bertajuk “Social Recruiting Survey” dengan menyasar pada 1855 rekruter. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa sebesar 70% memprediksikan bahwa persaingan pencarian talent akan semakin ketat dan 73% responden juga menyampaikan bahwa mereka akan investasi lebih banyak pada obile recruiting daripada cara tradisional.

Bagi para pemberi kerja, usahakan bahwa perusahaan memiliki sistem rekrutmen yang dapat diakses dengan menggunakan ponsel (mobile-platform). Dengan demikian, para pencari kerja akan lebih mudah untuk mengakses lowongan kerja yang ditawarkan perusahaan dari manapun mereka berada.

Baca juga: 7 pertanyaan yang harus ditanyakan kepada perekrut

Tags: