3 Pertanyaan Wawancara untuk Menjaring Si Inovatif

Dalam sebuah ulasan dalam Harvard Business Review tahun 2009 yang berjudul “The Innovator’s DNA”, diungkapkan bahwa salah satu karakter unik dari seorang innovator adalah kemampuannya untuk bertanya.

Dalam tulisan dari Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clayton M. Christensen tersebut disebutkan, hampir semua entrepreneur yang inovatif memiliki sebuah pertanyaan yang kemudian menginspirasinya untuk melakukan sebuah proyek besar. Michael Dell bisa dijadikan contoh dalam kasus ini.

Pada awal mendirikan perusahaan Dell, pemicu utamanya adalah sebuah pertanyaan yang selalu bergaung di pikirannya, mengapa harga sebuah komputer adalah 5 kali dari harga seluruh spare-part yang ada dalam computer tersebut sebelum dirangkai? Pertanyaan itulah yang akhirnya mengilhami Dell untuk mendirikan perusahaan komputer yang masih berjaya hingga saat ini.

Satu persoalan muncul ketika Departemen HRD dituntut untuk menjaring kandidat-kandidat yang inovatif ke dalam perusahaan mereka. Bagaimana mungkin mereka melihat pertanyaan yang muncul dalam pikiran para kandidat sementara proses interview tradisional justru menempatkan mereka pada posisi sebagai “penjawab” dari pertanyaan wawancara yang dilontarkan oleh praktisi HR tersebut.

Dalam sebuah tulisan mengenai bisnis dan strategi, Lisa Bodell, CEO dari futurethink yang juga penulis dari Kill The Company, menjabarkan 14 pertanyaan yang dapat disampaikan kepada kandidat untuk mengetahui apakah mereka inovatif atau tidak. Dari 14 tersebut, 3 poin di antaranya merupakan pertanyaan untuk mengindikasikan bahwa seseorang mempunyai “strategic imagination” atau didefinisikan sebagai kemampuan untuk bermimpi dan menghasilkan ide-ide baru.

Berikut adalah tiga pertanyaan wawancara yang dimaksud:

Baca juga: 3 Hal agar Perusahaan Sukses Berinovasi

1. Jika kamu memiliki budget 50 ribu dolar, project apa yang ingin kamu kerjakan dalam durasi waktu satu bulan?

Pertanyaan ini akan memberi kita petunjuk tentang apa yang akan diberikan oleh kandidat kepada perusahaan kita jika akan mengadakan program/proyek dalam skala kecil. Cara ini bahkan telah diimplementasikan oleh sebuah perusahaan bonafid bernama Atlassian, sebuah perusahaan software yang berbasis di Sydney, dengan mengadakan program bertajuk “FedEx Days”. Konsep program yang dilakukan sekali dalam tiga bulan ini adalah menggerakkan seluruh karyawannya untuk membuat sebuah produk yang berhubungan dengan Atlassian. Layaknya paket parcel FedEx, mereka harus “mengirimkan” produk tersebut dalam waktu 1×24 jam.

Pertanyaan semacam itu, fokusnya bukan pada berapa jumlah uang atau satu bulannya, melainkan pada kesempatan bagi si kandidat untuk mengoptimalkan tongkat sihirnya dalam membuat proyek apapun. Cara yang serupa sebenarnya telah dilakukan oleh Constant Contact, sebuah perusahaan software marketing yang berbasis di Waltham, Mass. Untuk mengatasi kemacetan inovasi produknya, ia mengaktifkan progam “lampu hijau” kepada pihak internal untuk lebih cepat meluluskan ide-ide yang mereka miliki.

2. Dari faktor eksternal yang kamu amati, goncangan dan juga pilihan apa yang kita miliki untuk mengatasi hal tersebut?

Pertanyaan ini, mengarah langsung pada model gangguan (disruption) pada bisnis. Seandainya dulu pembuat Personal Computer (PC) pada Dell menanyakan hal ini dengan cukup gamblang kepada calon karyawan, kasus gangguan kesalahan penetapan harga pada Dell tidak akan pernah terjadi.

3. Segmen konsumen seperti apa yang muncul dalam kurun waktu lima tahun ke depan? Lalu bagaimana cara kita mengenalkan produk kita kepada mereka?

Gagasan yang tersirat dari pertanyaan tersebut adalah bahwa ada satu hal pokok yang menentukan keberhasilan sebuah model bisnis untuk inovasi, yakni, sebagus apapun rencana yang kita miliki, revisi tetap harus dilakukan secara rutin. Terlebih lagi karena tren pasar berubah dari waktu ke waktu. Untuk memperlancar revisi ini, Scott Anthony dalam tulisannya di HBR, memberikan masukan, “Coba tanyakan pada dirimu sendiri. Tipe konsumen semacam apa yang tidak akan mungkin mengakses produk kita, entah itu disebabkan karena gagap teknologi, daya beli maupun distribusi.”

Bukan sebuah kebetulan jika pertanyaan Anthony tersebut memiliki kemiripan dengan pertanyaan dari Bodell. Pasalnya, perusahaan memang harus merekrut karyawan yang dapat memastikan bahwa bisnis mereka akan tetap bertahan dalam jangka waktu lama. Satu hal yang harus diingat adalah bahwa pertanyaan akan kegelisahan hari ini akan mendorong solusi untuk persoalan di masa depan.

Bagi para praktisi HRD, cobalah untuk memberikan pertanyaan ini kepada calon kandidat dan pilih kandidat yang jawabannya bisa memuaskan pertanyaan Anda karena memang lebih baik dari kandidat lain.

Baca juga: Mengembangkan Inovasi Melalui Budaya Knowledge Sharing

Tags: