3 Cara Unik Merekrut Karyawan

Karyawan atau talent yang dimiliki perusahaan, tentunya menjadi faktor yang cukup berpengaruh terhadap kesuksesan perusahaan dalam meraih tujuannya. Untuk itulah, perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan yang terbaik. Hanya saja, itu tidak selalu mudah.

Di zaman di mana persaingan antar industri semakin ketat, menjadi perusahaan dengan produk yang mumpuni atau kondisi kantor yang fantastis saja tidak cukup. Diperlukan kreativitas untuk bisa memikat talent terbaik agar tertarik untuk bekerja di perusahaan kita.

Nah, sebuah situs fastcolab.com, merekomendasikan cara-cara unik bagi perusahaan dalam melakukan rekrutmen untuk mendapatkan kandidat yang tepat, simak uraian berikut ini.

Baca juga: Strategi Rekrutmen Melalui Linkedin

1. Merekrut dari komunitas

Di sebuah perusahaan search engine anonim yang berbasis di Philadelpia, DuckDuckGo, sebagian besar karyawan mereka ternyata awalnya adalah user atau hacker mereka sendiri. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan.

“Sebagai sebuah perusahaan dengan ukuran tim yang relatif kecil, maka kesesuaian budaya adalah hal yang sangat krusial. Maka dari itu, kita merekrut orang dari dalam” begitu diungkapkan oleh Gabriel Weinberg, CEO dari DuckDuckGo kepada fastcolabs.com.

Ia menyebut proses rekrutmen itu sebagai inbound hiring. Ringkasnya, mereka tidak melakukan open recruitment atau memasang pengumuman lowongan kerja. Mereka menunggu seseorang mengajukan diri untuk ikut serta dalam proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh DuckDuckGo. Mereka bisa juga penggunanya yang menawarkan proyek tanpa bayaran atau user yang melayangkan request fitur-fitur baru kepada perusahaan. Bagi Weinberg, ketersediaan orang-orang untuk menyumbangkan waktu, tenaga dan ide adalah jaminan bahwa mereka bisa menjadi kandidat yang potensial.

Sistem inbound atau menunggu “panggilan masuk” dari luar ini tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan cara rekrutmen biasa. Namun, untuk sebuah tim yang memang didesain untuk menjadi tim ringkas berkinerja optimal, tentunya jenis rekrutmen sangat membantu.

Kelemahannya, cara ini tidak dapat diterapkan apabila perusahaan membutuhkan tambahan karyawan yang banyak, puluhan orang, dalam waktu yang relatif singkat. Karena tidak mungkin kita mengumumkan bahwa perusahaan butuh karyawan dan mengundang kandidat yang mau menyumbangkan proyek tanpa dibayar terlebih dahulu. Cara ini cukup baik dan berhasil diterapkan pada perusahaan start-up atau jika karyawan yang dibutuhkan sedikit dan tidak mendadak.

2. Part-time sebelum Full Time

Dengan tumbuhnya berbagai media perpesanan singkat seperti whatsapp, line atau sejenisnya, maka seharusnya Kik, yang saat ini sudah memiliki lebih dari 100 juta pengguna segera bergegas mencari talent untuk masuk dalam tim di perusahaan. Kenyataannya tidak demikian, Kik justru menginginkan karyawannya untuk part-time dulu sebelum diterima menjadi karyawan full time.

“Ada satu cara yang lebih menarik untuk dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan assessment terhadap calon karyawan daripada sekedar wawancara yang dibenci setiap orang. Meski masih ada cara “wawancara” di Kik, tetapi untuk posisi yang krusial, Kik memilih untuk mengambilnya dari pekerja part-time”, ungkap Ted Livingston, CEO dari Kik Messenger.

Realisasinya adalah, ketika mereka memiliki kandidat yang kompeten, perusahaan akan menawari mereka untuk kerja paruh waktu dan menangani proyek yang akan mereka kerjakan seandainya mereka menjadi karyawan penuh. Para part-timer tersebut akan mendapatkan upah yang layak sesuai waktu yang direlakan untuk perusahaan. Jika di antara para pekerja part-time tersebut ada yang cocok mengisi posisi full-time maka ia akan dipertimbangkan untuk direkrut menjadi karyawan tetap.

Sistem part-time ini memang disebut memiliki kelemahan. Part-time mungkin terlihat sangat menarik bagi pekerja freelance, tetapi bagi karyawan yang sudah bekerja full-time di perusahaan lain, belum tentu. Masalahnya, jika harus keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, belum tentu tambahan finansial yang ia peroleh dari bekerja part-time dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Untuk itulah Kik memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja pada saat akhir pekan atau sore hari di luar jam kerja.

3. Berikan kepercayaan bagi mereka dengan tidak menetapkan jam masuk kerja

Mass Relevance, sebuah perusahaan jasa survei online tentang consumer engagement (keterikatan konsumen) terhadap suatu brand, melakukan sebuah terobosan yang anti-mainstream untuk mendapatkan talent yang unggul. Strategi rekrutmen yang mereka pakai mungkin memang masih terbilang tradisional, tetapi ketika talent telah terjaring, maka gebrakan itu dilakukan. Perusahaan tersebut memberikan keleluasaan bagi karyawan baru untuk datang jam berapa pun mereka mau. Selain itu, mereka juga diperbolehkan mengatur sendiri waktu liburan mereka sesuka hati.

Ketika perusahaan lain dengan ketatnya menentukan bahwa jam kerja adalah dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, maka Mass Relevance berpandangan lain. Perusahaan ini mendidik karyawan untuk menjadi entrepreneur dan seorang entrepreneur tidak akan kerja maksimal dengan pola waktu 9-5 tiap hari.

Untuk sebagian orang, cara ini mungkin terlihat cukup aneh dan tak masuk akal, kita bertemu orang baru, menjadikannya karyawan, dan kemudian membebaskanya untuk libur keesokan harinya atau kapanpun ia mau. Tetapi, CEO Mass Relevance cukup percaya diri menyangkal anggapan-anggapan tersebut. Menurutnya, sistem yang ia pakai bukanlah tidak berdasar, ia memakai teori psikologi yang dinamakan Pygmalion Effect. Teori ini mengatakan bahwa semakin banyak kita memberikan kepercayaan kepada orang lain, maka akan semakin besar pula tanggung jawab yang ia tunjukkan.

Ketika sang CEO, Sam Decker, ditanya apakah ia tidak khawatir bahwa para karyawan akan menyalahgunakan kebebasan tersebut, ia menjelaskan bahwa ia yakin telah merekrut karyawan yang menyukai pekerjaannya dan perusahaan memberikan tantangan bagi mereka sehingga mereka mampu memecahkan masalah. Intinya, situasi kerja yang menyenangkan diciptakan oleh perusahaan sehingga para karyawan tidak ingin melewatkan momen-momen bekerja untuk membolos atau hal-hal tercela lainnya.

Baca juga: Rekrutmen Ala Speed Dating

Tags: