2008 Headhunter Masih Booming

Dalam beberapa ke tahun belakang, bisnis executive search atau yang lebih ngetrend dengan sebutan headhunter cukup booming. Diperkirakan bisnis yang mulai dipraktekkan sejak usai Perang Dunia 2, dimana saat itu pembangunan ekonomi dimulai kembali, pada tahun 2008 ini akan semakin marak dan tetap menjanjikan bagi siapa saja yang berada di dalamnya.

Salah satu penyebabnya antara lain karena semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi di tanah air yang berimbas secara langsung terhadap gairah pertumbuhan bisnis hampir di semua sector. “Terus terang untuk headhunter sampai tahun 2009 prospeknya masih cerah. Karena pertumbuhan ekonomi terus meningkat dan kita melihat investasi juga semakin banyak”, kata M. Ali Akbar, Career Consultant-Manager Sales & Marketing Specialist, PT JAC Indonesia kepada HC bulan lalu.

Pria yang akrab disapa Akbar ini mencontohkan beberapa industri yang sedang seperti IT, Telekomunikasi dan chemical. Ia pun menyoroti chemical industry yang prospeknya akan semakin menjanjikan. Apalagi sebenarnya industri ini bersama consumer goods relative stabil.

“Kalau chemical dengan consumer goods itu relative stabil industrinya karena banyak berhubungan dengan bahan-bahan konsumsi. Kalau kimia itu kan lebih banyak ke food and beverages atau supporting industrial. Kalau untuk industri-industri itu kita optimis headhunter masih akan banyak diperlukan. Jadi trennya masih cukup bagus”, lanjutnya.

Dampak dari meningkatnya chemical industry terlihat dari mulai banyaknya investasi yang ditanamkan di sector tersebut. Pihaknya pun turut menangguk rejeki dengan kondisi ini. “Di industri kimia kita dengar banyak perusahaan dari Inggris mau investasi banyak di tahun 2008 di Indonesia. Dan kita sudah dapat permintaan dari sana. Mereka punya range salary juga lumayan bagus. Maksudnya di atas rata-rata lah”, ujarnya tanpa menyebut angka.

Sementara itu, Bernadette R. Themas, Country General Manager PT. Kelly Services Indonesia di tahun 2008 masih tatp menjanjikan meskipun ia menyebut jumlah supply yang tidak seimbang dengan demand yang ada akan menjadi tantangan terbesar di bisnis ini. “Jadi kalau saya katakan supply and demand terutama untuk yang top per former tidak equal, itu tantangan utama kita. Dan tantangan ini tidak hanya untuk di Indonesia, di negara lain juga seperti itu”, ujarnya menganalisa.

Hal ini diakibatkan oleh globaliasi di dunia industri yang memungkinkan seseorang untuk cross boarder. Selama orang tersebut punya kualitas ia akan semakin diburu bukan hanya di dalam negeri tetapi juga sampai keluar negeri. Menurutnya saat ini sudah banyak terjadi perekrutan lintas Negara. “Jadi untuk talent ini sendiri untuk proses perekrutan tidak hanya talent Indonesia untuk Indonesia saja. Talent Indonesia bisa saja di Singapura, di Hongkong, Amerika, karena memang eranya sudah era globalisasi kan.”

Di tahun 2008, tampaknya bidang IT dan telekomunikasi masih menjadi primadona. Karena sampai sekarang talent di kedua bidang ini tergolong masih langka di Indonesia. Apalagi saat ini persaingan di bidang telekomunikasi semakin ketat setelah kemunculan beberapa operator telepon seluler belakanagn ini. Hal ini sebenarnya sudah sempat dikeluhkan oleh Joris De Fretes, Director Corporate Services PT. Excelcomindo Pratama di HC edisi Juni 2006 lalu.

Kala itu kemunculan sebuah perusahaan telekomunikasi baru mengakibatkan puluhan karyawan level manager level ke atas pindah ke perusahaan baru tersebut karena dianggap lebih menjanjikan baik dalam hal remunerasi, jenjang karir dan pengembangan karyawan. Eksodus besar-besaran ini akhirnya memaksa pihaknya menggunakan jasa headhunter. Tampaknya kondisi yang mirip terjadi saat ini kala muncul beberapa perusahaan telekomunikasi dalam waktu yang berdekatan.

Sulitnya mencari orang yang ahli di bidang ini juga diakui oleh Akbar. “Pokoknya semua posisi yang berhubungan dengan engineer ini, bisa di IT nya, atau di konstruksi atau engineer di Telko. Itu udah pasti orangnya sedikit. Otomatis permintaan dari perusahaan itu tinggi tapi mereka nggak bisa cari orangnya. Disana kita peran tinggi sekali”, imbuhnya.

Dengan munculnya tren bajak membajak eksekutif, kesadaran perusahaan untuk membina kader-kader potensial dari dalam pun semakin meningkat. Paling tidak mereka sudah memiliki calon penggantin apabila pimpinan mereka kelak pindah atau dibajak perusahaan lain. Menyikapi hal ini, Bernadette tidak merasa bahwa ini sebagai suatu ancaman untuk penyedia jasa headhunter seperti perusahaannya. “Saya rasa itu bukan suatu ancaman menurut kami. Justru bahwa kita melihat ini adalah potensial untuk kita juga, untuk kita pindahkan calon-calon itu ke tempat yang lain”, ungkapnya.

Apalagi untuk melakukan manajemen trainee menurut Bernadette bukan hal yang mudah untuk dilakukan. “Bagaimanapun di manajemen trainee, company itu harus punya gambaran kira-kira orang ini, calon leader ini kan harus di rotate dulu. Untuk yang namanya people development di suatu perusahaan itu tidak mudah, karena sudah ada manager A,B,C yang mana harus juga dipertimbangkan karirnya ke mana aja.”

“Sementara kita memang harus memikirkan regenerasi. Tapi secepat apa regenerasi? Misalnya dalam satu tahun dia harus jadi apa, dua tahun jadi apa, ini juga harus dipikirkan oleh perusahaan. Jadi memang tidak semua company punya manajemen trainee karena nggak mudah lo”, tambah Bernadette.

Kekhawatiran juga tidak dirasakan oleh Akbar. Menurutnya jasa headhunter tidak akan terpengaruh hal ini. “Itu sama sekali nggak berpengaruh. Bahkan ada banyak perusahaan-perusahaan yang punya program bagus, mereka punya rekrutmen center sendiri, tapi justru banyak top level manajemennya mereka menggunakan jasa headhunter”.

Selain itu tingkat kejenuhan terkadang juga menjadi factor pendorong seseorang untuk pindah. Jadi meskipun perusahaan sudah mempunyai manajemen trainee ataupun rekrutmen center, tetap saja mereka membutuhkan jasa headhunter. “Biasanya mereka keluar untuk pindah ke environment yang baru, kemudian untuk mendapatkan posisi yang diingini. Biasanya mereka hanya menggunakan itu sebagai sarana untk belajar saja”, urai Akbar.

Kalau sudah begini, sekarang tinggal penyedia jasa headhunter yang harus memutar otak untuk memberikan pelayan sebaik mungkin agar terus dipercaya klien. “Dalam kondisi seperti itu, perusahaan pemakai jasa headhunter tentunya mengharapkan bisa dibantu untuk mendapatkan tenaga kerja kualitas terbaik yang bisa meningkatkan hasil-hasil bisnis, di samping memiliki track record dan etika yang baik pula,” tutur John Rangam, Direktur Potensia HR Consulting saat pertemuan recruitment community lalu. (adt)