Profesional di Indonesia Paling “Jaim” soal Foto Profil

Tahukah Anda bahwa dalam LinkedIn 1 dari 2 (51%) pengguna professional di Indonesia mengaku sangat berhati-hati dalam memilih foto untuk dipasang sebagai foto profil, terutama pada jejaring sosial yang sifatnya professional. Angka ini menunjukkan bahwa profesional di Indonesia paling memperhatikan “image” dibanding profesional di 19 negara lain yang telah disurvei dalam studi terbaru dari Linkedin, New Norms @Work.

Mengapa profesional di Indonesia begitu “jaim” alias jaga image? Studi tersebut menemukan sebanyak 31% responden menyatakan bahwa mereka memberikan kesan pertama terhadap seseorang melalui foto profil mereka di media sosial. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebanyak 42% profesional di Indonesia akan melihat gambar profil seseorang sebelum bertemu dengannya.

Selain membahas tentang foto profil, studi yang melibatkan 15.000 profesional penuh waktu ini juga membahas mengenai berpakaian di tempat kerja dan kejujuran di tempat kerja.

Baca juga: Infografik: Posting engga ya..?

Hasilnya yaitu sebanyak 38% professional wanita percaya bahwa mereka akan lebih dinilai dalam berpakaian dibandingkan dengan pria (dengan rata-rata global sebesar 25%). Sedangkan untuk kejujuran di tempat kerja, pekerja di Indonesia dikategorikan cukup jujur mengenai pekerjaan mereka yang sebelumnya. Meskipun pernah dipecat dari perusahaan sebelumnya, mereka tetap mengatakannya secara jujur. Dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 35% dan Singapura hanya 31%.

Menurut Cliff Rosenberg, selaku Managing Director LinkedIn untuk Asia Tenggara, Australia dan New Zealand, di era digital di mana media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para professional maka mereka harus bisa membangun professional brand mereka di dunia online. “Lebih dari setengah professional di Indonesia pun setuju, bahwa mempromosikan diri melalui platform media sosial sangat penting,” ungkap Rosenberg.

Hasil studi juga mengungkapkan bahwa sebanyak 63% professional di Indonesia tidaklah termasuk ke dalam “yes employees” ataupun “order takers.” Dalam artian tidak langsung mentah-mentah menerima apa yang diperintahkan kepada mereka. Hal ini didukung dengan data bahwa sebanyak 76% professional di Indonesia tidak ragu unuk menyuarakan pendapat dan menyampaikan ide mereka.

“Dengan memanfaatkan berbagai macam pendapat akan memperkuat kualitas pengambilan keputusan dalam organisasi,” kata Rosenberg. “Selain berbagi pendapat di dalam perusahaan atau team, para pekerja professional juga bisa menyuarakan pemikirannya di berbagai platform seperti LinkedIn agar dapat menjangkau cakupan yang lebih luas.” (@aindahf)

Baca juga: 4 Tips Beretika di Social Media

Tags: ,