7 Sikap Karyawan Inilah yang Membuat Kesal Para Bos

businessmen-1000934_640

Berbicara masalah bisnis, setidaknya kita memiliki tiga sudut pandang ketika membahas tentang sikap tidak produktif. Yang pertama adalah orang yang terlihat begitu menonjol dan menggebu-gebu tetapi pada kenyataannya dia tidak menghasilkan output yang signifikan. Kedua adalah mereka yang memang terlihat bahwa kinerjanya menurun dari waktu ke waktu dan yang terakhir adalah tidak produktif karena memang karyawan tersebut malas dan semua orang tahu itu.

businessmen-1000934_640

Apapun tipenya, semuanya akan memberikan kerugian yang sama bagi pemberi kerja. Ketiganya harus dihilangkan jika perusahaan ingin maju.

Oleh karena itu, setiap manager atau atasan harus paham karakteristik-karakteristik yang ditunjukkan oleh karyawan yang tak lagi produktif. Setelah mendapati gejala dan tahu penyebabnya, perusahaan  dapat memberikan perlakuan yang tepat untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut.

Seperti dilansir dari themuse.com, berikut adalah tujuh pertanda bahwa karyawan Anda sudah tidak lagi produktif bagi bisnis Anda,

  1. Banyak Mengeluh (complaining)

Tidak peduli karena apa, tentang siapa atau kepada siapa, mengeluh adalah indikasi bahwa seseorang tidak suka terlibat dalam proyek yang ia kerjakan. Mereka adalah orang yang suka membuag-buang waktu dan bahkan mereka lebih sering mengeluh dari pada melakukan hal yang bermanfaat. Orang yang benar-benar produktif tidak pernah tengelam dalam masalah yang dihadapi melainkan segera menyelesaikannya.

  1. Mencari-cari alasan

Sama halnya dengan mengeluh, mencari-cari alasan juga merusak produktivitas. Jika suatu pekerjaan tidak selesai karena ada pekerjaan lain lebih prioritas, tentu tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi, jika suatu pekerjaan tidak selesai karena alasan yang mengada-ada, waspadai ada yang salah dengan karyawan tersebut. Mulai sekarang coba perhatikan lagi sikap Anda. Alasan memang tidak pernah ada habisnya jika dicari-cari. Satu atau dua kali memberikan alasan tidak masalah, tetapi jika terlalu sering, bos Anda tidak akan suka.

  1. Menunda Pekerjaan

Kebiasaan ini pararel dengan kebiasaan sebelumnya yakni suka mencari-cari alasan. Sering kali, Anda melihat karyawan menunda pekerjaan karena ada alasan yang kuat. Akan tetapi, ada kalanya mereka mencari-cari alasan untuk bisa menangguhkan pekerjaan. Misalnya mereka merasa pekerjaan tersebut bukan persoalan yang krusial sehingga bisa ditunda. Untuk beberapa jenis pekerjaan kecil, mungkin kebiasaan ini masih dapat dimaafkan tetapi akan sangat berbahaya jika yang dikerjakan adalah pekerjaan skala besar dan penting.

  1. Selalu menjalankan tugas atas dasar masukan dari atasan

Hal ini bisa terjadi karena salah satu dari dua alasan berikut. Pertama, karyawan tersebut ingin atasannya saja yang mengerjakan tugas atau dia ingin si bos mendelegasikan ke orang lain. Kedua, karyawan tersebut memang belum bisa mandiri dalam menentukan sikap atau solusi dari masalah. Apapun alasannya, kebiasaan ini tetap mengurangi produktivitas. Dalam berbisnis, sikap mandiri, kreatif dan mampu memberikan solusi sangat diperlukan demi mengembangkan perusahaan.

  1. Hanya peduli pada imbalan (credit)

Ini adalah salah satu masalah klasik yang sering menjangkiti karyawan. Mereka hanya mau mengerjakan tugas jika tugas tersebut mendatangkan keuntungan pribadi untuknya. Sederhananya, mereka hanya mengutamakan imbalan, kompensasi atau iming-iming dari atasan di kantor tersebut. Mereka mengerjakan hanya bagian yang disuruh atasan. Selain merusak produktivitas, sikap tersebut juga mengindikasikan bahwa karyawan sudah tidak memliki motivasi sehingga atasan dapat mengambil langkah yang lebih lanjut lagi bagi karyawan tersebut.

  1. Tidak memiliki motivasi atau dorongan

Kita dapat mengetahui apakah seorang karyawan termotivasi atau tidak dengan melihat apakah lima sikap di poin sebelumnya ada dalam dirinya. Dia suka menunda pekerjaan, selalu mencari alasan dan terus menerus merongrong bosnya dengan pertanyaan. Sikap-sikap tersebut jelas menunjukkan jika ia sudah tak lagi bersemangat untuk bekerja. Kurangnya motivasi ini bisa saja terjadi karena memang karyawan sudah salah memilih tipe karir dari awal.

  1. Hilangnya personal brand

Karyawan Anda mungkin saja seorang pekerja keras. Ia juga selalu menyelesaikan tugas sesuai perintah Anda. Namun, bukan berarti sikap tersebut memberikan sinyal positif bagi produktivitasnya. Karyawan tersebut hanya mengerjakan rutinitas sehingga tidak berkembang. Padahal, produktif adalah bekerja dengan terus belajar sehingga keterampilah bertambah dari waktu ke waktu. (*)