Persiapan HRD Menghadapi VUCA World

Tranformasi terus terjadi di segala bidang dan hal tersebut berpengaruh pada dunia bisnis. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu tantangan yang harus dihadapi di depan mata adalah VUCA world.

VUCA atau Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity merupakan gambaran situasi dunia bisnis saat ini. Volatility didefinisikan sebagai perubahan yang sangat cepat, Uncertainty adalah kesulitan bagi kita untuk memprediksi kejadian atau peristiwa yang akan terjadi di masa depan, Complexity menyiratkan bauran antara isu dengan chaos yang terjadi di organisasi semakin beraneka ragam, sementara Ambiguity adalah kaburnya antara realitas dengan makna-makna bauran dari berbagai kondisi yang ada.

VUCA world yang berpengaruh pada dunia bisnis, mau tak mau juga akan berpengaruh pada bidang sumber daya manusia. Bahkan, pengaruhnya bisa dikatakan sangat signifikan. Lalu siapkah departemen sumber daya manusia menghadapi VUCA World?

Baca juga: Kenali si Penghambat Perubahan ini

“Ketika ditanya siap atau tidak, biasanya praktisi HRD akan serempak bilang siap. Padahal kesiapan itu bukan hanya siap dirinya sendiri, tetapi juga seluruh tim di perusahaan. Jadi, jangan buru-buru berkata ‘siap’, coba tanyakan dulu kepada para talent di perusahaan Anda!”, demikian seloroh dari Pambudi Sunarsihanto, Direktur Human Capital Department dari Citibank Indonesia dalam Annual Conference DataOn yang diselenggarakan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta (1/4).

VUCA world rupanya menciptakan suatu tren baru yang penting untuk dipahami oleh praktisi SDM dan pemimpin perusahaan masa kini. Ketika dulunya orang/kandidat yang mencari perusahaan untuk memberinya kerja, kini sebaliknya. Perusahaanlah yang mencari orang. Saat dulunya, mesin, modal dan kondisi geografi menjadi sebuah keunggulan, maka sekarang, karyawan yang bertalentalah keunggulan perusahaan. Talent yang dulunya hanya berperan kecil terhadap keberhasilan bisnis, sekarang menjadi penentu perubahan.

Demikian juga dengan lowongan kerja. Pada masa lampau, lowongan kerja sangat langka. Namun sekarang yang langka bukanlah lowongan kerja tetapi justru talent yang berkualitas. Sulitnya mendapatkan talent juga dibarengi dengan bergesernya loyalitas karyawan. Dulunya, karyawan berpikir untuk berkarya long-term pada sebuah perusahaan. Kini, komitmen orang lebih bersifat short-term. Pada umumnya mereka tidak loyal kepada perusahaan tetapi pada profesi.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, dibutuhkan kesiapan khusus untuk bisa bertahan dalam kompetisi. Mengutip dari petikan kata Charles Darwin, seorang ahli evolusi, Pambudi menegaskan,

“Yang bisa bertahan hidup itu bukanlah mereka yang besar dan kuat. Karena dinosaurus pun punah. Yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri. Seperti umpamanya adalah kura-kura.”

Seperti yang telah dilakukan oleh Citibank, perusahaan tempatnya berkarya, yang perlu dipersiapkan praktisi HR adalah pemimpin yang dapat membaca tren masa depan dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Saat ini, Citibank memang telah mencetak banyak sekali pemimpin, termasuk di antaraya adalah pemimpin perusahaan global. Citibank sendiri, bank multinasional yang menjadi kepercayaan 495 perusahaan yang masuk Fortune 500, berkomitmen untuk membentuk lebih banyak pemimpin masa depan, baik itu untuk perusahaan, industri dan negara.

Baca juga: 2015 adalah tahun perubahan, mari mulai dari diri sendiri

Tags: , , ,