SDM Penggerak Inovasi Pelindo II

nina insania

Pelindo II yang kini tampil dengan nama baru, Indonesia Port Corporation (IPC), tak hanya berubah nama. Seperti diungkapkan Nina Insania K. Permana, Executive Advisor of Human Capital Development IPC, serangkaian langkah-langkah dilakukan departemen SDM untuk menyelaraskan kapabilitas karyawan dengan kebutuhan bisnis perusahaan.

Hal ini disampaikan Nina dalam sesi pertama seminar “New Ways to Build Effective Talent Pool” yang diselenggarakan PPM Management hari ini (27/3) di Jakarta.

Nina mengungkapkan bahwa transformasi harus diikuti oleh inovasi-inovasi baru. SDM sebagai penggerak inovasi perlu diolah sedemikian rupa hingga memiliki kompetensi dan kapabilitas yang diperlukan oleh proses bisnis yang terjadi di IPC. Untuk mewujudkan hal tersebut, Departemen SDM IPC melakukan berbagai pendekatan yang menyasar pada beberapa komponen Human Resources Management.

Salah satu pendekatan yang paling mencolok adalah dengan Performance Management System (PMS). Termasuk di dalamnya adalah assessment dan strategi kompensasi. Hasil kerja setiap karyawan di seluruh jajaran akan dievaluasi secara rutin. Laporan kinerja tersebut secara langsung akan mempengaruhi “nasib” karyawan tersebut di perusahaan, terutama untuk level-level managerial.

Jika ternyata rapor kinerja mereka buruk, perusahaan akan memberikan teguran. Langkah awalnya adalah dengan memberikan pengajaran, pembimbingan, atau training agar skill dari karyawan tersebut meningkat.

Namun, jika si karyawan masih tidak dapat menjalankan peranan sesuai target, perusahaan telah menyiapkan exit program yang menarik bagi mereka yang memang harus meninggalkan perusahaan. Satu hal yang harus diapresiasi dari IPC adalah karena hasil assessment tiap karyawan dapat dilihat secara online oleh stockholder dan jajaran direksi di IPC.

Pendekatan lainnya adalah pada skema kompensasi. IPC memberikan kompensasi bagi karyawan sesuai dengan hasil kinerjanya, performance based compensation.

“Jadi, meskipun jabatannya sama, total kompensasinya bisa berbeda-beda. Dan perhitungan-perhitungan tersebut sudah dilakukan by system,” ungkap Nina.

Ia menambahkan bahwa landasan dari penilaian tersebut adalah Key Performance Indicator (KPI) dengan indikator-indikator yang memang reliabel dan feasibel, bukan abal-abal.

Sebagai aset yang berharga bagi perusahaan, Human Capital memang dikelola dengan sangat intensif di IPC. Nina mengungkapkan bahwa karyawan IPC diutamakan adalah yang memiliki soft skill yang baik, skill komunikasi yang baik, concern to others dan kemauan belajar secara berkelanjutan. Setiap pemimpin unit adalah manager HRD di unit tersebut. Pemimpin yang baik harus mampu membawa karyawan kepada visi misi perusahaan.

“Untuk mencapai tujuan, perlu adanya power dan visi yang sama. Itulah yang dipupuk kepada seluruh karyawan IPC,” jelas Nina. (*/@yunitew)

 

Tags: , , , ,