Kebangkitan Pekerja Pengetahuan

Siang  menjelang  sore,  24  Mei  lalu,  saya  dan  tim KM  Plus  mendapat  pengalaman  menarik  yang ingin kami bagi kepada pembaca HC. Di tengah suasana yang terbilang cukup meriah dalam rangka kick-off  inisiatif  knowledge  management (KM) di  kantor  pusat  SOHO,  ada  sosok  yang  sangat menarik  untuk  dicermati.

Adalah  Tan  Eng  Liang,  Presiden Komisaris SOHO, tokoh di balik melesatnya bisnis SOHO. Sosok sederhana ini menggarisbawahi visinya sejak lima tahun lalu. Dia membayangkan penerapan KM dapat membuat setiap orang tergerak untuk belajar melalui sharing (berbagi). “Sering kali para sales force di lapangan memiliki banyak knowledge dari pelanggan yang berguna bagi pengembangan produk. Namun, itu hanya terjadi bila mereka mau sharing,” tuturnya di sela acara.

Kesadaran Pak Tan, begitu orang memanggilnya, berangkat dari pemahaman bahwa bisnis SOHO bukan semata bergelut di bidang farmasi. Akan tetapi, di dalamnya tersimpan banyak pengetahuan. Dan,  untuk  memenangkan  bisnis  di  era  pengetahuan,  setiap profesional di SOHO harus berlaku seperti pekerja pengetahuan (knowledge worker). Pak Tan benar. Kunci kemenangan bisnis terletak pada manusia (people). Untuk menjadi unggul, setiap orang  dalam  organisasi  harus  menjadi  pekerja  pengetahuan. Pertanyaan yang kerap tersisa adalah, bagaimana caranya?

Ada  banyak  cara  untuk  menarik  para  pekerja  pengetahuan  ke dalam organisasi, misalnya melalui strategi HR atau pelatihan dan pengembangan  yang  intensif.  Menurut  pengalaman  kami,  cara termurah dan efektif – namun sering kali tidak mudah dilakukan –  adalah  menciptakan  lingkungan  yang  tepat untuk  tumbuh kembangnya para pekerja pengetahuan lewat perubahan perspektif. Maka, memperkenalkan perspektif pada pekerja pengetahuan akan mengubah mereka menjadi pemenang di era ini.

Pekerja pengetahuan memiliki SMART dalam diri mereka. Ini merupakan  singkatan  dari:  Self-driven,  Motivation,  Action, Responsible dan Team Player. Sebagai karakter yang self-driven, pekerja pengetahuan memiliki tujuan hidup dan perencanaan yang jelas. Energi mereka tidak pernah habis karena motivasi mereka didorong oleh hasrat (passion) yang luar biasa. “Please do it with love”, seperti yang dilakukan Michael Jackson adalah salah satu contoh dari hasrat yang melimpah.

Action-oriented,  adalah  perspektif  berikutnya  yang  harus dimiliki  oleh  para  pekerja  pengetahuan.  Fokus  dalam  setiap aksinya, dan selalu terukur dalam sebuah scoreboard yang jelas. Karena mereka paham benar, hasil hanya diperoleh dari apa yang dilakukan, bukan yang dipikirkan. Responsible adalah ciri dari pekerja pengetahuan. Sebuah tanggung jawab untuk menjadikan apa yang dikerjakan sebagai mahakarya, bukan untuk dirinya atau kekinian melainkan untuk warisan yang melebihi ruang dan waktu.

Dan terakhir, adalah Team Player. Para pekerja pengetahuan selalu nyaman bergerak dalam jaringan kerjanya. Lewat kerja sama, hasil bisa dicapai lebih besar. Lewat tim, para pekerja pengetahuan  mengembangkan  dirinya  melalui  mekanisme sharing. Kecintaan untuk bekerja dalam tim biasanya tercermin dari luasnya jejaring dan banyaknya komunitas di mana mereka terlibat di dalamnya.

Di ujung sesi tadi saya membayangkan, seandainya orang-orang dengan kesadaran seperti Pak Tan persentasenya terus membesar, dan barisan pekerja pengetahuan terus bertambah, maka suatu saat kita tidak akan lagi membaca headline di Surat Kabar yang menyajikan berita petani kita bertambah miskin  atau  perajin rotan  kita  mati  suri.  Ketika  setiap  orang  memiliki  kesadaran sebagai pekerja pengetahuan, niscaya nilai tambah produk yang dihasilkan akan meningkat, demikian pula daya saingnya. Dan, pada gilirannya akan memberi kemakmuran bagi negeri ini.

Bisa jadi saya terlalu berandai-andai. Tapi sungguh mimpi itu mudah, semudah kita mengubah perspektif untuk bekerja sebagai pekerja pengetahuan. Semoga momentum kebangkitan nasional tahun  ini  juga  menjadi  kebangkitan  pekerja  pengetahuan di Indonesia yang kita cintai.

Alvin Soleh (Founder KM-Plus & Learning-Lead) dan Arief Adi Wibowo (Consultant)

(Artikel ini dimuT DI Majalah HC Edisi Juni 2010)