Di HR Era Digital, Bernarkah Penilaian Tahunan Sudah Tak Laku Lagi?

HR Meet n Talk PMSM Indonesia

Teknologi membawa perubahan yang begitu besar dalam proses bisnis masa kini. Berbagai penyesuaian harus dilakukan oleh karyawan untuk dapat mengikuti perubahan zaman hingga dapat bertahan dan bahkan meningkatkan performa.

HR Meet n Talk PMSM Indonesia

(Image: PMSM Indonesia)

Kemajuan teknologi memunculkan persaingan ketat yang tak cukup jika hanya dihadapi dengan “bereaksi (react)” semata. Lebih jauh dari itu, kita harus “mengantisipasi (anticipate)”. Dan dalam hal ini peranan Departemen HR sangatlah penting. Demikian ungkap Doni Priliandi, Pendiri Happy5, sebuah perusahaan software developer untuk pengelolaan bisnis dengan cara yang “fun” dalam acara HR Meet & Talk PSMS pada Kamis (2605) di Hotel Harris, Jakarta.

Menurutnya, masih banyak praktisi HR di Indonesia yang belum memiliki mindset “perubahan”. Dihadapkan pada banyak sekali tantangan, tak sedikit dari mereka yang masih bersifat reaktif terhadap suatu masalah. Kasus yang paling dekat adalah fenomena demonstrasi yang dilakukan oleh para pengemudi Blue Bird. Jika seorang praktisi HR berpola pikir antisipatif, harusnya perlawanan terhadap pesaing dilakukan dengan jalan inovasi dan kreativitas.

Baca juga: Pambudi Sunarsihanto Terpilih Jadi Ketua PMSM Indonesia 2016-2019

Selanjutnya, departemen HR di perusahaan juga seharusnya bersikap transparan dan mudah diajak bicara. Karyawan berhak tahu segala penilaian yang menyangkut performa mereka. Dan hal itu sudah tidak bisa lagi diwakilkan dalam sebuah review atau survei tahunan.

HR Meet n Talk PMSM Indonesia2

(Image: PMSM Indonesia)

“Zaman sekarang orang sudah tidak bisa menunggu setahun untuk mendapatkan feedback dari atasan mereka tentang kinerja. Bayangkan saja, ketika orang memposting sesuatu di Instagram, mereka ingin mendapatkan respon dari follower secepat mungkin. Apalagi untuk hal yang lebih krusial seperti pekerjaan mereka di kantor,” ungkap Doni.

Review tahunan ini juga minim akurasi. Pasalnya, ketika penilaian dilakukan di akhir tahun, banyak kejadian awal tahun yang akan terlupakan. Sehingga bukan tidak mungkin review tersebut hanya didasarkan pada kinerja akhir tahun menjelang penilaian. Dampaknya, karyawan akan semakin rajin di saat-saat penilaian sudah dekat dan semangatnya menurun seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Mari Melek Digital Bersama WWW-HM

Merujuk pada pernyataan CEO Accenture, Pierre Nanterme, bahwa jika perusahaan masih mengandalkan survey tahunan, kemungkinan besar mereka akan kehilangan talent generasi mudanya. Padahal generasi milenial inilah yang saat ini mendominasi angkatan kerja Indonesia.

“Mereka mengharapkan adanya feedback sejalan dengan kinerja mereka. Mereka perlu tahu apakah mereka telah melakukan pekerjaan yang benar atau tidak, apakah mereka berjalan menuju arah yang benar atau sebaliknya. Dan mereka juga sangat ingin tahu perkembangan yang mereka lakukan selama mengerjakan suatu proyek,” demikian ungkap Pierre yang semakin meyakinkan bahwa instant performance review itu sangatlah penting.

Pada praktiknya, instant review ini telah dilakukan oleh perusahaan besar sekelas General Electrics (GE). Raksasa menufakur bidang permesinan tersebut membuktikan bahwa penilaian tahunan tidak lagi relevan dengan generasi milenial. Perusahaan tersebut terbukti mampu melipatgandakan produktivitas lima kali lebih besar hanya dengan merevolusi jangka waktu penilaian mereka, dari tahunan menjadi instan dan berkelanjutan. (*)