Pemerintah ‘Memaksa’ Pekerja Jepang untuk Mengambil Cuti

Ingin dipaksa cuti oleh perusahaan? Mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan di Negeri Sakura. Berdasarkan kebijakan baru yang ditetapkan, seluruh perusahaan di Jepang wajib memastikan seluruh karyawannya mengambil cuti. Kebijakan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi fenomena “karoshi” atau kematian karena terlalu lelah bekerja lembur.

Fenomena karoshi telah menyebar kepada pekerja-pekerja yang masih muda. Berdasarkan data dari tahun 2013, ditemukan bahwa pekerja di Jepang sangat enggan meninggalkan pekerjaan mereka di kantor sehingga mereka hanya memanfaatkan setengah dari jatah cuti mereka.

Baca juga: Hak cuti karyawan dan cuti bersama

Menurut surat kabar Yomiuri,  pemerintah Jepang ingin meningkatkan upah cuti yang tadinya sebesar 48,8% pada tahun 2013, menjadi 70% pada tahun 2020. Dengan kebijakan yang baru ini, diharapkan perusahaan dapat mendorong karyawannya untuk mengambil cuti.

Para pekerja muda di Jepang menghabiskan waktu lembur lebih dari 100 jam perbulannya. Mereka menganggap bahwa jika mereka libur sesaat mereka tidak komitmen dengan apa yang mereka kerjakan. Pada saat ini pekerja di Jepang memiliki hak untuk cuti selama 10 hari setiap tahunnya. Jumlah hari ini akan meningkat seiring lamanya mereka bekerja dengan maksimal 20 hari pertahunnya.

Meskipun Labour Standards Law di Jepang telah mewajibkan perusahaan untuk membayar cuti pekerja mereka, namun sepertinya mereka tidak melakukannya. Jika hal ini diketahui oleh pemerintahan maka perusahaan akan dianggap melanggar hukum.

Baca juga: Karyawan belum berhak cuti, bisa hutang cuti?

Tags: ,