Ingin Karyawan Bahagia, Pulangkan Mereka

Telecommuting atau bekerja dari jarak jauh bisa menjadi hal yang positif bagi perusahaan, pun bisa juga menjadi sumber permasalahan. Bahkan, Marissa Mayer, CEO Yahoo melarang work-at-home di perusahaannya untuk mencegah adanya karyawan yang malas dan tidak produktif.

Bagi karyawan sendiri, telecommuting atau work-at-home sangat difavoritkan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kona/Sodahead.com, sebesar 70% angkatan kerja menginginkan bekerja dari rumah. Dan prosentase itu bertambah besar sebanyak 81% ketika pertanyaan yang sama ditanyakan pada pekerja yang berusia 35-44 tahun.

Lalu, bagaimana kita menerapkan telecommuting yang tepat untuk perusahaan kita? Berikut adalah beberapa tips yang dilansir dari inc.com,

1. Pertimbangkan bahwa telecommuting memungkinkan untuk diterapkan.

Jika perusahaan kita adalah produsen perlengkapan hardware computer, di mana para pekerja harus berdiri di belakang assembly line, telecommuting tentunya sulit dilakukan. Sedangkan jika karyawan kita bekerja dengan computer yang terpisah, telecommuting masih mungkin dilakukan.

2. Tidak harus dilakukan setiap hari

Kadang saat kita mendengar istilah telecommuting, bayangan ita adalah bekerja di rumah setiap hari. Dampaknya adalah karyawan merindukan kantor mereka dan kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan karyawan lain atau orang-orang di sekitar mereka. Sebetulnya, telecommuting dapat dilakukan dua atau tiga hari dalam seminggu. Misal diseragamkan pada hari rabu, sehingga telecommuting tidak berbuntut pada risiko yang merugikan.

3. Telecommuting bukan subtitusi untuk perawatan anak

Kadang orang berpikir bahwa salah satu keuntungan dari adanya telecommuting adalah mereka dapat menghemat biaya perawatan anak yang biasanya dititipkan. Kecuali jika memang perusahaan tempat kita bekerja sangat fleksibel maka jangan sampai hal tersebut terjadi. Perusahaan mungkin dapat melihat fenomena ini dengan sangat jelas, akan tetapi, tidak demikian bagi karyawan. Oleh karena itu, aturan-aturan seperti ini perlu didiskusikan.

4. Jawab pertanyaan, Bagaimana cara berkomunikasi?

Banyak sekali alternatif communication tools yang dapat digunakan selama proses telecommuting berjalan. Bisa dengan email, telepon, skype, IM dan sarana lainnya. Juga apakah kita memerlukan daily report  setiap harinya? Kita yang menentukan. Jika kita menginginkan adanya komunikasi dengan mudah layaknya mereka sedang di cubical, katakan hal tersebut dengan jelas. Jika kita menginginkan laporan harian, katakan juga hal tersebut dari awal.

5. Peraturan ketenagakerjaan masih harus berlaku.

Dalam menerapkan telecommuting pun peraturan-peraturan ketenagakerjaan tidak boleh dilupakan. Utamanya tentang jenis karyawan yang kita pekerjakan. Ada karyawan yang digaji tetap perbulan, ada pula karyawan yang kita gaji berdasarkan jam terbangnya. Untuk itulah, telecommuting menjadi rumit dengan perhitungan-perhitungan tersebut.

6. Hanya bisa diterapkan untuk posisi tertentu

Seorang Oficce Boy (OB) tentunya harus datang ke kantor untuk menjalankan tugasnya dan tidak mungkin dilakukan dengan telecommuting. Tidak semua jenis posisi dapat kita telecommuting-kan. Kita harus mengklasifikasikan posisi apa saja yang dapat dikerjakan dengan cara telecommuting. Beberapa posisi bisa berjalan dengan baik dengan telecommuting sedangkan beberapa yang lain tidak.

7. Jangan terjebak pada gender

Jangan sampai kita memperbolehkan karyawan ibu-ibu untuk bekerja dari rumah karena mereka harus mengurusi keperluan anak-anak untuk sekolah. Sedangkan para pekerja pria kita haruskan masuk ke kantor karena tugas rumah tangga sudah diurus oleh istri . Tentukan betul-betul siapa saja yang boleh bekerja dari rumah berdasarkan pada keperluan perusahaan dari sisi bisnis.

8. Jangan takut mencoba

Ketakutan mungkin akan membayangi kita saat baru memulai menerapkan kebijakan ini. Jangan takut gagal. Pun jika gagal, kita masih bisa membatalkan kebijakan terebut. Setidaknya, dengan mencoba, kita akan tahu strategi seperti apa yang terbaik untuk perusahaan.

9. Penghematan biaya

Jika karyawaan kita 50% bekerja secara telecommuting, maka perusahaan akan memiliki space bangku kosong yang dapat dimanfaatkan oleh karyawan lain. Dan itu menghemat cost perusahaan. Dari sisi karyawan pun, telecommuting membuat mereka berhemat untuk biaya transportasi dan biaya-biaya lain yang biasanya dikeluarkan ketika pergi ke kantor.

Tags: ,