Google Tutup “Program 20%”

google_2026377b

Menurut laporan The Telegraph, Google telah berhenti mengizinkan karyawannya untuk menghabiskan 20 persen dari waktu mereka untuk mengerjakan dan berinovasi di proyek sampingan yang bisa menguntungkan perusahaan.

Sumber di Google mengatakan, gaya manajemen inovasi yang selama ini berkontribusi kepada beberapa produk inovatif Google seperti AdSense, Gmail, Google Transit, Google News dan Google Talk saat ini mulai dikesampingkan. Mulai tahun lalu, jika ada karyawan yang ingin menjalankan waktu khusus 20 persen ini harus meminta persetujuan manajer mereka terlebih dahulu.

Kini para manajer telah memotong waktu 20 persen ini demi menghindari penurunan produktivitas internal. Waktu bebas yang dipergunakan karyawan untuk menyelesaikan proyek-proyek menarik ini, sebelumnya adalah sebagai pusat dari gaya manajemen Google yang lebih santai. Larry Page dan Sergey Brin, dua pendiri Google mengatakan pentingnya gaya manajemen seperti ini pada pertemuan dengan investor di 2004.

Saat itu pasangan pendiri Google ini mengatakan “Kami mendukung karyawan kami – sebagai tambahan dari waktu proyek regular – untuk menghabiskan 20 persen waktu kerja mereka untuk sesuatu yang menguntungkan Google. Hal ini mendorong mereka untuk lebih kreatif dan inovatif. Banyak kemajuan yang kita peroleh, terjadi dengan cara ini.”

Sebuah blog karyawan di 2006 mengklaim bahwa 20 persen waktu ini adalah bagian penting dari filosofi di Google.

Keputusan untuk menjauh dari waktu khusus ini, sesuai dengan tujuan perusahaan yang lebih besar dalam menyelaraskan operasi mereka. Di 2011, ketika Page menjadi CEO, dia mengatakan bahwa dia ingin Google melakukan pendekatan yang lebih fokus.

Google mengatakan bahwa karyawan mereka masih didorong untuk mengejar proyek sampingan tapi tidak mengkonfirmasi bahwa waktu 20 persen ini tetap menjadi bagian resmi dari etos manajemen mereka.

Apple, LinkedIn dan 3M diperkirakan juga mengadaptasi gaya manajemen ini secara internal, tapi tidak menjadikannya sebagai pusat strategi rekrutmen dan branding seperti Google.

Photo Courtesy: The Telegraph

Tags: