Bagaimana Menganalisis Angkatan Kerja Perusahaan?

workforce

DEWASA ini, angkatan kerja menjadi semakin komplek, terutama karena dipicu oleh masuknya Gen-Y dan pesatnya perkembangan teknologi. Departemen HRD dihadapkan pada sebuah tantangan yang tidak mudah, yakni untuk mengoptimalkan kinerja para karyawan yang penuh keanekaragaman tersebut, baik dari sisi usia, budaya dan keberagaman tingkat penguasaan teknologi.

Nah, bagi para praktisi HR yang tengah mengahadapi masalah kaitannya dengan angkatan kerja di perusahaan, saran berikut dari Dave Weisbeck, yang dikutip dari humanresourceiq.com semoga bisa menjadi referensi.


1. Start with the end mind.
Ya, mulailah segalanya dengan sebuah rumusan tujuan yang jelas. Mengenai hal ini, mungkin kita dapat banyak belajar banyak dari nasihat yang dituangkan Steven R. Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”. Selama ini, praktisi SDM terfokus hanya pada bagaimana mereka menyusun peraturan yang baik, menyusun laporan yang sempurna untuk para eksekutif, juga mengukur matriks yang telah mereka buat.

Padahal, jauh dari itu semua, banyak detil-detil yang seharusnya tidak luput dari perhatian. Dengan hanya melihat pada hasil pengukuran, hal-hal krusial lain biasanya akan diabaikan, misalnya saja siapa yang akan menggunakan hasil penelitian tersebut, juga siapa yang seharusnya menggunakan informasi itu, langkah apa yang akan diambil berkenaan dengan hasil pengukuran tersebut.

Tanpa definisi yang jelas mengenai tujuan perusahaan, strategi-strategi yang telah disusun perusahaan, bukan tidak mungkin akan menemui kegagalan. Tips bagi para praktisi SDM, “Komunikasikan segala bentuk ‘goal‘ perusahaan kepada karyawan, dan impementasikan segala bentuk kebijakan tersebut secara real.”

2. Deliver value at every step of the journey.
Menganalisis workforce yang bekerja untuk perusahaan kita, lebih bisa dikatakan sebagai journey (perjalanan), ketimbang destination (tujuan). Jadi penting bagi praktisi SDM untuk mampu memberikan program yang sifatnya stepwise, tahap demi tahap dan memberikan value atau nilai dalam setiap tahapan tersebut.

Memperbaiki performa perusahaan yang awalnya kurang bagus menjadi berkinerja maksimal, tentunya tidak dapat dilakukan hanya dalam sekali lompatan. Itulah kenapa penting bagi departemen SDM untuk menawarkan value-value yang dapat sifatnya membangun perusahaan. Menyampaikan nilai-nilai tersebut bisa dilakukan dengan training, coaching atau dengan komunikasi interpersonal one-on-one.

3. Create transparency.
Seiring dengan perkembangan jaman, dan dengan perubahan metode yang tadinya konvensional menjadi lebih modern, maka semakin banyak karyawan yang menginginkan transparansi informasi. Tantangan bagi perusahaan adalah bagaimana memilah informasi perusahaan yang dapat atau tidak dapat di-share kepada karyawan. Data-data seperti data mengenai karyawan, informasi sensitive perusahaan adakalanya memang perlu dirahasiakan. Akan tetapi, informasi yang memang mendasari lancarnya pekerjaan karyawan harus dijabarkan secara gamblang.

4. Simple is better.
Kita sadari atau tidak, terkadang menulis singkat dan simple itu lebih sulit daripada kita menulis karangan yang panjang. Demikian juga sebuah sistem birokrasi, terkadang untuk membuat birokrasi menjadi lebih simple itu sulit mengingat akan banyak alur dan informasi yang harus di-skip untuk bisa selesai dengan sebuah proses.

Namun, tanpa birokrasi yang simple, lebih banyak waktu dan informasi yang harus dipelajari karyawan sehingga mungkin sekali terjadi overload. Jadi apa yang harus diupayakan perusahaan adalah bagaimana memilah informasi apa yang penting, proses apa yang bisa dimampatkan, sehingga birokrasi yang disusun tidak akan menghambat produktivitas karyawan.

5. Don’t ignore technology.
Teknologi telah banyak berkembang dan bahkan tidak dapat dilepaskan dari ranah dunia kerja. Praktisi SDM pun tidak boleh tinggal diam. Memang, tidak perlu menjadi seorang ahli teknologi, tapi setidaknya praktisi SDM harus mau bersahabat dengan teknologi. Tidak ada salahnya jika kita menunjuk seorang ahli untuk mengajari kita bagaimana menggunakan tknologi yang mendukun proses kerja departemen sumber daya manusia.

Beberapa langkah tersebut, tidak ada salahnya untuk dicoba. Dengan itu, kita bisa menjadi seorang pemimpin yang baik bidang SDM yang dewasa ini semakin komplek tantangannya. (*/tw/image: humanpossibilitypartners.com)

Tags: , , ,