3 Mitos Tentang Open Office yang Perlu Anda Ketahui

Konsep open-office sudah banyak diterapkan dalam perkantoran di Indonesia. Terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kreatif ataupun perusahaan startup. Konsep open-office ini dirasa konsep terbaik untuk meningkatkan kerja sama dan kolaborasi para pekerja. Namun benarkah begitu?

Berdasarkan riset terbaru yang dilakukan oleh Steelcase Inc, suatu perusahaan furnitur kantor, ditemukan bahwa terlalu banyaknya interaksi yang terjadi dan kurangnya privasi dapat menjadi krisis tersendiri di kantor. Hal ini kemudian dapat membunuh kreativitas, produktivitas, engagement pekerja dan kesejahteraan pekerja. Donna Flynn, selaku pemimpin riset mengungkapkan bahwa kebutuhan untuk memiliki privasi, dalam ruang publik sekalipun, merupakan naluri dasar manusia untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. “Semakin sulitnya seseorang bekerja sama, maka semakin pentingnya seseorang membutuhkan waktu untuk sendiri,” ungkap Flynn.

Kenyatannya, berdasarkan riset yang dilakukan, hanya 11% pekerja yang merasa puas dengan lingkungan kerja mereka. Para pekerja merasa bahwa mereka membutuhkan privasi. Pekerja yang kurang memiliki privasi merasa tidak puas dengan lingkungan kerja mereka dan paling kurang engage dengan perusahaan.

Dalam riset ini, Steelcase Inc. juga melakukan riset terhadap mitos-mitos yang berkembang seputar konsep open-office. Apa sajakah mitos tersebut? Simak pemaparannya di bawah ini.

Baca juga: Mengganggu Konsentrasi Kerja Orang lain, Masalah Besar di Kantor

Mitos #1: Konsep open-office dapat menghemat uang perusahaan.

Terlalu mengisolasi pekerja dalam kubikel atau ruang kerja tertutup memang hal yang buruk, namun ruang kerja yang terlalu terbuka pun akan memberikan efek yang sama. “Kami menemukan bahwa kurangnya privasi dapat membuat seseorang merasa terlalu terekspos. Hal ini dapat membuat mereka tertekan. Baik secara kognisi, emosi bahkan kesehatan fisik,” ungkap Flynn.

Mitos #2: Pekerja akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Berdasarkan berbagai macam studi yang pernah dilakukan, diketahui bahwa manusia bukanlah multi-tasker yang baik. Hal ini juga menjadi permasalahan dalam kantor yang mengusung konsep open-office. Ruang kerja yang terbuka artinya memiliki banyak gangguan. Mulai dari bunyi notifikasi jejaring sosial rekan kerja, telepon yang berdering dan sebagainya. Berdasarkan studi yang dilakukan, ditemukan bahwa pekerja akan terganggu setiap tiga menit sekali, baik oleh rekan kerja lainnya ataupun gadget. Selain itu mereka membutuhkan waktu paling cepat 23 menit untuk kembali fokus pada pekerjaan mereka.

Mitos #3: Konsep open-office dapat menghasilkan ide yang lebih brilian.

Kolaborasi merupakan kunci dari proses brainstorming, namun konsep open-office belum tentu menjamin ide yang muncul pun akan brilian. Dalam beberapa kasus, seseorang akan cenderung mengikuti suara terbanyak daripada menyampaikan ide yang mereka miliki sendiri. Hal ini dikemukakan berdasarkan studi yang telah dilakukan.

Setiap hal pasti memiliki dampak positif dan negatif masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita meningkatkan dampak positif itu dan meminimalisir dampak negatif yang akan muncul. Donna Flynn mengungkapkan, “mengubah konsep kantor bukanlah satu-satunya solusi untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Satu hal yang paling penting adalah keseimbangan. Meraih keseimbangan antara privasi para pekerja dan kerja sama antar pekerja adalah hal yang penting dipikirkan oleh perusahaan.”.

Baca juga: 95% Pekerja Butuh Privacy

Tags: