Optimalkan Kinerja Generasi Milenial dengan 7 Strategi Ini

Gen Y

Generasi milenial atau yang sering disebut dengan Gen Y, datang menyeruak ke dunia kerja dengan dibekali oleh seperangkat keterampilan, motivasi dan perspektif tertentu. Keberadaan mereka bahkan sudah mendominasi angkatan kerja di hampir semua negara di dunia.

Gen Y

Generasi ini disebut-sebut sebagai generasi yang produktif dan bangga apabila dapat bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Meskipun belum tentu semua Gen Y memiliki sikap tersebut, tetapi setiap perusahaan harusnya sadar bahwa kemampuan mereka adalah peluang besar untuk perkembangan perusahaan.

Hanya saja, tidak semua perusahaan dapat meraih keuntungan tersebut. Terdapat cara-cara tertentu yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan hasil kerja optimal dari karyawan milenial mereka, seperti dikutip dari fortune.com, antara lain sebagai berikut:

1. Lakukan perubahan

Generasi milenial adalah generasi yang merasa tertantang dengan lingkungan kerja yang melibatkan kreativitas dan perubahan. Mereka tidak menyukai sesuatu yang bersifat statis untuk jangka waktu lama dan selalu berusaha mencari cara untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Sikap seperti ini tentunya berpotensi menjadi asset bagi perusahaan. Oleh karena itu, undanglah karyawan muda tersebut untuk bergabung dalam tim development bisnis dan dorong mereka untuk menyampaikan ide. Jika hal tersebut sudah dilakukan, jangan kaget apabila dari mereka keluar ide-ide yang tidak terduga sebelumnya.

2. Berikan mereka kebebasan/kemandirian

Jangan memberikan arahan terlalu banyak tentang cara menyelesaikan suatu pekerjaan. Generasi millennium tidak terlalu suka banyak campur tangan dari atasan ketika diserahi sebuah tanggung jawab.

Bebas dan bertanggung jawab adalah etos kerja yang sangat disukai Gen-Y yang konon mampu menciptakan sesuatu yang berharga dari sesuatu yang tidak berharga sama sekali. Sebagai atasan atau supervisor, kita tidak perlu melakukan micro-management kepada mereka, berilah ruang bagi mereka untuk merealisasikan inisiatifnya.

3. Keberagaman dalam lingkungan kerja

Generasi Y disebut-sebut sebagai generasi dengan keanekaragaman suku maupun etnis terbesar dibanding generasi-generasi sebelumnya. Konsekuensinya, mereka pun merasa nyaman dengan tempat kerja dan tim yang di dalamnya terdapat keberagaman. Menanggapi hal tersebut, perusahaan perlu menempatkan diri di tengah preferensi mereka tersebut.

Caranya adalah dengan menghargai dan menerima perbedaan SARA di tempat kerja. Terlebih lagi, memiliki keberagaman ide, perspektif dan pengalaman dari karyawan juga merupakan keuntungan tersendiri bagi perusahaan.

4. Ajak mereka berbicara tentang teknologi

Bukan rahasia lagi bahwa sebagian generasi milenial di dunia dekat dengan teknologi. Sebuah riset bahkan mengatakan bahwa satu dari dua orang berusia antara 18-31 tahun lebih rela kehilangan pekerjaan daripada harus terpisah dengan perangkat teknologi digital mereka.

Jadi, ajaklah talent muda Anda untuk berdiskusi tentang teknologi. Akan banyak peluang muncul bahwa mereka akan memberikan ide-ide menarik yang akan membuat performa perusahaan meningkat dengan bantuan teknologi.

5. Tanamkan makna/nilai dalam pekerjaan mereka

Generasi milenial adalah generasi yang terobsesi dengan “makna” atau “nilai” dari apapun yang mereka tekuni. Berdasarkan penelitian yang diselenggarakan oleh Deloitte Milenial Survey 2015, sebagian besar generasi milenial memilih pekerjaan berdasarkan “sense of purpose” atau tujuan utama suatu pekerjaan dilakukan. Mereka ingin sekali membuat perbedaan dan akan dengan mudah pindah ke perusahaan lain jika mampu memberikan makna dalam hidup mereka.

Menyiasati hal tersebut, salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan selalu menghubungkan penugasan yang diserahkan kepada mereka dengan visi dan misi yang diemban perusahaan. Gen-Y akan menggunakan “makna” tersebut sebagai motivasinya dalam bekerja.

6. Berinvestasi pada Pendidikan yang berkesinambungan

Gen-Y yang masuk dunia kerja, adalah generasi yang berpendidikan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Hal ini membuat mereka cenderung senang bekerja dengan bos maupun atasan yang dapat menghargai dan melihat mereka sebagai seorang individu, bukan semata-mata asset. Mereka ingin agar perkembangan kompetensinya juga diperhatikan oleh perusahaan.

Jalan yang bisa ditempuh oleh perusahaan adalah dengan menumbuhkan suasana kerja yang berbasis kekeluargaan. Saling mengingatkan apabila orang lain melakukan kesalahan dan memberikan bimbingan. Sebagai seorang manajer, sebaiknya kita juga mau mendengarkan mereka ketika masalah datang.

7. Memberikan feedback yang jujur secara regular

Salah satu cara lain untuk mengoptimalkan kinerja Gen-Y adalah dengan kesedian memberikan feedback terhadap hasil kerja mereka. Mereka dapat menerima masukan maupun kritik sepanjang itu bersifat konstruktif.

Apabila seorang atasan atau supervisor mengabaikan hal itu, maka karyawan muda tersebut akan merasa diabaikan dan kehilangan koneksi dengan organisasi tempat mereka berkarya. Hasilnya tentu akan berdampak pada motivasi kerja yang turun dan berimbas pula pada produktivitas.

Pada dasarnya, kunci utama dalam memberikan memotivasi karyawan adalah dengan membuat mereka merasa dihargai, diberdayakan dan dilibatkan di tempat kerja, tidak peduli apapun jenis generasinya. Sehingga, ketiga hal tersebut tetap harus menjadi pedoman disamping 7 strategi yang telah disebutkan di atas. (*)